
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
"Kak, jangan pergi dulu. Kita foto lah." cegah Rara saat melihat kakak dan kakak iparnya sudah selesai makan.
"Ayo deh. Cepetan ya, aku udah gerah ini pengen ganti baju." balas Wiwid.
Fotografer segera mengatur posisi berdiri mereka dan mengarahkan kameranya untuk mengambil foto keluarga besar.
Rara kemudian mengambil ponselnya untuk berfoto bersama dengan saudara dan kakak ipar barunya. Tak lupa Fahmi juga ikut berfoto di samping Rara.
"Curang ih.. Aku gak ada pasangannya." protes Caca.
"Syukurin." ledek Rara.
"Caca... Kamu masih muda, gak usah pacaran." kata Nenek Sari.
"Iih Nenek. Aku kan udah kuliah Nek. Bentar lagi juga 20 tahun." Caca tak terima dilarang pacaran.
"Liat tuh anak kamu. Maunya cari pacar aja." Sari mengadu pada Yesa.
"Biarin aja Mih. Lagian anak - anak juga udah tau batasannya kok. Kalo dilarang malah nanti pacaran sembunyi - sembunyi." Yesa membela anak - anaknya.
"Terserahlah. Asal janji harus jaga diri." kata Sari.
"Siap Nek. Nanti kalo udah punya pacar aku pasti kenalin ke Nenek." Caca mencium pipi sang Nenek.
"Oh iya. Kalian kapan mau menikah ?" Sari bertanya pada Rara dan Fahmi.
"Nunggu lulus kuliah terus kerja dulu Nek." jawab Fahmi sambil menatap pada Rara. Rara pun membalas dengan anggukan.
Selanjutnya mereka meninggalkan temoat resepsi. Hedi dan Wiwid menuju kamar mereka di hotel itu, sedangkan Rara, Caca dan yang lainnya pulang ke rumah mereka.
Sampai di kamar hotel, mereka pangsung bersih - bersih dan istirahat.
"Yang, besok lagi aja ya. Aku capek banget." Hedi berbaring dengan Wiwid di pelukannya.
"Apaan sih Mas ? Gak jelas deh ngomongnya." protes Wiwid.
"Ya besok aja belah durennya. Kamu gak capek emangnya ?" Hedi memperjelas ucapannya.
"Iih.. Kirain apaan ? Nakal deh. Aku juga capek banget. Kapan - kapan aja deh." Wiwid mencubit perut suaminya.
__ADS_1
"Eh.. Ya gak gitu juga. Besok ajalah." Hedi mencium puncak kepala Wiwid.
"Hhmm... Lihat besoklah. Kalo udah gak capek." balas Wiwid yang langsung memejamkan matanya.
Tak butuh waktu lama, terdengar dengkuran halus dari sang wanita. Hedi hanya tersenyum gemas melihatnya. Lalu diapun menyusul sang istri masuk ke alam mimpi.
...****************...
Setelah 2 hari menginap di hotel tanpa sempat belah duren, akhirnya Hedi dan Wiwid akan bulan madu ke sebuah pulau di timur indonesia.
Yesa, Caca, Rara dan Helmi mengantar mereka ke Bandara. Sedangkan Chika dan Ibu Hedi sudah pulang ke kota C.
"Jangan lupa oleh - olehnya ya Kak." kata Caca sambil memeluk sang kakak.
"Kamu tuh oleh - olwh aja yang dipikirin." Wiwid menggusak rambut Caca.
"Ya minimal oleh - oleh keponakan baru lah." goda Caca.
"Iish.. Ada - ada aja kamu nih." Yesa menegur putri bungsunya agar tak menggoda sang kakak.
"Aminin dong kak. Biar cepat hamil." kali ini giliran Rara yang menggoda Wiwid.
"Aamiin." Hedi yang menyahut. Wiwid hanya tersenyum menatap pada suaminya sambil mengaminkan doa sang adik dalam hati.
"Ma, kami masuk dulu ya. Nunggu panggilan di dalam." Hedi mencium punggung tangan Yesa.
"Iya Nak. Jagain Wiwid ya. Selamat bulan madu." Yesa memeluk menantu dan anaknya bergantian.
"Akhirnya kita bisa berduaan sayang." Hedi duduk berdampingan dengan sang istri.
"Belum berduaan dong Mas." balas Wiwid sambil menahan senyum.
"Kok gitu ? Kan kita bulan madunya berdua." tanya Hedi.
"Kan di pesawatnya banyakan Mas. Nanti kalo udah di kamar hotel baru berduaan." Wiwid tersenyum sendiri dengan jawabannya.
"Iih...Mulai nakal ya. Udah gak sabar pengen di kamar ?" Hedi mencubit pipi sang istri dengan gemas.
"Yee.. Gak gitu juga." Wiwid mengusap bekas cubitan Hedi di pipinya.
"Pokoknya begitu nyampe kamar langsung ya.." bisik Hedi.
"Langsung apa ?" Wiwid mulai merasa gak enak.
"Ya itu. Bikin oleh - oleh buat adik dan Mama kamu." Hedi tersenyum genit.
"Iih.. Kamu nih yang nakal." Wiwid mencubit lengan Hedi yang melingkar di bahunya.
__ADS_1
"Auw... Sakit Yang.." Hedi mengaduh.
"Biarin biar gak nakal." kata Wiwid.
"Awas ya nanti aku balas disana." bisik Hedi membuat Wiwid membelalakkan matanya.
2 jam kemudian mereka sudah sampai di kota tujuan. Hedi turun dari pesawat sambil menggandeng Wiwid. Wiwid terlihat segar karena tertidur sepanjang perjalanan. Mereka langsung dijemput oleh mobil dari resort tempat mereka menginap.
"Makasih ya Mas." Hedi memberikan tips pada roomboy yang mengantar ke kamar.
Wiwid langsung masuk dan menuju ke jendela. Dibuka kelambu yang menutup jendela kamar itu.
"Wah.. pemandangannya langsung ke pantai Yang." kata Wiwid.
"Iya sayang. Bagus kan ?" Hedi memeluk Wiwid dari belakang.
"Iya. Aku gak sabar pengen ke pantai." Wiwid menatap sekilas pada suaminya.
"Gak boleh dong. Kita harus segera produksi dulu." bisik Hedi yang membuat Wiiwd merinding. Bukan merinding karena ada hantu ya.
"Emangnya pabrik pake produksi segala." ledek Wiwid.
"Ya emang ini pabriknya kan." Hedi mengelus perut rata Wiwid.
"Hhmm..." Wiwid sudah mulai terlena dengan belaian Hedi.
"Ayo yang.." Hedi membalik tubuh Wiwid dan menariknya ke arah ranjang.
"Mau ngapain Yang ?" tanya Wiwid.
"Belah duren..." jawab Hedi yang langsung memeluk sang istri.
Hayo.. ? Mau ngapain ya mereka ?
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung