Tiga Dara

Tiga Dara
#107 Suka dan Duka


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


"Ma, Mama lagi ngapain sih ? Dari tadi mondar - mandir terus ?" tanya Rara.


"Mama lagi nungguin kakak kamu. Kok belum datang juga ya ? Katanya berangkat sore. Harusnya kan jam segini udah datang." jawab Yesa.


"Mungkin masih di jalan. Atau diundur besok pagi berangkatnya." Rara coba menenangkan Yesa.


"Perasaan Mama gak enak Ra. Gak biasanya dia kayak gini. Kalo berubah jadwal juga biasanya ngabarin." Yesa masih mondar - mandir di ruang tamu.


"Ma, duduk dulu aja. Rara jadi pusing lihat Mama mondar - mandir." kata Rara sambil mengusap perut buncitnya. Keandungan Rara sudah memasuki 9 bulan, tinggal tunggu waktu aja.


Yesa akhirnya duduk di samping putrinya. Lalu dia coba menghubungi Wiwid dengan ponselnya.


"Gak diangkat Ra. Papa sama Fahmi juga lama banget perginya." gerutu Yesa.


"Kan Papa sama Fahmi emang lagi ke rapat di balai RW Ma." Rara mengusap bahu Yesa agar lebih tenang.


"Aduh.. Kemana sih mereka ?" Yesa berulang kali menghubungi ponsel Wiwid tapi gak diangkat bahkan sekarang jadi tidak aktif.


"Coba telpon ponsel Mas Hedi Ma." Rara mengusulkan.


"Oh iya. Bentar." Yesa lalu menghubungi menantunya itu.


"Gimana Ma ?" tanya Rara.


"Nyambung. Tapi belum diangkat." jawab Yesa.


"Halo.. Loh.. Mana menantu saya ?"


"......."


"Astagfirullah. Gimana kondisi mereka ?"


"......."


"Ya ampun. Dimana ?"


"......."


"Baiklah. Saya nitip dulu ya pak. Nanti saya sama suami saya langsung kesana."


"....."


"Saya kan di kota B jadi butuh waktu juga."


"....."


" Iya."


Yesa lalu mengakhiri panggilannya.


"Kakak kenapa Ma ?" tanya Rara.


"Kakakmu kecelakaan. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit." jawab Yesa pelan.


"Mama mau kesana ?" tanya Rara lagi.


"Iya. Tapi Mama tunggu Papa dulu. Mungkin bentar lagi pulang." Yesa lalu pergi meninggalkan Rara menuju ke kamar.

__ADS_1


"Rara ikut ya Ma." Rara menghampiri Mamanya yang sedang menyiapkan baju untuk dibawa.


"Jangan Sayang. Takutnya kamu malah melahirkan di jalan. Kamu disini aja sama Fahmi ya." cegah Yesa.


"Tapi aku mau lihat Kakak juga." Rara ciba memaksa.


"Jangan dong sayang. Nanti Mama pasti kabari kondisi kakak." Yesa mengelus kepala Rara.


"Ada apa ini ? Papa kasih salam gak ada yang jawab." Arman datang bersama Fahmi.


"Pa.. Kakak..." Rara tak kuasa menyampaikan kabar itu.


"Wiwid kenapa ?" Arman mulai panik.


"Wiwid dan Hedi kecelakaan di jalan tol Pa. Kita harus segera lihat mereka di rumah sakit." Yesa menyampaikan.


"Apa ? Ayo kalo gitu. Mi, kami pinjam mobil kamu ya. Mobil Papa lagi di bengkel." kata Arman.


"Iya Pa. Aku antar aja sekalian." kata Fahmi.


"Jangan. Kamu temenin Rara, takutnya dia melahirkan." cegah Yesa.


"Iya deh. Papa sama Mama hati - hati ya." kata Fahmi.


"Kabari kalo sudah sampai. Rara mau tau kondisi kakak." pesan Rara.


"Iya sayang. Kalian hati - hati juga di rumah. Jangan sampai stress." Yesa memeluk Rara.


Sudah 3 jam Yesa dan Arman pergi tapi hingga saat ini Rara belum mengetahui kabar kondisi kakak dan keluarganya.


"Sayang, kamu duduk aja dulu. Janagn kayak gitu." kata Fahmi.


