
Aku meremas kertas yang berisikan pemberitahuan bahwa istriku harus menjalani operasi malam ini. Ah, kepalaku mulai terasa sakit memikirkan semua ini. Sesekali kupijit keningku mencoba mengurangi rasa sakitnya.
Kuarahkan pandanganku pada sosok cantik yang terbaring lemah di atas bankar rumah sakit.
Riani Lindaru. Wanita berambut pirang yang sudah kunikahi selama delapan tahun itu tergeletak tak berdaya dengan serangkaian peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.
Tidak ada keceriaan dalam wajah yang selalu tersenyum cerah itu. Senyum yang selalu membuatku terpesona. Hanya kulit pucat dan mata yang sedikit cekung. Tapi tidak mengurangi kecantikan yang dimilikinya.
Kutarik nafas pelan lalu melangkah mendekati bankar yang ditempati oleh Riani. Meraih tangan berjari lentik itu dan mengecupnya pelan sambil menahan air mata yang melesak keluar. Sebagai seorang pria dewasa aku merasa malu bila harus menunjukkan kesedihan dan air mata.
Kecupan yang kuberikan berhasil membuat mata cekung itu terbuka dan menoleh ke arahku yang pasti kini terlihat kusut dan berantakan. Wajahku yang selalu penuh kharisma kini sudah tak bercahaya lagi. Menurutku.
"Hei .... " Riani mengulurkan tangannya yang tidak dipasang jarum infus. Dielusnya kepalaku yang hanya bisa menunduk di sampingnya.
Aku segera mendongak dan meraih telapak tangan halus itu. Tangan Riani terasa sangat dingin, membuatku tidak tahan dan akhirnya menitikkan air mata. Bagaimana bisa tangan hangat yang selalu mengelus pipiku itu kini menjadi sedingin es?
Riani tersenyum miris melihatku dan setetes air mata yang mengalir di pipiku
"Jangan menangis." Tangannya terulur menghapus air mataku dengan lembut. "Maafkan aku."
__ADS_1
Aku menggeleng cepat. "Untuk apa kau meminta maaf, Sayang?"
Apa yang sudah kulakukan. Seharusnya aku bisa lebih tegar agar bisa menguatkan sosok wanitaku yang pasti kini berada pada titik kerapuhannya.
Hatiku semakin berkecamuk saat melihat Wanitaku yang biasa dipanggil dengan nama Ria itu ikut menitikkan air mata dan terisak kecil.
"Aku gagal menjadi seorang wanita yang sempurna untukmu. Aku tidak akan pernah bisa merasakan apa yang wanita lain rasakan. Menjadi seorang ibu," ucapnya dengan isakan yang hebat hingga tubuhnya bergetar.
Hatiku terasa seperti dicabik-cabik mendengar ucapannya. Aku tahu persis kemana arah pembicaraannya. Dengan dilakukannya operasi pengangkatan rahim itu, Riani tidak akan bisa untuk mengandung. Apalagi melahirkan seorang anak.
Empat tahun kami membina rumah tangga dan selalu menantikan kehadiran seorang bayi. Riani yang tidak sabar lagi segera mengajakku untuk memeriksakan diri kami masing-masing.
Hal tersebut cukup membuat kami menarik nafas lega. Terutama istriku. Dia membesarkan hati dengan beranggapan bahwa kami memang belum dipercaya Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan rezeki dan memiliki seorang anak.
Tapi belum hilang rasa leganya, dokter yang menangani kami memanggilku kembali dan memberitahukan hal yang tak terduga.
Riani positif menderita kanker rahim stadium akhir.
Berita itu bagaikan petir di siang bolong bagiku. Aku tidak menyangka kalau wanita cantik yang sangat kucintai itu menderita penyakit mematikan.
__ADS_1
Riani yang ternyata menguping pembicaraanku dengan dokter hanya terisak dan dari bibir indahnya mengalir cerita pada masa-masa dirinya sedang datang bulan. Wanitaku itu mengakui kalau dirinya sering merasa sakit yang teramat sangat apabila dia sedang mengalami menstruasi. Namun ia menganggap hal itu soal biasa dan mengabaikan rasa sakitnya. Dan inilah jawaban dari semuanya.
Aku masih ingat bahunya yang terguncang menahan tangisan. Kupeluk tubuh yang selalu menghangatkanku itu dan mencoba menenangkannya.
Aku tersentak saat tangan sedingin es itu menyentuh pelan pipiku.
Ah, aku teringat kejadian semalam.
Kukecup kening Riani dan mencoba mengeluarkan senyum tegar meskipun sulit. "Kau tidak perlu meminta maaf, Sayang. Kita akan menjalani semuanya. Bersama."
"Tapi aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan padamu," ucapnya lirih.
Aku kembali tersenyum, senyum yang dipaksakan tepatnya. "Kita bisa mengadopsi anak."
Riani membuang wajah. Dia terlihat kesal. Wanita itu seakan-akan tahu kalau aku memaksakan diri untuk mengucapkan itu semua.
"Sebaiknya kau menenangkan pikiranmu. Kau akan menjalani operasi nanti malam," ucapku akhirnya. Mencoba mencairkan kebekuan yang tercipta.
Riani mengangguk dan memejamkan matanya. Wanita itu terlihat sangat lelah. Lelah memikirkan keadaannya dan kehidupan kami.
__ADS_1