
Selepas memadu kasih, Aswin dan Muthia tertidur dengan saling berpelukan.
Tiba tiba ponsel Aswin terus saja berdering, mungkin karena lelahnya Aswin tak begitu memperdulikannya.
Karena bunyi dering ponsel yang tak mau berhenti, akhirnya Aswin berusaha mengambil ponselnya yang ditaruh di atas nakas dengan malas, ada nama Sandra terpampang dilayar ponselnya.
Aswin mengernyit. "ada apa Sandra telepon malam malam begini, bukankah tadi dia sendiri yang memberi ijin aku pulang kerumah Muthia."
"Hallo asalamualaikum..."
Suara laki laki diseberang sana yang menjawab, firasat Aswin sudah mulai tak enak.
"Waalaikumsallm...
Maaf anda siapa, kenapa bisa memakai ponsel istri saya?"
"Maaf pak, sebelumnya perkenalkan nama saya Heru, saya hanya ingin memberi kabar jika istri bapak mengalami kecelakaan dan saat ini sedang di larikan kerumah sakit Ahmad Dahlan. saya menghubungi bapak karena disini tertera nama suami, jadi saya berinisiatif menghubungi bapak untuk mengabari perihal yang terjadi dengan istri bapak saat ini."
"Inalillahi...ya Alloh astagfirullah...
Makasih banyak pak, saya akan segera datang kesana, sekali lagi terimakasih banyak."
"Baik pak, sama sama
Asalamualaikum.."
"Waalaikumsallm.."
Sejenak Aswin terpaku, ada perasaan sedih dan cemas dengan keadaan Sandra, Aswin menoleh saat Muthia menyentuh bahunya lembut dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang terjadi sayang, ada apa?"
Muthia bertanya, penasaran dengan apa yang terjadi.
"Sandra kecelakaan, tadi barusan ada orang yang kasih kabar dengan menggunakan ponsel Sandra, beliau bilang saat ini Sandra sedang dilarikan ke RS Ahmad Dahlan, bund ayah akan segera menyusul Sandra, memastikan keadaannya saat ini, jujur ayah sangat cemas."
"Iyaa, kita kesana sama sama ya, bunda juga hawatir dengan keadaan teh Sandra."
"Baiklah, kita bersih bersih dulu."
☘️☘️☘️☘️
Aswin dan Muthia berjalan dengan tergesa menuju mobil, perasaan dan pikiran mereka sama sama panik, takut hal buruk menimpa Sandra. Semoga keadaan nya tidak terlalu parah, sedari tadi Aswin maupun Muthia selalu memanjatkan doa di hati Masing masing untuk keselamatan Sandra.
Aswin melajukan mobilnya dengan kecepatan hampir seratus kilometer, yang ada dipikirannya ingin segera sampai dan melihat kondisi istri pertamanya itu.
Sedangkan Muthia hanya berusaha bersikap tenang meskipun hatinya begitu sangat cemas.
Dalam waktu dua puluh menit Aswin sampai di parkiran RS Ahmad Dahlan, setelah memarkirkan mobilnya, Aswin dan Muthia berlari menuju ruang informasi menanyakan keberadaan Sandra dan suster yang berjaga mengarahkan untuk ke ruang IGD karena Sandra masih dirawat disana.
Setengah berlari Aswin dan Muthia menuju ruangan yang ditunjuk perawat, hati Aswin sudah berdebar tak karuan, terlihat jelas gurat kecemasan disana.
Sesampainya di ruangan UGD, Aswin bertemu dengan laki laki yang menelponnya tadi.
"Pak Heru?"
__ADS_1
"Iya mas, ini ponsel istri bapak, istri anda masih ditangani dokter di dalam."
"Trimakasih pak, maaf bagaimana kejadiannya pak, apakah bapak melihat kejadian saat istri saya kecelakaan?"
"Iya pak, saya ada disana waktu terjadi kecelakaan, karena saat itu saya lagi mangkal, saya ngojek di daerah situ.
Mobil istri bapak dari arah timur berniat menyebrang, tapi tiba tiba dari arah berlawanan ada truk yang melaju sangat kencang, mungkin rem truknya blong hingga menubruk mobil yang dikendarai istri bapak."
"Ya Alloh astagfirullah Sandra." Aswin terduduk lemas mendengar cerita dari pak Heru.
Begitupun dengan Muthia yang tak mampu menahan kesedihannya, dia tak berhenti berdoa dan berharap yang terbaik untuk kakak madunya.
