Tiga Dara

Tiga Dara
#60 Pingitan


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...****************...


Menjelang akad nikah, persiapan di rumah keluarga Arman pun semakin terlihat. Semenjak hari pertunangan, Hedi dan Wiwid tak boleh bertemu. Bahkan ponsel mereka 'disita' sementara oleh ibu masing - masing. Hedi hanya bisa mengetahui kabar Wiwid melalui Yesa begitupun sebaliknya, Wiwid bertukar kabar lewat Marini.


"De, pinjam ponsel kamu bentar lah." rayu Wiwid pada adik bungsunya, Caca.


"Gak boleh Kak. Nanti dimarahin Mama." tolak Caca.


"Ya diam - diam aja. Jangan sampai Mama tau." Wiwid masih merayu sang adik.


"Hhmm.. Tapi bentar aja ya. Nih ponselnya, aku keluar dulu." Caca meninggalkan ponselnya di meja dan keluar dari kamar Wiwid.


*tut...tut...* Wiwid menghubungi ponsel Chika, anak Hedi.


πŸ“± πŸ“²


"Halo Mas.."


"Halo sayang. Kamu apa kabar ?"


"Baik Mas. Tapi kangen."


"Sama dong kalo gitu. Kamu lagi ngapain ini ?"


"Lagi di kamar aja. Abis perawatan."


"Hhmmm... Bakal pangling nih kayaknya Mas lihat kamu."


"Iih... Bisa aja kamu Mas."


"Gak sabar Yang nunggu hari jumat."


"Sabar dong.. Tinggal 3 hari lagi."


"Iya Sayang. Boleh gak aku vc, pengen lihat kamu."


"Jangan Mas. Nanti ketahuan klo Vc."


"Kamu mah tega sama aku. Aku kangen banget sama kamu."


"Bukannya tega tapi sengaja biar kangennya maksimal.. Hehehe."


"Iya deh iya."


"Kak... Ayo turun makan siang dulu." panggil Yesa.


"Iya bentar Ma." jawab Wiwid.


πŸ“²


"Mas, Udah dulu ya. Mama manggil nih."


"Iya. Bye sayang. Sampai ketemu hari jumat. Love you."


"Love you too."


Panggilan pun diakhiri. Wiwid bergegas merapikan bajunya dan turun ke ruang makan.


"Hai Pa.. Kok tumben udah di rumah ?" Wiiwd kaget melihat sang Ayah ada di rumah.

__ADS_1


"Kan Papa sengaja ambil cuti buat acara kamu Kak." jawab Arman.


"Iya. Apalagi besok udah mulai pengajian terus lanjut siraman." timpal Yesa.


"Oh iya. Kirain Papa bakal tetap sibuk." kata Wiwid.


"Ya enggaklah." balas Arman singkat


"Nanti kalo aku dan Kak Rara nikah, Papa juga harus meluangkan waktu buat kami ya." kata Caca.


"Anak kecil kok udah ngomong nikah." ledek Wiwid.


"Iya. Lagian aku mah masih mau kerja dulu abis lulus kuliah." protes Rara.


"Yee... Cepat atau lambat kan aku juga bakal nikah." balas Caca.


"Ya tapi kan sekarang aku yang mau nikah. Kenapa ikutan ribet sih. Kamu tuh nikahnya nunggu Rara dulu." cecar Wiwid.


"Biarin lah Kak. Aku kan cuma mau Papa jyga meluangkan waktu buat aku nanti." protes Caca tak mau kalah.


Ya beginilah kalo ketiga anak itu berkumpul, pasti ada aja yang diperdebatkan. Yesa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


"Ya terserah kamu ajalah." Wiwid enggan meneruskan perdebatan unfaedah itu.


"Kak, kamu udah siap ?" tanya Arman.


"Siap Pa." jawab Wiwid singkat.


"Setelah menikah kamu bakal kerja atau gimana ?" tanya Arman lagi.


"Kesepakatannya sih tetap kerja tapi jadwalnya lebih longgar. Kan nantinya aku juga harus ngurus Chika." jawab Wiwid.


"Iya. Jadilah istri yang baik. Bagaimanapun suami dan anak harus jadi prioritas." nasehat Arman.


"Iya Pa." Wiwid menggangguk sambil melanjutkan makannya.


