
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Caca sedang membungkus souvenir sambil memikirkan calon suaminya itu. Hari pernikahannya tinggal 3 hari lagi. Dirinya sudah sangat rindu dengan sang calon suami. Setiap hari hanya bisa saling melepas rindu lewat telepon.
"Bang Bima lagi apa ya ? Pengen telpon tapi takutnya masih di jalan." gumam Caca. Kemarin Bima sempat mengabari dirinya bahwa Bima dan kedua orangtuanya akan berkunjung ke keluarga besar di kota M yang bisa ditempuh 4 jam perjalanan dari kota D.
"Ngelamun aja Non. Mikirin siapa hayo ?" ledek Wiwid.
"Iih.. Kakak ganggu aja." protes Caca.
"Gak usah dilamuni terus. Sabar dulu, bentar lagi juga halal." goda Wiwid. Caca hendak membalas kakaknya ketika ponselnya berdering.
π²
"Halo.."
"......."
"Iya. Ini Raisa. Ada apa ya Wa ?"
"......."
"Apa ? Ini beneran ? Gak bohong kan ?"
"......"
"Kondisi Bang Bima gimana ?"
"......"
"Papa dan Mama ikut juga kan ? Kondisi mereka gimana ?"
"......"
"Iya Wa. Caca usahain segera kesana."
"......"
"Waalaikumsalam."
Caca langsung lemas setelah menerima telepon dari keluarga Bima.
"Ca.. Kamu kenapa ?" Wiwid sedikit panik melihat Caca yang terdiam lemas.
"Kak.. Bang Bima Kak.. " menangis dalam pelukan Wiwid.
"Kenapa Bima ?" tanya Wiwid.
"Bima dan kedua orangtuanya kecelakaan Kak. Mereka kritis." jawab Caca.
"Innalilahi. Kamu sabar ya. Kita berangkat ke kota D. Kakak telpon Mas Hedi dulu." Wiwid coba menenangkan adiknya.
Wiwid segera menghubungi suaminya yang sedang mengantar Yesa ke toko buah.
Caca masih terdiam di tempatnya. Perasaannya sungguh campir aduk. Antara sedih, bingung, takut. Kenapa disaat dirinya mulai mencintai Bima, disaat itu pula Allah harus memberikan musibah padanya.
"Dek.. Adek... " Yesa masuk ke rumah dan langsung memeluk anak bungsunya.
"Mama... Bang Bima Ma.. " Caca menangis dalam pelukan sang Mama.
__ADS_1
"Sayang.. Kita doain semoga Bima dan orangtuanya bisa selamat ya." Yesa memeluk erat si anak bungsu.
"Kakak udah siapin baju kamu. Ayo kita berangkat. Kamu ganti baju dulu." kata Wiwid.
"Gak usah Kak. Caca pake ini aja." balas Caca.
"Ya udah nanti ganti di jalan aja." Wiwid membantu sang adik untuk berdiri. Dia lalu membawa adik dan Mamanya ke mobil. Kedua anaknya kebetulan masih di kota C bersama Ibunya Hedi.
Mereka berlima langsung masuk mobil dan menuju ke kota D. Beruntung saat ini ada jalan tol yang mempermudah dan mempercepat perjalanan mereka. Waktu tempuh yang biasanya 10 jam kini bisa ditempuh dalam 4 jam saja.
Setelah beberapa saat menangis terus, Caca akhirnya tertidur dalam pelukan Yesa. Berbagai pikiran buruk melintas di kepala Caca.
"Pa.. Tolong kecilin Ac nya. Caca kedinginan sepertinya." kata Yesa pada suaminya yang duduk di samping Hedi yang mengemudi.
Arman langsung mengecilkan Ac yang mengarah ke bangku belakang.
"Tidur dia Ma ?" tanya Arman.
"Iya. Tapi sedikit menggigil juga. Mungkin dia mimpi gak enak." jawab Yesa.
"Ma.. Pa.. Kita mampir minimarket sebentar ya. Saya mau beli kopi." kata Hedi.
"Iya Mas. Mama nitip belikan minuman dingin juga." kata Yesa.
"Biar Wiwid belikan Ma. Papa mau apa ?" tanya Wiwid.
"Papa belikan kopi susu aja." jawab Arman.
"Oke." balas Wiwid.
Sampai di rumah sakit tempat Bima dan kedua orangtuanya dirawat, Caca langsung turun dan berlari ke ruang IGD.
"Wa.. Saya Raisa. Gimana kondisi Bang Bima dan Mama Papa ?" tanya Caca pada wanita yang dia yakini adalah Uwa Lilis, Kakak dari Tante Indah, Mama Bima.
"Kamu yang sabar ya Nak. Bima masih di operasi." jawab Lilis.
"Indah dan Danu tak tertolong. Danu meninggal dalam perjalanan kesini dan Indah juga menyusulnya saat sedang ditangani." Lilis terlihat sangat bersedih.