"Kalau begitu saya mohon pamit ya pak." pamit pak Heru, dan tak lupa menyerahkan tas beserta isinya milik Sandra kepada Aswin.
"Iya pak silahkan." dan tak lupa Aswin menyelipkan beberapa lembaran merah saat bersalaman dengan pak Heru sebagai bentuk rasa terimakasihnya.
Pak Heru berusaha menolak kebaikan Aswin, namun Aswin terus meminta pak Heru menerimanya, akhirnya dengan perasan haru pak Heru menyerah dan menerima pemberian Aswin.
"Trimakasih pak, semoga istri bapak segera sembuh."
"Aamiin, terimakasih banyak, Pak. Hati hati."
Terdengar pintu dibuka, dan ada dokter Wahyu keluar dari ruangan, karena ada name tag di jas putih yang dikenakan sang dokter, jadi mudah saja untuk mengenali nama dokter yang bertugas.
"Dengan keluarga pasien kecelakaan?"
"Iya dok, saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya, tidak ada luka serius kan?"
Aswin bertanya penuh kecemasan.
Aswin syok dengan penjelasan sang dokter sedang Muthia membekap mulutnya tak percaya, air mata nya berjatuhan seiring Isak tangis yang tiba tiba pecah.
"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya, berikan pengobatan yang paling baik di rmh sakit ini." sambung Aswin Kelu.
"Iya pak, kami akan berusaha sekuat tenaga kami."
"Apa kami bisa menjenguk nya dok?"
"Nanti dulu ya pak, biar istri bapak dipindahkan dulu keruangan rawat, silahkan bapak urus administrasinya."
"Baik dok saya akan mengurusnya."
"Kalau begitu saya permisi." pamit dokter yang diperkirakan berumur limapuluh tahunan itu ramah penuh wibawa.
"Bund, ayah urus administrasinya dulu ya, bunda tunggu saja disini."
"Iya, ayah harus kuat, yang sabar ya, kita doakan sama sama untuk kesembuhan teh Sandra."
Aswin mengangguk dan memeluk Muthia.
"Ayah pergi dulu."
Muthia hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah Sandra dipindahkan keruangan rawat inap kelas satu, Aswin dan Muthia menunggu di dalam ruangan, berharap Sandra akan segera sadarkan diri.
__ADS_1
Aswin duduk di kursi di samping ranjang Sandra, di genggamnya jemari sang istri sambil membisikkan doa doa kebaikan pun dengan Muthia yang khusuk membaca mushaf, memohon yang terbaik pada sang pemilik kehidupan.
Cinta keduanya tulus kepada Sandra, Aswin menyayangi Sandra karena sudah kewajibannya sebagai seorang suami yang harus punya rasa welas asih pada istrinya, memberlakukannya dengan lembut dan membimbingnya penuh kasih sayang, pun itu juga dilakukan Aswin kepada Muthia istri keduanya. Muthia pun juga sangat menyayangi Sandra, tak ada sedikitpun rasa sakit hati dan benci di dalam dirinya untuk Sandra, Muthia sangat memahami keadaan Sandra, untuk itu Muthia selalu iklas dan memaafkan Sandra dengan semua kelakuannya. Melihat Sandra terbaring lemah tak berdaya membuat Muthia iba juga sedih, hingga doa doa keselamatan terus ia gaungkan untuk kesembuhan Sandra.
💓💓💓💓💓💓
Pesan Cinta author 💓
---Apa yang dipikirkan\=\=
Keheningan sapa hati
Kebeningan nasehati tindakan
Pikiran menelisik jejak laku
Adakah kesalahan yang membuat hati terluka;
Semakin dibaca sampai kedalaman rasa
Mungkinkah ada alpa tak disadari
Menyentuh sisi sensitif persaudaraan
Melahirkan jarak silaturahmi semakin jauh;
Diam dalam kesunyian
Bukan berarti tak peka diri
Hanya bingung mendefinisikan akibat
Apa yang menjadi sebab sebenarnya;
Muhasabah diri dalam keheningan
Mengukur kelemahan tapak perjalanan
Semoga tetap belajar bening bersikap
Dalam setiap ruang persaudaraan
Iktiyath menyimpulkan perubahan yang terjadi
Belajar memahami perkembangan usia kehidupan
Belajar mengerti setiap peran di tempat berikhtiar
Bukan yang lain, agar bersama bisa tetap belajar menjadi al amin.
Dalam hening berharap
Tidak ada yang terluka karena alpa diri
Dalam bening memohon maaf
__ADS_1
Jika ada laku tak sadar merusak ruang persaudaraan.