
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Wiwid dan Hedi sudah kembali ke kota C. Mereka sudah kembali beraktivitas secara normal meski kondisi Hedi masih belum pulih total.
"Yang, maafin aku ya." kata wiwid saat mereka berdua sedang duduk santai sambil mengawasi Ifa yang sedang bermain.
"Maafin kenapa sayang ?" tanya Fahmi.
"Maaf aku gak bisa kasih kamu anak lagi." jawab Wiwid.
Ya saat kecelakaan itu, perut Wiwid sempat tertusuk sehingga rahim Wiwid rusak dan harus diangkat.
*flashback on*
"Yeay.. Hampir sampai." Chika tampak girang saat melihat lampu rest area di depannya.
Saat hendak berbelok ke rest area, tiba - tiba mobil mereka di tabrak dengan sangat keras dari arah kiri. Hingga mobil terbalik dan terlempar ke sebrang jalan.
"Aaw.. Ayah..." teriak Wiwid sambil memeluk si kecil Ifa yang mulai menangis kencang.
"Mas.. Kamu gak apa ?" Wiwid mencoba mengguncang suaminya tapi tak ada jawaban.
"Chika.. Kamu gak apa ?" tanya Wiwid sambil mencoba menengok ke belakang.
Belum sempat menoleh ke belakang, pandangan Wiwid mulai kabur. Wiwid merasakan perih dari perutnya. Dilihatnya perutnya sudah tertusuk besi. Wiwid akhirnya tak kuasa membuka matanya, hanya terdengar suara tangis Ifa dan suara berisik orang - orang dari luar mobil.
Wiwid, Hedi, Chika dan Ifa langsung dibawa oleh ambulance ke rumah sakit terdekat.
"Dok, ini ada besi yang menancap di perut korban." kata suster.
"Kita harus segera operasi. Apa keluarga korban ada disini ?" tanya dokter.
"Belum datang dok." jawab suster.
"Ya sudah kita tunggu sampai mereka datang." kata dokter.
"Ini korban laki - laki nya juga mendapat benturan di kepala." kata suster.
"Anak - anaknya gimana ?" tanya dokter.
"Yang besar ada patah di kakinya. Sedangkan yang kecil hanya lecet saja." jawab suster.
"Ya sudah kamu urus mereka dulu. Sambil kita siapkan ruang operasi." perintah dokter.
"Siap dok." balas suster.
Setengah jam kemudian, suster kembali menemui dokter.
"dok, keluarga korban sudah datang." lapor suster.
__ADS_1
"Baik. Biar saya temui." kata Dokter.
"Keluarga Pak Hedi ?" panggil suster.
"Iya dok." Marini dan Herfan mendekat.
"Ini ada masalah pada korban yang harus segera diambil tindakan operasi. Pak Hedi mengalami benturan di kepalanya. Sedangkan Bu Widya tertusuk perutnya. Kami minta ijin untuk mengoperasi mereka." kata dokter.
"Silahkan dok. Lakukan yang terbaik untuk anak dan menantu saya." kata Marini.
"Satu lagi. Untuk Bu Widya, ada tsuukan yang cukup dalam. Sepertinya kami harus mengangkat rahimnya." lanjyt dokter.
"Masha Allah. Kenapa bisa sampai begitu." pekik Marini.
"Jadi gimana Bu ?" dokter menunggu persetujuan dari Marini. Marini menatap pada Herfan seolah meminta pendapat.
"Lakukan saja yang terbaik dok. Kami yang akan menjelaskan pada mereka." Herfan yang menjawab.
"Maaf, bapak ini dengan siapanya korban ?" tanya dokter.
"Saya kakak Hedi. Widya adik ipar saya. Kedua orangtua Widya juga sedang dalam perjalanan kemari." jawab Herfan.
"Baiklah." dokter dan suster lalu meninggalkan Marini dan Herfan.
"Ya Allah Nak. Kasihan Wiwid." kaat Marini.
"Iya Bu. Tapi ini semua sudah jalan yang diberikan oleh Allah. Kita harus menerimanya." Herfan coba menguatkan Ibunya. Saat Orangtua Wiwid datang, Herfan menceritakan semua tindakan yang akan diambil oleh dokter. Keduanya pasarah dan ikhlas. Hingga akhirnya operasinya berjalan lancar. Baik Hedi maupun Wiwid dinyatakan stabil. Tapi keduanya masih dalam kondisi koma.