"Innalilahi wa inna lillahi rojiun." kata Caca dan Yesa berbarengan.
"Ya Allah Indah. Baru beberapa hari yang lalu kita video call bahas pernikahan anak kita, sekarang kamu udah gak ada." kata Yesa saat melihat jenazahal sahabatnya yang sudah dimandikan itu.
Setelah melihat jenazah Indah dan Danu, mereka semua kembali ke depan ruang operasi.
"Belum selesai ya Mbak ?" tanya Yesa pada kerabat Bima yang menunggu disana.
"Belum. Kita tunggu saja." jawab Irna, Tante Bima yang lain.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya pintu ruang operasi terbuka.
"Dok.. Bagaimana kondisi keponakan saya ?" tanya Irna.
"Gimana calon suami saya dok ?" Caca juga bertanya.
"Innalillahi wa innalilahi rojiun. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mohon maaf Nyawa Saudara Bima tidak tertolong. Kalian yang sabar ya." Dokter menyampaikan berita duka.
"Mama... " Caca langsung memeluk Yesa.
"Bima... Kenapa kamu juga ninggalin kami ?" ratap Irna sambil berpelukan dengan Lilis.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun." Wiwid memeluk Caca dan juga mengucapkan belasungkawa pada Irna, Lilis dan keluarga Bima yang lain.
"Ma.. Kami mau menikah. Kenapa Bang Bima pergi duluan ?" ratap Caca.
"Sabar ya Sayang. Ini semua ujian. Memang kalian belum berjodoh. Allah lebih sayang pada Bima dan kedua orangtuanya." Arman coba menguatkan putri bungsunya.
__ADS_1
"Bu, kami urus jenazah almarhum dulu. Kalian bisa langsung ke rumah duka saja." kata Lilis.
"Caca mau disini sama Bang Bima." tolak Caca.
"Dek.. Jangan begitu. Kasihan Bima kalo kamu gak mau mengikhlaskan dia." Yesa mengusap puncak kepala Caca.
"Ayo kita ke rumah dulu. Kebetulan saya juga mau nyiapin keperluan di rumah." kata Irna.
"Tante bisa ikut di mobil kami." kata Hedi.
"Gak usah. Saya boncengan sama suami saya aja. Nanti kalian ngikutin dari belakang." tolak Irna.
"Ooh.. Baik. Tapi saya minta alamatnya juga takutnya ketinggalan." kata Hedi.
Irna lalu menyebutkan alamat rumah duka. Hedi mencatat alamat di ponselnya.
Lalu mereka semua menuju mobil dan bergegas menuju ke rumah duka. Setelah sampai di rumah duka, ketiga jenazah yangs udah dimandikan di rumah sakit langsung dishalatkan dan bersiap untuk dimakamkan. Kecil kecil itu harus pergi di hari yang sama.
Caca terlihat sangat terpukul dengan kepergian calon suami dan calon mertuanya.
"Bang Bima.. Kenapa kamu ninggalin aku ? Padahal 3 hari lagi kita menikah." ratap Caca dalam hati.
"Yang sabar ya Dek. Kamu doain Bima dan orangtuanya aja biar tenang disana." Wiwid mengusap punggung adiknya dengan lembut.
Selesai pemakaman, Wiwid, Hedi dan Arman pamit untuk pulang. Sedangkan Caca dan Yesa tetap tinggal disana.
"Bu, kami pamit pulang dulu. Sekali lagi kami turut berbela sungkawa. Saya tau Bima dan kedua orangtuanya orang yang baik. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran." kata Arman.
"Iya Pak. Aamiin. Terima kasih." balas Iman, suami Lilis.
"Saya nitip Caca dan Mamanya. Mungkin mereka akan disini dulu untuk beberapa waktu." lanjut Arman.
Iman dan Lilis mengangguk. Lalu Caca menghampiri mereka.
"Wa.. Caca ijin mau hadir di tahlilan Bang Bima dan papa Mama ya." kata Caca.
"Iya Nak. Kamu boleh tinggal disini dulu. Kamu tidur di kamar Bima aja." kata Lilis.
"Kamu anggap kami keluarga kamu juga. Meski kalian tak jadi menikah tapi kita sudah jadi keluarga." Irna menambahkan.
"Iya Tan." balas Caca.
"Kamu istirahat dulu aja. Ajak Mama kamu." kata Lilis.
"Makasih Wa. Caca ke kamar Bima dulu." pamit Caca.
Caca masuk ke kamar Bima. Kamar yang didominasi warna abu - abu dan hitam yang terlihat rapi. Caca mendudukkan diri di ranjang. Lalu dia melihat ada foto dirinya danBima yang dipajang di meja kecil samping ranjang. Caca mengusap foto Bima yang tersenyum bahagia di foto itu.
"Bang.. Bahagia disana ya. Aku ikhlas Bang. Doakan aku bisa melanjutkan hidup dengan baik." Caca lalu mencium Bima di foto itu.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
__ADS_1
Bersambung