
#Hai reader kesayangan othor.. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...****************...
Selama seminggu Caca dan Yesa tinggal di rumah almarhum Danu. Caca membantu menyiapkan tahlilan hingga hari ke 7.
"Wa, besok Caca dan Mama mau pulang ke kota B." kata Caca saat mereka duduk santai selepaa acara tahlilan.
"Kok cepet Nak. Disini aja dulu." Lilis memegang tangan Caca.
"Nanti Caca kembali lagi kesini kok Wa. Caca mau buka usaha sama temen." kata Caca.
"Oh iya Ca. Bima kan udah beli rumah buat kalian setelah menikah. Itu buat kamu aja." Lilis memberikan kunci rumah pada mantan calon istri keponakannya.
"Jangan Wa. Buat Uwa sama keluarga yang lain aja." tolak Caca.
"Gak Nak. Kami sudah mendapat rumah ini, sawah dan tanah milik almarhum Danu dan Indah. Ini yang milik pribadi Bima buat kamu saja. Kalo mobil kan rusak karena kecelakaan. Jadi tersisa rumah ini dan tabungan saja." lanjut Lilis.
"Tapi Caca gak enak Wa. Lagian kami kan belum menikah." Caca belum mau menerima.
"Nak, Terima saja. Terserah mau diapakan nantinya oleh Nak Caca. Ini semua harta milik almarhum dibagi pada saudaranya karena mereka memang hanya bertiga saja dan takdir Allah memanggil mereka bersamaan." Iman, suami Lilis ikut bicara.
"Hhmm.. Baiklah Wa. Caca terima rumah dan tabungan milik Bang Bima. Tapi Caca ambil saat Caca kembali kesini ya." ujar Caca.
"Iya Nak. Rumahnya tak jauh dari rumah ini. Jadi kita masih bisa silaturahmi." tambah Lilis.
"Iya Wa. Kalian udah Caca anggap keluarga juga." balas Caca.
......................
Tak terasa sebulan sudah berlalu. Sebenarnya sejak 2 minggu lalu, Eci dan Cella, teman yang akan membuka bisnis bersamanya. sudah menyuruh Caca datang ke kota D untuk memulai bisnis mereka. Tapi Caca masih belum sanggup terbayangi oleh sosok Bima, mantan calon suaminya. Tapi setelah berpikir lagi akhirnya Caca memutuskan untuk melangkah ke depan dan melanjutkan hidupnya.
"Dek.. Kamu jadi berangkat besok ?" tanya Yesa.
"Jadi dong Ma. Kan Caca udah mau buka usaha sama Eci dan Cella." jawab Caca.
"Terus kamu jadi mau tinggal di rumah Bima ?" tanya Yesa lagi.
"Untuk sementara Ma. Sampe Caca bisa beli rumah sendiri." Caca tersenyum pada sang Mama.
"Mama ikut ya ?" pinta Yesa. Pasalnya sejak kemarin Caca melarang sang Mama untuk ikut.
"Jangan Ma. Nanti aja kalo usaha ku sudah berjalan, baru Mama kesana." tolak Caca dengan halus.
"Tapi Mama gak tega biarin kamu sendirian disana." Yesa masih berusaha merayu anaknya.
"Mama.. Kan aku pernah hidup sendirian di Jepang. Dua tahun lagi." Kata Caca.
"Tapi masalahnya Ini mama Tau kamu dimana. Mama gak bisa biatin kamu sendirian lagi dalam kondisi patah hati." bujuk Yesa.
"Aku gak patah hati kok Ma. Aku hanya ingin memulai menata hidupku yang baru. Lebih mandiri meski tak jadi menikah." Caca coba menjelaskan pada sang Mama.
"Tapi..." Yesa terus berusaha.
__ADS_1
"Gak ada tapi - tapian Ma. Kasihan tuh Papa gak ada temennya kalo Mama ikut Caca." Caca memotong ucapan Yesa.
"Iya deh iya. Tapi kapan - kapan mama boleh main kesana kan ?" tanya Yesa.
"Boleh kalo cuma main aja. Tapi paling cepat 2 bulan setelah usaha Caca berjalan." jawab Caca dengan tegas.
Yesa hanya mengangguk.
Setelah Yesa keluar dari kamarnya, Caca mulai membereskan tas yang akan dibawa besok. 2 buah koper berisi pakaian juga sudah tersimpan rapi di sudut ruangan.
"Bang, mulai besok aku akan tinggal di rumah kita. Semoga kamu bahagia melihatku dirumah itu ya." gumam Caca sambil menatap langit - langit kamar. Tak butuh waktu lama, Caca pun sudah terlelap.
Setelah menempuh perjalanan 10 jam naik Bis malam, Caca sampai di kota D. Caca langsung naik taksi online menuju ke rumah Lilis, Uwanya Bima.
"Assalamualaikum Wa." Caca memberi salam.