Malam itu juga ketika Arman dan Yesa datang, mereka langsung memindahkan Wiwid dan Hedi ke rumah sakit di kota B.
"Ma, perut aku abis dioperasi ya ?" tanya Wiwid lirih.
"Iya sayang. Kan kemarin perut kamu tertusuk." jawab Yesa.
"Tapi ini sakit banget Ma." keluh Wiwid.
"Kak, akmu yang sabar ya. Rahim kamu harus diangkat." kata Yesa.
"Apa Ma ? Kenapa gitu ? Terus aku gak bisa punya anak lagi ?" Wiwid mulai menangis histeris.
"Iya sayang. Perut kamu tertusuk dan kena rahim kamu. Kamu yang sabar ya." Yesa memeluk putri sulungnya.
"Mas Hedi gimana Ma ?" tanya Wiwid lagi.
"Hedi masih belum sadar. Tapi kondisinya stabil." jawab Yesa.
"Aku mau lihat Mas Hedi." kata Wiwid.
"Nanti dulu sayang. Jangan bangun dulu. Mama tanya suster dulu." kata Yesa.
Suster lalu mengantar Wiwid ke ruangan Hedi dengan kursi roda.
"Mas, Kamu cepet bangun ya. Kita kumpul lagi seperti semula." Wiwid menggenggam tangan suaminya. Tak ada respon apapun dari Hedi.
"Mas, Aku sedih.. Aku gak bisa kasih kamu anak lagi. Rahim aku diangkat Mas." keluh Wiwid sambil menciumi tangan suaminya. Masih belum ada respon dari Hedi.
__ADS_1
"Mas, aku harus bagaimana ? Akmu harus bangun dan temani aku. Aku gak sanggup hidup tanpa kamu." Wiwid kembali menangis.
Selama 2 hari dia terus mendatangi dan mengadu pada suaminya meski tak mendapat tanggapan. Hingga hari ketiga. Ada pergerakan pada tangan Hedi.
"Mas, kamu denger aku ?" Wiiwd menatap suaminya. Tangannya sempat digenggam oleh Hedi. Wiwid lalu memencet tombol untuk memanggil suster.
"Ada apa Bu ?" suster datang.
"Tangan suami saya tadi bergerak sus." adu Wiwid.
"Sebentar biar kami cek dulu." suster itu mendekati Hedi dan memeriksanya. Tak lama dokter datang bersama suster lainnya.
"Tolong Ibu tunggu di luar dulu. Kami akan periksa pasien." kata suster. Wiwid keluar dari ruang ICU dan menunggu.
"Gimana dok ?" tanya Wiwid ketija dokter keluar dari ruangan.
"Alahmdulilah pasien sudah sadar. Tapi saat ini sedang dilakukan tindakan. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan. Ibu silahkan tunggu." kata dokter.
"Bu, tolong diurus dulu berkasnya ya." kata suster.
"Biar saya aja sus." kata Arman.
Akhirnya Hedi dipindah ke ruangan dan ditempatkan satu kamar dnegan Wiwid.
*flashback off*
"Hush.. Kamu kok ngomong gitu sih. Ini bukan salah siapa - siapa. Ini semua sudah takdir dari Allah. Lagian kita kan udah punya Chika dan Ifa. Itu sudah lebih dari cukup." Hedi memeluk istrinya erat. Sebenarnya Hedi sudah tau hal ini dari Herfan. Tapi Hedi menunggu Wiwid untuk bercerita langsung padanya. Sedih oasti, tapi Hedi gak mau larut dalam sedih berkepanjangan. Dia juga gak mau istrinya terbebani.
"Tapi kan Mas katanya pengen anak cowok." kata Wiwid lagi.
"Itu kan kalo bisa. Kalo gak ya kita nanti juga akan punya mantu cowok." Hedi coba menenangkan istrinya.
"Iya Mas. Aku masih merasa bersalah." kata Wiwid.
"Kamu nih minta maaf terus. Harusnya yang bersalah itu aku, aku yang udah bikin kamu celaka." kata Hedi.
"Bukan gitu Mas. Tapi..." Wiwid coba menjelaskan.
"Udah sayang. Lebih baik hal ini gak usah dibahas. Kita fokus aja dengan 2 anak kita." Hedi mengusap lembut lengan Wiwid.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
__ADS_1
Bersambung