Tiga Dara

Tiga Dara
#26 Bermain ke Taman Hiburan.


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 1/2 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...***...


Wiwid baru saja pulang kuliah saat Indra mendekatinya.


"Wid, pulang bareng aku yuk ?" ajak Indra.


"Tumben. Ada apa nih ?" tanya Wiwid.


"Pengen aja. Nanti sekalian temenin makan dulu." jawab Indra.


"Oke." kata Wiwid tanpa ada penolakan.


Semenjak kejadian kecelakaan dulu, Wiwiwd mulai bersikap baik pada Indra. Bahkan setelah putus dengan Akbar, Wiwid juga membuka hatinya untuk Indra. Dia mulai melihat kebaikan dan ketulusan Indra. Meski belum resmi pacaran, Wiwid tak pernah menolak ajakan Indra.


"Wid, Aku seneng kamu mau aku ajak makan." kata Indra saat mereka sedang di sebuah kafe.


"Biasa aja Ndra. Kan kita teman." kata Wiwid sambil tersenyum.


"Cuma teman Wid ?" tanya Indra.


"Ya kamu maunya apa ? Musuhan lagi ?" Wiwid balik bertanya. Sebenarnya bukan Wiwid gak tahu maksud pertanyaan Indra, Tapi dia tak mau terlalu berpikiran jauh mengenai hubungan mereka.


"Ya siapa tau bisa lebih dari temen." jawab Indra lesu.


"Bisa kok. kenapa enggak ?" kata Wiwid.


"Yang bener Wid ? Kamu serius kan ?" Indra kembali bersemangat.


"Iya. Lebih dari temen berarti sahabat kan ?" Wiwid sengaja menggoda Indra. Dia ingin tahu sejauh mana kesungguhan Indra menyukainya. Karenapada dasarnya Wiwid adalah tipe perempuan yang suka di perjuangkan.


"Terserah kamu deh." Indra mulai putus asa.


Belum sempat Indra bicara lagi, Waiter datang mengantarkan pesanan mereka.


"Udah kita makan dulu. Nanti dilanjut ngobrolnya." kata Wiwid.


Mereka pun menikmati makanannya dengan suasana hati yang berbeda. Wiwid makan dnegan gembira sedangkan Indra dengan kecewa pada sikap Wiwid yang menganggapnya hanya sahabat.


"Kita langsung pulang ?" tanya Wiwid.


"Emang kamu maunya kemana ?" Indra balik bertanya.


"Ya gak tau sih. Kirain mau diajak jalan - jalan." jawab Wiwid.


"Emang mau kalo aku ajak jalan - jalan ?" tanya Indra lagi.


"Ya mau lah. Siapa juga yang nolak diajak jalan - jalan." jawab Wiwid.


"Hhmm.. Tapi aku udah ada janji sama Mama aku." kata Indra.


"Ooh.. Ya gak apa kalo gak bisa." kata Wiwid.


"Gimana kalo besok kita jalan - jalannya ?" Indra tak mau kehilangan kesempatan dekat dengan Wiwid.


"Besok kuliahku sampe sore." tolak Wiwid.

__ADS_1


"Trus kamu bisanya kapan ?" tanya Indra.


"Sabtu atau Minggu aja. Pas libur." usul Wiwid.


"Boleh. Main kemana ya enaknya ? Ke pengunungan atau pantai ?" Indra mengajukan pilihan.


"Gimana kalo kita main ke taman hiburan ? Kan kalo minggu bisa main dengan puas." kata Wiwid.


"Oke kalo gitu. Hari minggu kita ke taman hiburan." kata Indra.


"Iya. Sekarang kamu anterin aku pulang ya. Biar sekalian tau rumahku. Jadi hari minggu gak usah nyari - nyari lagi pas jemput." kata Wiwid.


"Siap bos." Indra menuju ke kasir untuk membayar makanan sebelum menuju ke mobilnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari Minggu itu akhirnya Wiwid dan Indra pergi ke taman hiburan yang memiliki berbagai wahana ekstrem. Mereka tak hanya pergi berdua karena Wiwid mengajak Caca dan Agung.


"Kamu gak apa kan kalo aku ajak adik aku ?" tanya Wiwid melihat raut wajah Indra yang berubah.


"Gak apa. Biar lebih rame." jawab Indra.


"Biar kamu juga akrab sama adik aku." kata Wiwid.


