Tiga Dara

Tiga Dara
#57 Kehilangan


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


"Ra, Mama kamu kan mau datang besok. Kalo Mama lihat kondisi kamu kayak begini gimana dong ?" tanya Fahmi.


"Gak tau Yang. Semoga Mama gak ngeh kalo aku lagi hamil ya." Rara pasrah dengan kondisinya.


"Kamu masih suka mual ?" tanya Fahmi.


"Masih." jawab Rara.


"Semoga selama Mama kamu disini, gak mual - mual lagi Yang." kata Fahmi.


"Semoga ya Yang." balas Rara.


Keesokan harinya, Rara dan Fahmi menjemput Yesa di Stasiun.


"Sayang, apa kabar kamu ?" Yesa memeluk erat putri keduanya itu.


"Baik Ma." jawab Rara.


"Tante, gimana kabarnya ?" Fahmi menyapa Yesa dan mencium tangannya.


"Mama Baik Fahmi. Kamu gimana ?" Yesa balik bertanya.


"Baik dan lancar semuanya." jawab Fahmi.


"Syukurlah. Kamu kok gemukan Sayang ?" Yesa memandangi Rara.


"Masa sih Ma ?" Rara sedikit panik.


"Kebanyakan ngemil kayaknya Tan." Fahmi menimpali.


"Mama pasti capek. Kita langsung ke kosan ya." Rara menggandeng tangan Yesa. Yesa mengikuti langkah sang putri. Feelingnya sebagai seorang ibu merasakan ada sesuatu yang berubah pada Rara. Tapi Yesa tak ingin membahasnya sekarang di tempat umum seperti ini. Yesa sedikit melirik pada Fahmi yang berjalan sedikit menunduk di belakang mereka sambil membawakan tas koper Yesa.


"Ada apa dengan mereka. Kenapa sikap mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu." gumam Yesa dalam hati.


Sudah 2 hari Yesa di kosan Rara, selama 2 hari itu, Rara masih bisa menahan rasa mualnya. Tapi tidak pagi itu.


"huek...huek..." terdengar suara Rara muntah di kamar mandi.


Yesa menunggu sang putri keluar, dia harus menanyakan kecurigaannya.


"Kamu kenapa Ra ? Kok mual - mual gitu ?" tanya Yesa.


"Cuma masuk angin kok Ma." jawab Rara sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


"Kamu yakin gak bohong sama Mama Ra ?" pancing Yesa.


"Kenapa Mama gak percaya sama aku ? Emang aku gak boleh masuk angin Ma ?" Rara mulai menangis terisak.


"Mama lihat kamu sedikit gemukan, ditambah lagi ada mual - mual dan lemas gitu. Jangan sampai kecurigaan Mama terbukti ya Ra." Yesa berkata lembut tapi membuat Rara tertampar.

__ADS_1


Rara menangis semakin kencang mendengar ucapan Yesa.


"Ra.. Cerita sama Mama. Kamu harus jujur, biar Mama bisa bantu masalah kamu." Yesa mengusap lembut punggung Rara.


"Ma.. Maafin Rara.." Rara masih menangis.


"Mama akan selalu maafin dan dukung kamu." kata Yesa.


"Aku hamil Ma.." kata Rara dengan suara tercekat.


"Apa Ra ? Kok bisa ? Sama siapa ?" Yesa memberondong Rara dengan banyak pertanyaan.


"Rara dan Fahmi khilaf Ma. Kami melakukan hanya sekali tapi ternyata membuat aku hamil." Rara menceritakan.


"Ya ampun Ra. Mama gak nyangka kalian bisa berbuat seperti itu." Yesa menggelengkan kepalanya.


"Maafin Rara Ma. Rara gak tau harus gimana. Rara masih ingin kuliah." Rara berkata memelas pada Yesa.


"Kamu suruh Fahmi kesini. Dia harus bertanggung jawab." titah Yesa.


"Iya Ma." Rara mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Fahmi.


*tok..tok..tok..*


Tak lama Fahmi datang ke kosan Rara.


"Duduk Fahmi. Kamu juga Ra." kata Yesa.


Lalu Yesa duduk di hadapan mereka.


"Ada apa ya Tante ?" tanya Fahmi.


"Maafkan Fahmi Tante. Fahmi sudah khilaf." Fahmi masih menunduk.