Keesokan harinya diadakan pengajian di rumah Arman dan Yesa. Pengajian sengaja diadakan pagi hari secara sederhana mengundang tetangga dan kerabat.


"Alhamdulilah.. Acara pengajiannya berjalan dengan lancar." kata Nenek Sari pada abak dan menantunya.


"Iya Mih. Satu persatu beban mulai lepas. Tinggal siraman dan akad nikahnya." kata Yesa.


"Wiwid cantik banget loh. Aura pengantinnya terpancar banget." puji Dian, istri Paman Surya, kakak Yesa.


"Makasih Tan." balas Wiwid yang kebetulan lewat di belakang mereka.


"Kamu mau kemana Kak ?" tanya Yesa.


"Ke depan Ma. Pengen lihat jalan aja." Wiwid menghentikan langkahnya menuju pintu depan.


"Gak boleh Nak. Pamali calon pengantin keluyuran di luar." larang Sari.


"Iya Kak. Mending kamu di kamar atau taman belakang aja." kata Yesa.


"Masa ke depan aja gak boleh Nek ? Kan gak keluar rumah." protes Wiwid.


"Gak boleh. Kalo ada apa - apa gimana ?" kata Sari.


"Maksudnya ?" Wiwid gak ngerti.


"Ya gitulah pokoknya. Gak boleh pergi keluar atau terlihat orang lain. Apalagi kamu sednag dipingit. Apa jangan - jangan kamu janjian sama Hedi ?" terka Sari.


"Deg.. Kok Nenek bisa tau ?" Wiwid berjata dalam hati.


"Tuh kan diam aja. Berarti bener janjian sama Hedi." cecar Dian.

__ADS_1


"Gak Nek, Tan. Lagian gak mungkin Mas Hedi nekat kesini. Kan dilarang bepergian." Wiwid beralasan.


"Ya udah kamu ke kamar aja." kata Yesa.


"Iya Ma." Wiwid melangkah dengan gontai menuju ke kamarnya.


"Gagal deh rencana aku buat ketemuan sama Mas Hedi." gerutu Wiwid dalam hati.


"Hahahaha... Ketauan nih ye.." ledek Caca dari dalam kamarnya.


"Ssstt.. Berisik." kata Wiwid lalu menuju ke kamarnya.


Wiwid baru saja memejamkan matanya ketika ada kerikil yang menimpa jendela kamarnya.


Awalnya Wiwid mengabaikan hal itu, tapi lemparan kerikil itu terus menerus berlangsung. Wiwid pun berjalan menuju ke jendela. Dilihatnya ada seorang lelaki memakai topi berdiri di samping motor di bawah jendelanya.


"Mas Hedi..." gumam Wiwid sambil membuka jendelanya.


Hedi menempelkan telunjuk di bibirnya dan melambaikan tangannya pada Wiwid.


Lalu Hedi melemparkan sebuah batu yang terbungkus kertas dengan tulisan.


Wiwid mengambil kertas itu dan membacanya.


"Aku hanya mau lihat kamu aja. Gak perlu berkata atau menghampiri. Lihat kamu aja cukup mengobati rinduku padamu."


Wiwid menatap Hedi lekat.


"Pluk.." Sebuah batu terbungkus kertas terlempar lagi.


"Makasih Sayang. Sampai ketemu 2 hari lagi saat sudah sah menjadi nyonya Hedi Mandala."


Wiwid terharu membaca tulisan itu.


"Hei.. siapa disana ?" teriak hansip yang sedang berkeliling komplek.


Hedi bergegas pergi dari depan rumah Wiwid. Dihampirinya sang hansip tersebut.


"Maaf Pak. Saya abis nganter makanan trus berhenti bentar disini." kata Hedi.


"Ya sudah. Jangan lama - lama disini." kata Hansip tersebut.


"Siap Pak." balas Hedi.


Wiwid mengamati dari balik jendela di kamarnya.


Tak lama Hedi pun pergi dari sana dengan sepeda motornya.


Wiwid pun berbalik dan masuk kembali ke kamarnya.


"Sampai jumpa 2 hari lagi Mas." gumam Wiwid sambil memeluk kertas berisikan tulisan dari sang kekasih hati.


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Semuanya sudah tamat ya !!


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2