"Kak, kita ketemu disana aja ya." kata Caca.


"Loh kok gitu ?" tanya Wiwid.


"Iya. Aku sama Mas Agung kan naik motor." jawab Caca.


"Kalian bareng sama kita aja." kata Indra.


"Iya Dek. Nanti pulangnya juga dianter kesini lagi kan. Jadi motor Agung biar disimpan disini." kata Wiwid.


"Iya gak apa. Nanti bisa gantian nyetirnya." kata Agung.


"Emang kamu bisa Mas ?" ledek Caca.


"Bisa lah kalo cuma nyopir aja, meski gak punya mobilnya." jawab Agung.


"Ooh.. Iya deh, terserah." kata Caca cuek.


Mereka berempat naik mobil Indra menuju ke taman hiburan.


Sampai disana Indra dan Agung langsung membeli tiket masuk terusan.


"Mas, Ini uangnya." Agung mengeluarkan 2 lembar uang warna merah.


"Gak usah. Biar aku traktir aja." Indra menunjukkan kartu kredit miliknya.


"Gak enak Mas aku jadinya." kata Agung.


"Enakin ajalah. Sesama ipar. Hehehe." canda Indra.


"Mas udah jadian sama Kak Wiwid ?" tanya Agung sambil menunggu antrian.


"Belum jadian malah. Tau gak dulu tuh dia benci sama aku. Trus setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, dia jadi berubah baik. Tapi aku masih belum berani mau nembak dia. Takut ditolak lagi." curhat Indra.


"Harus berani dong Mas. Saya aja sempet di gantungin juga. Tapi akhirnya dia mau juga jadi pacar resmi saya." cerita Agung.


"Oh ya ? Kok bisa ?" tanya Indra.

__ADS_1


"Dia tuh adiknya Rara, pacar sahabat saya sekaligus adik kelas juga. Sejak awal dia masuk sekolah udah mulai naksir nih. Tapi mulai deket setelah saya lulus SMA. Hampir tiap hari saya antar jemput tapi pas ditembak bilangnya jalanin dulu aja. Kan kesel ya." Agung melanjutkan ceritanya.


"Tapi akhirnya jadian juga kan ?" ledek Indra.


"Ya karena emang saya udah deket banget sama keluarganya juga." kata Agung.


"Denger - denger katanya Papa Wiwid galak. Bener gak sih ?" tanya Indra lagi.


"Gak juga. Beliau terlihat tegas. Aslinya baik kok. Saya malah diajak tahun baruan bareng kemarin." jawab Agung.


"Ooh.. Saya udah takut duluan. Hehehe." kata Indra.


"Asal kita sopan, aman lah Mas." Agung menepuk bahu Indra perlahan.


Setelah mendapatkan tiket, mereka menuju ke para cewek yang sudah menunggu.


"Lama amat sih ?" protes Caca.


"Kan antriannya panjang. Kamu lihat sendiri kan ?" Agung mengacak rambut Caca.


"Pasti sambil nunggu sambil rumpiin kita kan ? Hayo ngaku aja." todong Wiwid.


"Kok tahu. Kayaknya turunan cenayang dia." gumam Indra dalam hati.


"Geer banget sih Kak. Cuma ngobrol biasa kok." Agung mengelak.


"Mau kemana dulu nih ?" tanya Indra mengalihkan perhatian Wiwid.


"Naik itu dulu yuk Kak !" Caca menunjuk ke arah roller coaster.


"Gak mau dek. Aku takut." tolak Wiwid.


"Masa gitu aja takut. Kan ada Kak Indra." sindir Caca.


"Apa hubungannya ada Indra atau enggak ?" tanya Wiwid.


"Kan kalo takut bisa pegangan atau peluk." jawab Caca dengan senyum jahil.


"Ayo Wid. Kita coba naik itu. Nanti pejamin mata aja kalo takut." bujuk Indra.


"Ayo deh. Tapi yang ini aja ya. Yang lain gak boleh yang serem." kata Wiwid.


"Oke." Indra hendak menggandeng tangan Wiwid tapi gadis itu malah menggandeng tangan Caca, adiknya, meninggalkan 2 cowok di belakang.


"Sabar Mas. Biarin aja dulu." bisik Agung.


"Hei.. Ngapain bisik - bisik ? Cepetan !!" panggil Wiwid.


Keduanya bergegas menghampiri kedua gadis kakak beradik itu.


...***...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2