
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Wiwid sedang bersiap untuk berangkat kerja. Hari ini ada klien baru yang akan memakai jasa mereka. Seorang ayah akan membawa anak nya yang nasih berumur 8 tahun untuk berkonsultasi padanya. Ya, Wiwid bekerja di sebuah yayasan yang fokus pada parenting dan pendidikan pada anak. Meski termasuk psikolog paling muda, tapi Wiwid sudah mempunyai beberapa pasien yang ditanganinya.
"Selamat pagi.." Wiwid menyapa rekan kerjanya dengan ramah.
"Pagi Mbak." balas Iren sang resepsionis.
"Belum datang ya pasiennya ?" tanya Wiwid.
"Belum Mbak. Kan jam 9 janjiannya." jawab Iren.
"Oke. Aku tunggu di ruangan ya Ren." kata Wiwid yang dibalas dengan acungan jempol oleh Iren.
Wiwid masuk ke ruangan sambil membawa secangkir kopi susu.
Dia lalu duduk di sofa sambil membaca sekali lagi berkas calon pasien yang akan ditanganinya.
"Wid.. Apa saya ganggu ?" tanya Bu Elly, pemilik yayasan ini sekaligus salah satu psikolog terkenal.
"Ooh.. Gak kok bu. Silahkan duduk." sambut Wiwid.
"Wid, ini kan ada permintaan dari sekolah internasional buat memberikan konseling rutin. Kamu mau gabung ya ? Kita butuh 4 orang buat konseling disana." kata Bu Elly.
"Hhmm.. Waktunya kapan bu ? Cuma sekali kan ?" tanya Wiwid.
"Lusa kita perdana ke sekolah itu. Nanti akan rutin sebulan sekali." jawab Elly.
"Sebentar bu.." Wiwid membuka agenda nya.
"Bisa bu. Jadwal saya lusa kosong." lanjut Wiwid.
"Alhamdulilah. Baiklah kalo gitu. Saya mau nemuin yang lain dulu. Kamu lanjut kerja ya. Pertahankan kinerja kamu. Saya dapat komen positif dari pasien." kata Bu Elly.
"Makasih Bu." balas Wiwid sambil menunduk sopan.
Sekitar pukul 10 calon pasien yang akan Wiwid tangani datang.
"Selamat pagi Bu Widya." sapa seorang lelaki.
"Selamat pagi Pak." balas Wiwid.
"Maaf ya bu kami terlambat. Tadi Chika sempat menolak diajak kesini." kata lelaki itu.
__ADS_1
"Oh iya Pak. Tidak apa - apa. Silahkan duduk." Wiwid mempersilahkan mereka.
Lelaki tadi diiukti oleh anak perempuannya duduk di sofa di ruangan itu.
"Halo.. Apa kabar ? Siapa nama kamu ? Saya Widya." Wiwid menyapa sang anak.
Anak itu hanya diam sambil menyembunyuikan diri di belakang sang Ayah.
"Kamu gak mau kenalan sama saya ? Ini saya punya biskuit dan chiki loh." Wiwid coba mengajak sang anak berbicara.
Lama kelamaan anak itu pun mau menanggapi Wiwid.
"Chika." jawabnya sambil menyambut uluran tangan Wiwid.
"Hai Chika.. Kamu boleh pilih sendiri makanan yang kamu mau." Wiwid mengeluarkan makanan ringan dan biskuit yang tersusun rapi di sebuah kotak.
"Sebenarnay Chika kenapa Pak ?" tanya Wiwid pada Hedi, ayah Chika.
"Dia tuh sering di bully sama temennya di sekolah karena tidak ada Ibunya. Dia juga sering dipaksa traktir teman - temannya." jawab Hedi.
"Maaf Pak. Ibu nya kemana ya ?" tanya Wiwid hati - hati.
"Ibunya pergi saat dia masih bayi. Sekarang saya dengar dia sudah meninggal karena kecelakaan." jawab Hedi sambil menundukkan kepalanya.
