Tiga Dara

Tiga Dara
#31 Triple Date


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 1/2 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–πŸ“–πŸ“–


...***...


Sekarang sudah libur semester. Sissy berhasil naik ke kelas 12 dan akan masuk kelas bahasa.


Rara dan Fahmi sepakat tidak pulang karena di liburan semester ini, Wiwid, Caca, Agung dan Indra akan berkunjung ke tempat Rara.


Mereka sengaja mengendarai mobil baru Wiwid. Indra dan Agung gantian menyetir. Perjalanan menuju kota F memakan waktu sekitar 6 jam. Setelah sampai di kota F, mereka langsung menuju ke penginapan. Mereka sengaja menginap di hotel yang terletak di tengah kota agar lebih mudah menikmati kuliner disana.


"Kalian datang juga akhirnya." Rara dan Fahmi sudah menunggu di lobby hotel.


"Udah lama nunggu ya ?" tanya Wiwid.


"Udah setengah jam." jawab Rara.


"Kamu aja yang datangnya kecepetan dek." Wiwid mengacak rambut adiknya.


"Daripada telat. Iya kan ?" sindir Rara.


"Ayo Kak kita ke kamar. Aku udah pegel nih, pengen tiduran." kata Caca.


"Perasaan sepanjang jalan tidur terus kamu tuh." tegur Agung.


"Dasar tukang molor." ledek Rara.


"Bukan mau tidur tapi tiduran. Pa****ku pegel nih." Caca mengusap pa****nya.


Reflek Agung melihat ke arah pa**** Caca.


"Gak usah dilihatin gitu juga kali Gung." sindir Rara.


"Eh.. maaf Ra. Reflek." Agung salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ini juga, Kenapa ikut lihatin pa**** nya Caca sih ?" Wiwid mencubit Indra, kekasihnya.


"Sorry Yang. Gak sengaja." Indra langsung memeluk Wiwid agar tak marah.


"Kamu sih dek. Jadi bikin heboh aja." protes Rara.


"Udah yuk. Kita ke kamar." kata Caca cuek.


Mereka berenam menuju kamar yang letaknya bersebelahan.


"Cuma 2 kamar Ra ?" tanya Indra iseng.


"Ya iyalah Mas. Emang Mas Indra mau sekamar sama Kak Wiwid ?" tanya Rara sambil menatap tajam pada kekasih kakaknya itu.


"Ya siapa tau boleh." canda Indra.


"Gak boleh !!" Jawab Rara dan Wiwid berbarengan.


"Syukurin. Kasihan deh ditolak sebelum perang." ledek Agung.


"Ya namanya juga usaha. Hehehe." kata Indra sambil tertawa.


"Kita istirahat dulu ya. Nanti agak sore baru kita cari makan ya." kata Rara sebelum menutup pintu kamar para cewek.


"Oke Ra." kata Agung lalu masuk juga ke kamarnya.


Sore harinya mereka berenam sudah siap untuk mencari makan.

__ADS_1


"Ini mobilnya cukup ?" tanya Rara.


"Cukup kayaknya. Kalian terpaksa berdesakan di belakang." jawab Fahmi.


"Ya udah. Mas Indra ikut di belakang ya. Aku temenin Fahmi di depan." kata Agung.


"Iya. Kalo sempit biar Wiwid aku pangku aja." Indra melirik genit pada Wiwid.


"Emang kuat pangku aku ?" tanya Wiwid.


"Secara Kak Wiwid kan semok." Ledek Caca.


"Gak usah dipertegas gitu juga kali dek." gerutu Wiwid.


"Lagian bawa mobil kecil gini." protes Rara.


"Kan pengen nyobain mobil Kak Wiwid yang baru." Caca yang menjawab.


"Udah. Gak usah berdebat. Kita jadi cari makan gak ?" Fahmi coba melerai.


"Iya.. Iya. Yuk masuk." ajak Wiwid.


Akhirnya mereka duduk berdempetan. Bahkan Wiwid duduk sedikit maju, agar cukup untuk mereka berempat.


"Nanti pulangnya aku sama Indra aja yang didepan. Kalian kan lebih kurus, jadi lebih muat. " Kata Wiwid.


"Iya deh. Apalagi besok kita mau ke pantai. Jauh loh perjalanannya." kata Fahmi.


"Apa kita sewa mobil yang lebih besar aja ?" usul Indra.


