Tiga Dara

Tiga Dara
#120 Kencan Pertama


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


Caca sudah bersiap untuk pergi bersama Bima. Dengan memakai kaos hitam, jaket hitam, celana warna coklat dan sneaker, Caca merasa penampilannya sudah pas.



(Source : google)


"Wah.. Kamu cantik banget dek." puji Yesa.


"Biasa aja Ma. Kayak biasanya kok." elak Caca.


"Ah kamu mah suka merendah aja." goda Yesa.


"Apaan sih Ma. Gak usah lebay deh. Biasanya Caca juga pake kayak gini." balas Caca.


Yesa urung berkomentar lagi ketika terdengar suara ketukan di pintu.


"Assalamualaikum." terdengar salam dari luar pintu.


"Waalaikumsalam. Nak Bima. Ayo masuk dulu." Sambut Yesa.


"Iya Tante. Caca udah siap ?" tanya Bima.


"Udah. Bentar ya tante panggilkan. Kamu mau minum apa ?" Yesa balik bertanya.


"Gak usah tante. Saya mau ngajak Caca keluar." jawab Bima.


"Oh iya. Tante panggilkan Caca dulu." Yesa lalu meninggalkan Bima sendirian di ruang tamu.


Dihampirinya Caca yang sedang memakai sepatunya.


"Tuh.. Bima udah datang." kata Yesa.


"Iya Ma. Caca pergi dulu ya." Caca mencium punggung tangan Yesa.


"Iya. Have fun ya. Jangan judes - judes." balas Yesa.


Caca hanya tersenyum menanggapi ucapan Sang Mama.


"Hai Bim. Langsung berangkat ?" ajak Caca.


"Mama kamu mana ? Saya mau pamit." tanya Bima.


"Iya. Silahkan kalau mau pergi. Pulangnya jangan terlalu malam ya." Yesa muncul di sebelah Caca.


"Baik Tante. Saya permisi dulu. Assalamualaikum." Pamit Bima sambil tak lupa mencium punggung tangan Yesa.


"Waalaikumsalam." balas Yesa lalu mengikuti Caca dan Bima keluar rumah.

__ADS_1


"Kita mau kemana ?" tanya Bima.


"Bentar aku lihat map dulu. Kita ke mau makan aja atau sekalian wisata ?" Caca balik bertanya.


"Makan ajalah. Sekalian ngobrol - ngobrol." jawab Bima.


"Ya udah kita makan dulu terus lanjut nongkrong di taman buat ngobrol." kata Caca.


"Oke." balas Bima lalu kembali fokus menyetir.


Mereka berhenti di sebuah warung makan yang menyediakan berbagai hidangan khas kota itu.


Caca dan Bima memesan beberapa makanan untuk dinikmati bersama.


"Hhmm.. Ini enak banget Ca. Saya suka." kata Bima sambil fokus menikmati makanannya.


Caca hanya tersenyum menatap lelaki yang dijodohkan dengannya itu.


Selesai makan, Bima mengajak Caca menuju ke sebuah taman di tengah kota.


"Hhmm.. Saya kenyang banget. Makasih ya udah ajak ke warung tadi." kata Bima.


"Iya. Emang disana makanannya top banget." balas Caca.


Hanya dalam waktu singkat keduanya sudah sangat akrab dan nyambung.


"Aku kira kamu tuh kaku orangnya." kata Caca saat mereka sedang menikmati suasana sore di taman.


"Ternyata.. ?" tanya Bima sambil tersenyum.


"Ternyata gak juga. Cuma casingnya aja kaku ternyata aslinya asik juga." jawab Caca tanpa basa basi.


"Kenapa gitu ?" kali ini gantian Caca yang bertanya.


"Ya gak mau salah pilih cewek aja. Saya gak suka kalo dinilai dari penampilan saja." jawab Bima.


"Hhmm.. Takut salah pilih cewek sampai gak sadar udah umur 30 lebih ya ?" sindir Caca.


"Hehehe.. Iya. Tapi kan masih ada mau sama saya." balas Bima dengan percaya diri.


"Siapa ? Aku gitu ? Kepedean. Udah tua masih narsis." Caca mencubit lengan Bima.


"Auw.. Sakit !! Saya tuh bukan tua tapi dewasa." ralat Bima.


"Iya deh yang dewasa. Sampai hampir kadaluarsa." ledek Caca.


"Cowok mah gak ada kadaluarsanya." Bima mengelak.


"Iya deh iya. Terserah kamu aja." Caca memutus perdebatan itu. Lalu keduanya terdiam dan larut dalam pikiran masing - masing.


"Ca.. Jadi kita gimana nih sekarang ?" tanya Bima memecah keheningan.


"Maksudnya ?" Caca balik bertanya.


"Ya hubungan kita gimana ? Dilanjut atau gak ?" Tanya Bima lagi.

__ADS_1


"Ya terserah kamu aja. Kalo kamu mau lanjut ya lanjut." jawab Caca.


"Hhmm.. Kamu mau kan lebih dekat sama saya lagi ?" Bima memberanikan diri memegang tangan Caca.


"Mau. Tapi ada satu hal yang aku minta kamu rubah." kata Caca.


"Apa ? Jangan bilang penampilan. Kalo itu saya gak mau, udah nyaman seperti ini." Kata Bima.


"Bukan. Ganti kata saya dengan aku atau apalah." kata Caca.


"Hhmm.. Terlalu kaku ya. Oke. Mulai sekarang kita saling panggil sayang." Bima memutuskan.


"Ogah kalo itu mah. Lebay. Yang biasa ajalah." tolak Caca.


"Trus apa dong ?" tanya Bima.


"Apa ya ? Bentar aku mikir dulu." kata Caca.


Keduanya kembali terdiam.


"Ca.. Gimana kalo panggil Ai. Nama depan kamu kan Raisa, nama depanku Haikal. Ada unsur Ai. Itu aja." usul Bima.


"Hhmm.. Agak lebay sih." kata Caca.


"Atau kamu aku panggil Hai, trus aku panggil Rai." Bima kembali mengusulkan.


"Gak ah. Gak enak didengarnya." tolak Caca.


"Ya udah terserah kamu aja deh." Bima mulai menyerah.


"Gini aja deh. Aku panggil kamu Abang. Kamu panggil Adek." kata Caca.


"Kan keluarga kamu juga oanggilnya Adek. Aku panggil kamu Rai aja ya ?" kata Bima.


"Iya deh. Boleh." Caca akhirnya setuju.


"Oke Rai. Sekarang kita kemana ?" tanya Bima.


"Pulang aja deh Bang. Udah mau malem." jawab Caca sambil tertawa kecil.


Akhirnya keduanya meninggalkan taman.


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2