Tiga Dara

Tiga Dara
#153 Kebakaran


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


Rara sedang menjalankan aktivitas nya seperti biasa. Pagi itu setelah menyiapkan dan mengantar anak - anak ke sekolah, Rara melanjutkan membuat pesanan kue bolu. Hari ini ada pesanan 2 loyang kue bolu dan sepaket kue putu ayu.


Sejak setahun belakangan Rara memang membuka pesanan kue bolu / kue tart.


"Bu, Saya sudah selesai cuci gosoknya." kata Ida, asisten rumah tangganya.


"Kalo sudah selesai boleh pulang Mbak. Saya abis ini juga mau nganter kue sekalian jemput anak - anak." kata Rara.


"Iya Bu. Makasih. Saya pamit dulu." kata Ida, Sang ART yang bekerja separuh hari. Pekerjaan ART hanya mencuci, setrika juga bersih - bersih rumah. Untuk masak dan menyiapkan anak - anak tetap dilakukan Rara sendiri.



(Kue bolu ; source : google)



(Kue Putu Ayu Pelangi ; source : google)


Rara melanjutkan mengemas bolu dan kue putu ayu pelangi nya. Tak lupa Rara menempelkan alamat penerima di masing - masing kotak agar tidak tertukar. Setelah siap, Rara membawa semua kue itu ke mobil.


Rara mengantar kue ke 2 tempat lalu lanjut menjemput Dara dan Flo.


Sekitar 2 jam Rara berada di luar rumah dengan segala urusannya. Akhirnya Rara melajukan mobilnya pulang. Rara sedikit heran ketika jalanan dekat rumahnya tampak macet. Bahkan ada beberapa mobil pemadam kebakaran lewat.


"Kenapa ada mobil pemadam Ma ?" tanya Dara.


"Mama juga gak tau kak." jawab Rara.


Jalan masuk ke gang rumahnya sudah ditutup dan dijaga ketat oleh polisi.


Rara menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Ada apa ini Bu ?" tanya Rara pada Bu Lisa, tetangganya.


"Kebakaran Bu." jawab Lisa lirih.


"Kebakaran ? Sebelah mana ?" tanya Rara lagi. Apalagi dia melihat api yang masih menyala di sebuah rumah.

__ADS_1


"Sumbernya rumah Bu Dewi." jawab Lisa.


"Rumah Bu Dewi ? Lah rumah saya gimana ?" Rara mulai panik.


"Kayaknya kena deh Bu. Rumah Bu Dani juga kena dapurnya." kata Lisa.


Setelah menitipkan Dara dan Flo pada Lisa, Rara segera berlari menuju rumahnya.


"Maaf Bu.. Gak boleh masuk." cegah oetugas yang berjaga.


"Rumah saya disana Pak. Saya mau lihat kondisi rumah saya." Rara terus berusaha.


"Silahkan Bu. Nanti biar di dampingi petugas kami." petugas itu memanggil rekannya yang berdiri di dekat lokasi kebakaran.


"Astagfirullah. Rumah ku..." ratap Rara.


"Rumah ibu yang mana ?" tanya Petugas.


"Nomor 5 Pak." jawab Rara dengan lemas.


"Rumah nomer 5 bagian kiri dan belakang terbakar bu. Tapi bagian kanan masih bisa diselamatkan. Alhamdulilah saat ini sudah padam semua api nya." petugas menjelaskan.


"Alhamdulilah. Boleh saya masuk ke rumah saya ?" tanya Rara.


"Maaf Bu. Belum bisa. Masih sedang dilakukan pemeriksaan oleh petugas. Ibu silahkan tunggu sebentar." jawab petugas itu.


Lalu Rara segera kembali ke rumahnya.


Setibanya disana, Fahmi sudah tiba lebih dulu.


"Yang, gimana rumah kita ?" tanya Rara.


"Yang sabar ya. Yang ikhlas. Rumah cuma tersisa kamar kita, ruang tengah dan dapur." Jawab Fahmi.


"Subhanallah. Rumah kita Yang. Habis." keluh Rara.


"Sabar, pasrah, ikhlas. Insha Allah nanti akan diganti yang lebih baik." Fahmi merangkul dan mengusap punggung istrinya pelan.


"Kenapa bisa kebakaran Yang ?" Tanya Rara.


"Sudahlah. Gak usah diungkit penyebabnya. Meski ini murni kelalaian Bu Dewi ,tapi ini bentuk teguran dari Allah. Mungkin ada sesuatu yang lalai kita lakukan. Atau bisa jadi ini ujian buat kita." kata Fahmi.


"Iya Yang. Tapi kasihan juga Bu Indra, rumahnya habis." kata Rara.


"Iya. Rumah Bu Indra dan Bu Dewi habis tak tersisa. Sedangkan rumah kita dan Bu Dani hanya habis sebagian." kata Fahmi.

__ADS_1


"Trus kita nunggu disini sampai kapan ?" tanya Rara.


"Oh iya aku lupa. Tadi sama petugas sudah diperbolehkan masuk. Kita beresin barang - barang kita yang masih bisa diselamatkan." Fahmi menggandeng tangan Rara menuju ke rumah mereka.


Rara dan Fahmi mengemasi baju dan dokumen penting yang masih bisa diselamatkan.


"Furniturenya biarkan aja Yang. Kita fokus bereskan baju dan surat - surat berharga." kata Fahmi.


"Iya Yang. Ini baju juga sebagian aja yang dibawa." balas Rara.


"Buku tabungan sama ijazah aman kan Yang ?" tanya Fahmi.


"Aman. Alhamdulilah kamar kita dan ruang tengah tidak terbakar." jawab Rara.


"Untuk sementara kita tinggal di rumah Mama ya. Kalo ke rumah Ibu terlalu jauh soalnya." kata Fahmi.


"Iya Yang. Aku ngikut aja." balas Rara.


Keduanya lalu membawa 2 koper, 4 Tas dan 2 kardus berisi barang milik mereka yang berhasil diselamatkan.


"Pak, kami pamit dulu. Untuk sementara kami tinggal di rumah orangtua kami dulu." kata Fahmi pada ketua Rt.


"Iya Pak. Nanti kami kabari lagi mengenai renovasi rumah. Tenang, semua ditanggung Pemkot." lanjut Bapak ketua Rt.


"Siap Pak. Kami permisi. Assalamualaikum." pamit Fahmi.


"Waalaikumsalam." balas Ketua Rt dan petugas kepolisian.


Setelah berpamitan pada ketua Rt juga polisi yang bertugas, mereka menuju ke rumah orangtua Rara.


...****************...


tinggal beberapa bab lagi akan tamat ya..


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2