"Iya deh. Lebih baik gitu. Kamu yang bayar ya sayang." Wiwid membelai pipi kekasihnya.


"Ujung - ujungnya aku juga yang bayar." Indra pura - pura protes.


"Masa gitu aja gak mau ?" rayu Wiwid.


"Ehem.. Kalian gak sendirian loh disini." sindir Rara.


"Maafkan aku adik ipar." canda Indra.


Karena asyik mengobrol dan bercanda, tanpa disadari mereka sudah sampai di tempat makan yang terletak di daerah pegunungan.


"Wah.. Keren nih tempatnya." kata Caca sambil meluruskan kakinya.


"Kita makan di saung yang itu yuk." Rara menunjuk saung yang memiliki pemandangan langsung ke pepohonan rindang.


Semua berjalan mengikuti Rara dan Caca.


Mereka pun memesan makanan sesuai selera masing - masing.


"Yang, suapin." kata Indra merajuk.


"Apaan sih Yang. Kayak anak kecil aja. Malu sama adik - adik tau." protes Wiwid.


"Biarin aja. Mereka juga kan bisa suap - suapan." kata Indra.


"Gak mau ah. Makan sendiri - sendiri aja." tolak Wiwid.


Meski menolak menyuapi tapi Wiwid tetap mengambilkan nasi dan ayam bakar untuk Indra.


"Ini ikannya enak Ca." Agung menyodorkan sendok ke depan mulut Caca.


"Iya Mas. Enak. Aku mau dong." Caca menikmati ikan bakar itu. Agung dengan sigap mengambilkan ikan bakar untuk kekasihnya itu.


"Kamu gak mau ambilin aku makanan juga ?" bisik Fahmi pada Rara.

__ADS_1


"Gak. Ambil sendiri aja." jawab Rara jutek. Rara memang terkenal judes bahkan pada kekasihnya juga. Apalagi saat ini mereka sedang bersama adik dan kakaknya jadi Rara memilih bersikap cuek pada Fahmi.


"Biasa aja kali. Gak usah jutek gitu." gerutu Fahmi.


"Maaf Yang. Aku malu karena ada Kakak dan adikku." bisik Rara merasa tak enak pada Fahmi.


"Iya.. Iya.. Aku paham." Fahmi melanjutkan makannya.


"Sabar ya bro." bisik Agung yang tak sengaja melihat sikap ketus Rara.


'Nasib pacaran sama cewek jutek. Semoga kamu gak gitu ya." Fahmi balas berbisik.


"Dia gak jutek tapi manja dan gak peka." bisk Agung lagi.


"Hahaha. Senasib tapi beda kasus." tanpa sadar Fahmi menertawakan nasib percintaan mereka.


"Kalian kenapa ketawa kayak gitu ?" Rara menatap curiga pada Fahmi dan Agung.


"Gak. Cuma iseng aja. Iya gak Gung ?" jawab Fahmi sambil menyikut sahabatnya itu.


"Kenapa bawa - bawa aku sih ?" gumam Agung dalam hati. Agung hanya mengangguk.


Selesai makan, mereka tak langsung pulang tapi bersantai dulu di saung resto tersebut.


"Keren ya pemandangannya." kata Agung pada Caca yang duduk di sebelahnya.


"Iya. Aku suka banget. Betah deh disini." Caca menyenderkan tubuhnya di bahu Agung. Agung reflek membawa Caca dalam pelukannya.


"Ehem.. Mesra amat." sindir Rara.


"Biasa aja Kak." jawab Caca cuek.


"Kamu kayak gak pernah pacaran aja Ra. Sono tuh peluk cowok kamu." protes Agung pada Rara yang mengganggu suasana romantis mereka.


"Awas ya. Ini adik aku." kata Rara.


"Iya Kakak Ipar. Kasihan tuh sahabat aku melamun sendiri dianggurin." Agung menunjuk pada Fahmi yang duduk melamun sendiri.


Rara lalu mendekat pada Fahmi.


"Beb, kok ngelamun ?" tanya Rara.


"Bosan Yang. Kamu jutek terus sama aku." jawab Fahmi.


"Maaf ya Beb. Aku gak mau salah kasih contoh buat Caca." kata Rara.


"Tapi gak usah jutek juga sama aku. Aku kan jadi sedih." keluh Fahmi.


"Iya Beb. Maaf ya." Rara mencium pipi Fahmi sekilas.


"Iya aku maafin." Fahmi kembali tersenyum.


...***...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2