"Saya mohon maaf akan hal itu Pak. Jadi sejak kecil Chika diasuh oleh siapa ?" tanya Wiwid lagi.
"Saya yang mengasuh dibantu oleh Ibu dan kakak ipar saya. Bahkan kakak ipar saya yang menyusui dia." Hedi mulai mengangkat wajahnya dan menatap Wiwid lekat.
"Saya dokter Bu. Alhamdulilah saat Chika lahir saya sudah mengambil spesialis. Saya bekerja di beberapa rumah sakit. Semenjak Ibu nya Chika pergi, saya buka praktek sendiri di rumah." jawab Hedi.
"Jadi Bapak hanya buka praktek di rumah ?" Wiwid masih bertanya.
"Iya. Tapi memang jam kerja saya fleksibel, hanya seminggu 3 kali. Selain itu saya juga memiliki bisnis kecil - kecilan yang lain." Hedi menjelaskan.
"Apa itu Pak kalo saya boleh tahu ?" tanya Wiwid lagi.
"Ada franchise bisnis minuman kekinian. Sudah ada beberapa cabang di kota ini." jawab Hedi.
"Ooh.. Dokter.. Udah ganteng, dokter, pengusaha lagi.." gumam Wiwid dalam hati.
Wiwid merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dokter Hedi.
"Baiklah Pak. Saya rasa saya sudah banyak dapat info dari Bapak. Sekarang saya mau ngobrol berdua sama Chika. Bapak bisa tunggu di luar." kata Wiwid.
Hedi pun berjalan keluar ruangan setelah sebelumnya pamit pada Chika hendak ke kamar kecil sebentar.
"Hai Chika.. Kamu suka makanannya ?" tanay Wiwid pada Chika yang masih sibuk makan biskuit. Chika hanya mengangguk tanpa menatap Wiwid.
"Chika.. Tante punya minuman segar buat kamu ? Kamu mau ?" tanya Wiwid lagi.
__ADS_1
"Mau Tante.." Chika menatap pada Wiwid.
"Yuk, kita ke kulkas sebelah sana. Kamu bisa milih sendiri." Wiwd menggandeng tangan Chika. Chika pun mengikuti Wiwid menuju ke kulkas. Lalu dia memilih sendiri minuman yang disukainya.
"Chika.. Tante boleh tanya ?" Wiwid memegang tangan Chika. Chika menatap padanya sambil mengangguk.
Wiwid pun mengajukan beberapa pertanyaan yang dibalut oleh candaan pada Chika. Semakin lama akhirnya Chika mulai terbuka pada Wiwid. Hingga tak terasa sudah 2 jam mereka mengobrol.
"Wah.. Udah siang nih. Chika mau nemenin Tante makan siang gak ?" tanya Wiwid.
"Mau Tante. Sama Ayah juga ya ?" balas Chika.
"Boleh. Kamu ajak Ayah kamu ya." kata Wiwid.
Chika berlari keluar ruangan menemui Ayahnya.
"Yah, ayo kita makan siang sama Tante dokter." ajak Chika.
"Makan siang ? Sama Tante dokter ?" Hedi kebingungan dengan ucapan anaknya.
"Iya Pak. Mari kita makan siang bersama." Wiwid keluar dari ruangan.
"Iya Bu. Mau makan dimana ?" tanya Hedi.
"Panggil Widya aja Pak. Jangan Ibu." kata Wiwid pelan.
"Kalo gitu kamu juga panggil saya nama saja ya." balas Hedi.
"Gimana kalo kita makan di k** ?" Wiwid menyebutkan restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam gorengnya.
"Asik.. Chika mau Yah.." Chika terlihat bahagia.
"Boleh. Yuk." Hedi menggandeng tangan Chika. Chika pun langsung menggandeng tangan Wiwid dengan tangan satunya yang kosong.
Mereka bertiga pun menuju ke restoran cepat saji yang letaknya di seberang yayasan tempat Wiwid bekerja. Ketiganya terlihat seperti keluarga bahagia.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung