Tiga Dara

Tiga Dara
#136 Operasi


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


Caca terbangun dari tidurnya saat ponselnya terus berdering.


πŸ“±πŸ“²


"Halo.."


"De, Kamu bisa pulang gak ?"


"Kenapa emangnya Kak ?"


"Lusa papa mau operasi. Kita harus temani dan menguatkan papa."


"Iya Kak. Nanti aku usahain. Emamg udah parah banget ya kak sampe operasi ?"


"Iya dek. Penyumbatan di jantungnya papa udah banyak. Jadi mau gak mau harus operasi pasang ring."


"Oke Kak. Aku usahain pulang hari ini juga. Aku mau cari tiket dulu."


Caca meletakkan ponselnya dan bergegas menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi, Caca keluar dari kamarnya menuju ke dapur.


"Cel, aku harus pulang ke kota B. Papa ku mau operasi pasang ring." kata Caca sambil membuat secangkir kopi.


"Berapa lama pulangnya ?" tanya Cella.


"Belum tau. Mungkin sampai papa pulih. Sekitar semingguan lah." jawab Caca.


"Ya udah pulang aja. Temani papa loe. Urusan distro biar gue sama Eci." kata Cella.


"Makasih ya Cel. Oh iya, Eci mana ?" tanya Caca.


"Eci lagi keluar beli sarapan. Bentar lagi juga balik." jawab Cella. Belum lama Cella ngomong, muncul sosok Eci.


"Hai.. Hai.. Udah ngumpul aja. Sarapan dulu yok." Eci mengeluarkan 3 kotak bubur ayam di meja makan.


"Wih.. Tumben belikn sarapan ?" ledek Caca.


"Iya dong. Gue lagi happy, gue baru jadian." jawab Eci.


"Oh ya ? Selamat ya Ci. Siapa cowok malang itu ?" Caca menggoda sahabatnya itu.


"Sialan lo. Temen gereja gue. Nanti lah gue kenalin." kata Eci dengan santai.


"Gue tunggu loh Ci." kata Cella.

__ADS_1


"Siap bos. Eh.. Kok loe udah rapi Ca ? Mau kemana ?" tanya Eci.


"Aku mau pulkam Ci. Papa mau operasi pasang ring. Ijin seminggu ya, nitip distro." jawab Caca.


"Ooh.. Iya gak apa. Nyantai aja. Salam buat Papa ya, semoga cepat sembuh." kata Eci.


"Iya. Salamin juga, semoga cepat pulih kembali." tambah Cella.


"Makasih ya Ci, Cel." balas Caca.


"Udah dapet tiketnya ?" tanya Cella.


"Udah. Ini aku naik kereta jam 9." jawab Caca.


"Oke. Hati - hati di jalan ya." balas Eci.


Caca hanya mengangguk sambil tersenyum. Beruntung dirinya punya sahabat seperti mereka.


Jam 4 sore Caca sampai di kota B. Dia bergegas membawa tasnya keluar dari kereta dan menghampiri sang kakak yang sudah menjemputnya.


"Kak..." panggil Caca.


"Akhirnya sampai juga. Lama juga kakak nungguin kamu." keluh Rara sambil menatap pada sang adik.


"Ya mana kutahu. Kan sesuai jadwal. Kakak sendiri aja ?" tanya Caca.


"Iya. Kakak nyetir sendiri. Kita langsung ke rumah sakit. Papa udah nungguin kamu." ajak Rara.


"Kok lama ya Kak ?" keluh Rara yang sibuk mondar mandir depan ruang operasi.


"Sabar Ra. Kan tadi dokternya juga bilang agak lama. Kamu duduk dulu aja." Wiwid menarik tangan Rara agar duduk di sampingnya.


"Iya nih Kak. Kakak malah bikin Mama makin khawatir." Lanjut Caca.


"Hhmm.. Oke deh." bapas Rara setelah menengok pada sang Mama yang tampak tegang.


"Ma, Ini Hedi bawain teh hangat." Hedi dan Fahmi datang sambil membawa kantong makanan.


"Makasih ya Nak." Yesa mengambil teh hangat dari tangan menantunya itu.


"Buat Aku ada Kak ?" tanya Caca.


"Ada tuh.. Banyak minuman dingin sama camilannya juga. Ambil aja." Hedi menunjuk pada kantong yang sudah disimpan di kursi tunggu. Caca bergegas mengambil minuman dan camilan dari dalam kantong.


Semuanya terlihat sibuk menenangkan diri sambil menikmati minuman dan camilan yang dibawa Hedi. Hingga tak terasa..


"Keluarga Bapak Arman.. " panggil suster.


"Iya Sus. Gimana Ayah kami ?" Hedi mewakili keluarga besar untuk bertanya.


"Dokter Hedi.. Alhamdulilah operasinya sukses. Pak Arman akan segera kami pindahkan ke ruang observasi. Setelah 1x24 jam di ruang observasi, baru akan dipindahkan ke ruang perawatan." Suster menjelaskan.


"Baik Sus. Terimakasih." balas Hedi.

__ADS_1


"Sekitar 30 menit lagi sudah bisa ditengok ya dok. Tapi hanya satu orang yang boleh masuk bergantian." suster menambahkan.


"Baik sus." Hedi mengangguk sopan.


Yesa, Wiwid, Rara, Caca dan Fahmi bernafas lega mendengar hasil operasi Arman yang baik.


"Ma, Biar aku sama Fahmi yang jaga disini. Kalian pulang aja dulu." kata Hedi.


"Nanti Nak. Mama mau ketemu Papa dulu baru pulang." kata Yesa.


"Baiklah." kata Hedi.


30 menit kemudian Yesa dan ketiga putrinya serta menantunya bergantian menemui Arman. Selepas Ashar, Rara segera mengajak sang Mama untuk pulang.


"Ayo Ma Kita pulang. Besok baru kita jenguk Papa lagi." ajak Rara.


"Iya Ma. Biar kami menantunya yang bergantian jaga Papa." sambung Fahmi.


"Iya deh. Mama juga udah pegel - pegel." balas Yesa.


Yesa dan ketiga putrinya berjalan meninggalkan area rumah sakit menuju ke parkiran mobil yang akan membawa mereka pulang.


"Alhamdulilah ya Ma. Operasinya Papa lancar." Caca meraih tangan Yesa yang duduk di sampingnya.


"Iya. Mama udah takut kalo kemungkinan terburuk yang terjadi." kata Yesa.


"Papa pasti akan lebih sehat setelah ini. Asal Mama harus perhatiin makanannya dan gak boleh merokok lagi." lanjut Wiwid.


"Siap Bu dokter." Caca yang membalasnya.


"Idih.. Apaan sih dek. Yang dokter kan suami Kakak." elak Wiwid.


"Yee...Kan kakak juga psikiater. Jadi dokter juga kan ?" kata Caca sambil tertawa.


"Terserah kamu ajalah." balas Wiwid agar tak jadi panjang urusannya.


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2