"Terus kalian maunya gimana ?" tanya Yesa.


"Maksud Mama ?" Rara balik bertanya. Yesa balas menatap tajam pada Rara dan Fahmi.


"Saya siap bertanggung jawab Tante." jawab Fahmi.


"Tapi aku belum mau nikah Ma. Aku mau selesaiin kuliah dulu." Rara mengemukakan keinginannya.


"Tapi Yang. Bayi ini gimana ?" Fahmi menatap Rara dengan lembut.


"Aku belum siap punya anak." Rara mulai terisak.


"Jadi kalian maunya gimana ? Mama akan bantu kalian. Mumpung Papa belum tau." tanya Yesa lagi.


"Saya terserah Rara aja Tante." kata Fahmi.


"Tolong jangan kasih tau Papa ya Ma. Rara gak mau bayi ini." pinta Rara.


"Dengan berat hati Mama akan bantu kamu. Mama juga akan rahasiakan ini dari Papa dan yang lainnya. Jadi ini rahasia kita bertiga. Paham ?" kata Yesa.


"Iya Ma. Makasih Ma." Rara memeluk Yesa erat.


"Iya Tante. Saya siap dengan keputusan kalian." lanjut Fahmi.

__ADS_1


"Fahmi, Tante minta kamu jangan pernah tinggalin Rara apapun yang terjadi. Bagaimanapun dia sudah gak perawan gara - gara kamu. Kalian harus tetap bersama sampai menikah nanti." Yesa berkata tegas pada Fahmi.


"Saya janji akan tetap bersama Rara." kata Fahmi sungguh - sungguh.


"Baiklah. Mama akan cari info tempat menggugurkan kandungan disini." kata Yesa.


3 hari kemudian Yesa, Rara dan Fahmi menuju tempat aborsi.


"Pagi Bu. Pasien sudah siap ?" tanya dukun beranak itu.


"Siap Bu. Ini anaknya." jawab Yesa.


"Mari ikut saya Dek." kata dukun beranak itu.


Yesa mendampingi Rara yang sedang ditangani oleh dukun beranak itu, sedangkan Fahmi menunggu di luar.


Dukun beranak melakukan proses pengeluaran janin itu dengan cepat. Beruntung usia kandungan Rara masih muda, jadi tidak menimbulkan pendarahan yang hebat.


"Sudah selesai Bu, Mbak." Dukun beranak membawa keluar baskom berisi gumpalan darah yang merupakan janin Rara.


"Ma, jadi anak aku udah gak ada ?" tanya Rara lemah.


"Iya Sayang. Ini kan kemauan kamu." jawab Yesa sambil mengusap kepala Rara dengan lembut. Rara hanya terdiam dengan tatapan kosong.


"Ini anak saya gak apa - apa Bu ?" tanya Yesa pada dukun beranak.


"Gak apa - apa Bu. Udah bagus kok, gak ada pendarahan hebat juga. Mungkin dia masih lemas saja." jawab dukun beranak dengan tenang.


"Aku lega tapi aku merasa kehilangan juga. Maafin Mama Nak. Sudah membuang kamu sebelum kamu lahir." gumam Rara sambil termenung.


30 menit kemudian, Rara dan Yesa sudah keluar dari kamar bersalinnya.


"Bu, ini jamu nya tolong diminum secara rutin selama seminggu ini ya. Kalo ada pendarahan, segera bawa ke rumah sakit." kata dukun beranak itu.


"Iya Bu. Terima kasih banyak." Yesa mengambil bungkusan jamu sembari menyelipkan amplop berisi uang.


"Kalian harus menjaga diri ya Nak. Jangan sampai hal ini terulang lagi." nasehat dukun beranak sebelum mereka pergi.


"Iya Bu. Terimakasih. Permisi." pamit Rara.


Fahmi pun ikut pamit sambil menopang tubuh Rara yang masih lemah. Mereka menuju ke mobil yang terparkir di halaman rumah dukun beranak itu.


"Hhmm.. Anak jaman sekarang pergaulannya sungguh bebas. Padahal cantik, ganteng dan terlihat dari keluarga berada. Maafkan hamba Tuhan. Sudah melakukan kejahatan sekali lagi." gumam dukun beranak sambil memandang kepergian mereka.


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2