"Waalaikumsalam. Nak Caca.. Kok datang gak bilang dulu. Kan bisa dijemput sama Wa Iman." sambut Lilis.
"Kan biar surprise Wa. Lagian Caca dulu juga lama tinggal dikota ini." elak Caca.
"Masuk dulu Nak. Kita makan siang dulu ya. Kebetulan Uwa mau masak." ajak Lilis.
"Gak usah repot - repot Wa. Tapi Caca udah makan di stasiun. Kalo boleh Caca mau langsung ke rumah Bang Bima." kata Caca.
"Ya boleh dong. Sebentar Uwa ambil kuncinya dulu." Lilis lalu masuk ke dalam kamar.
"Oh iya Wa. Ini ada sedikit oleh - oleh dari Mama." Caca menyimpan sebuah kantong berisi makanan khas kota B.
"Makasih ya Nak." Lilis mengambil kantong itu dan menyimpannya di dapur.
"Nak, nanti biar Uwa antar kesananya." kata Lilis.
"Biar Caca sendiri aja Wa." tolak Caca.
"Jangan atuh. Kan belum pernah kesana. Nanti nyasar loh." kata Lilis.
"Iya deh Wa. Kita kesana naik apa ? Jalan kaki ?" tanya Caca.
"Bisa sih jalan kaki juga tapi kan barangnya banyak. Biar Uwa telpon tukang becak langganan aja." jawab Lilis.
Lilis kembali masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian keluar dari kamat dengan pakaian rapi.
"Kita tunggu di depan aja ya nak." Ajak Lilis.
Mereka menunggu becak langganan Lilis datang. Setelah itu, keduanya naik ke becak tak lupa bersama kopernya.
"Nak, koper yang satu biar nanti dibawa sama Uwa Iman. Nanti dia nyusul." kata Lilis.
"Iya Wa." Caca mengangguk.
Hanya 5 menit, mereka sudah sampai di rumah milik Bima. Caca memandang rumah dari depan. Terlihat sama persis dengan foto yang pernah dikirimkan Bima padanya dulu.
(source : google)
"Ayo masuk nak. Kok malah bengong." Lilis membuyarkan lamunan Caca.
__ADS_1
"Eh.. Iya Wa." Caca menarik kopernya masuk ke dalam rumah.
"Ini sudah lengkap semua perabotannya Nak. Kamarnya juga sudah komplit. Nanti tinggal ganti spreinya aja." kata Lilis.
"Iya Wa. Nanti biar Caca ganti." balas Caca.
"Kamarnya ada 3. Udah ada elektroniknya juga. Ada kulkas, mesin cuci. Tempat jemur di belakang." Lilis menjelaskan secara singkat.
"Iya Wa. Dulu Bang Bima juga sudah cerita. Bahkan sebagian perabot Caca yang milih secara online." balas Caca.
"Ooh.. Syukurkah kalo gitu." Lilis meninggalkan Caca menuju dapur untuk menyalakan kulkas.
"Wa, kalo Caca ngajak temen tinggal disini boleh gak ?" tanya Caca.
"Ya itu mah terserah kamu. Kan ini rumah kamu." jawab Lilis. Tak lama terdengar suara oanggilan masuk di ponsel Lilis. Lilis berjalan ke taman belakang untuk mengangkat telponnya.
"Nak, Uwa pulang dulu ya. Kayaknya Wa Iman gak bisa kesini sekarang. Nanti malam atau besok kami kesini lagi." kata Lilis.
"Iya Wa. Gak apa. Caca juga mau istirahat dulu. Capek Wa." balas Caca. Lilis berialan keluar rumah diikuti Caca.
"Eh.. Uwa pulang naik apa ?" tanya Caca.
"Itu Mang becak udah datang sambil bawa koper kamu yang satu lagi." jawab Lilis
"Ooh.. Iya deh. Kirain mau jalan kaki." kata Caca.
"Kan sekalian bawain koper kamu. Takutnya diperlukan." kata Lilis.
"Iya Wa. Baju semua sih isinya." kata Caca.
"Iya. Besok aja kalo gitu Uwa kesini lagi. Assalamualaikum." pamit Lilis.
"Waalaikumsalam." balas Caca.
Caca membawa kopernya ke kamar utama.
Lalu Caca merebahkan diri di atas ranjang sambil mengingat kenangannya dengan almarhum Bima yang hanya sedikit.
"Kenapa Allah begitu cepat memanggilmu ? Kenapa kamu harus pergi di saat kita akan bahagia ? Aku ikhlas Bang.. Kamu yang tenang disana sama Mama dan Papa. Bantu aku untuk melanjutkan hidup karena hidup terus berjalan." Caca berkata dalam hati hingga akhirnya dia pun tertidur pulas.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. "Geng Pelangi" juga seru loh, menceritakan kisah persahabatan 4 orang gadis. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Semuanya sudah tamat ya !!
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1