"Aku masih kepikiran sama Kakak. Gimana ya kondisinya." balas Rara.


Tak lama ponsel Rara pun berbunyi...


"Halo Ma.."


"......"


"Astagfirullah."


"....."


"Ooh.. Gitu. Iya Ma. Kalian hati - hati di jalan."


"....."


"Iya Ma iya. Rara tidur abis ini."


"....."


"Waalaikumsalam."


Fahmi menatap pada Rara yang sudah menyelesaikan pembicaraan melalui telepon.


"Aku mau istirahat Yang. Aku ceritain di kamar aja." kata Rara. Fahmi tak bisa protes dan hanya mengikuti langkah sang istri ke kamar.


Di kamar, Fahmi menunggu Rara selesai bersih - bersih di kamar mandi.


"Jadi gimana kondisi Kak Wiwid ?" Fahmi tak sabar mengetahui kondisi kakak iparnya.


"Mereka tertabrak mobil lain saat akan berbelok ke rest area. Kondisi kak Wiwid dan Mas Hedi lumayan parah. Chika juga terluka, sedangkan Ifa gak apa - apa, hanya lecet aja.." jawab Rara.


"Ooh.. Terus ?" tanya Fahmi lagi.

__ADS_1


"Kak Wiwid dan Mas Hedi masih koma. Tapi Papa sudah meminta untuk dipindah ke rumah sakit disini. Biar gamoang ngurusnya." lanjut Rara.


"Chika gimana ?" Fahmi kembali bertanya.


"Chika mengalami patah kaki dan tangan, tapi kondisinya sadar." jawab Rara.


"Syukurlah kalo masih ada kebaikan. Semoga Kak Wiwid dan Mas Hedi segera sadar." doa Fahmi.


"Aamiin." balas Rara.


Sudah 5 hari Wiwid dan Hedi dirawat di ruang ICU rumah sakit di kota B. Hingga saat ini keduanya masih koma. Sedangkan Chika sudah bisa pulang dan menjalani rawat jalan.


"Ma, Perut aku mulas.." keluh Rara saat mereka sedang bersiap untuk ke rumah sakit menengok Wiwid dan Hedi.


"Kamu mau melahirkan Ra ?" tanya Yesa.


"Mungkin Ma. Mules banget." jawab Rara.


"Ya udah kita ke rumah sakit sekarang. Fahmi, bawain tas baju bersalin Rara." titah Yesa.


Fahmi pun segera menuruti perintah mertuanya.


Sampai di rumah sakit, Rara langsung dibawa ke ruang bersalin.


"Wah.. Ini sudah bukaan 5. Silahkan ditunggu dulu. Ibu bisa jalan - jalan di kamar atau ke taman." kata bidan.


Fahmi menemani Rara berjalan - jalan di taman. Tak lama Yesa ikut menyusul ke taman.


"Ma, kita jalan - jalan ke tempat Kak Wiwid." kata Rara. Yesa mengangguk dan menuntun Rara ke tempat anak sulungnya dirawat.


"Kak, lihat, ponakan kamu mau lahir. Ayo bangun. Katanya mau bantuin rawat dia." kata Rara pada Wiwid yang masih memejamkan matanya. Air mata menetes dari sudut mata Wiwid. Rara mengusapnya bergantian dengan airmatanya yang ikut turun juga. Yesa yang menatap dari luar ruang rawat juga ikut menitikkan airmata haru.


"Ayo kak. Aku sama baby akan tunggu kakak." bisik Rara lagi.


"Yang, kayaknya udah mau lahir ini. Yuk balik ke ruang bersalin." ajak Rara.


"Ayo. Jalan pelan - pelan aja." Fahmi menuntun Rara dengan perlahan.


"Kami periksa lagi ya Bu." kata Bidan.


Rara hanya mengangguk.


"Wah.. Ini udah bukaan lengkap. Kita mulai ya Bu lahirannya." kata Bidan.


"Ayo Sayang. Kamu pasti kuat." Fahmi memberikan semangat saat Rara mulai mengejan.


"Ayo Bu.. Sedikit lagi. Dorong yang kuat.." Bidan memberikan aba - aba.


Rara terus mengejan hingga akhirnya terdengar suara...


*Oek...Oek...*


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2