
Sandra tersenyum senang di ujung sana. Berpikir kalau rencananya berjalan mulus sesuai harapannya.
"Bagus, kabar yang aku tunggu dan membuatku puas. Terus awasi dan langsung berikan kabar kalau kamu menemukan sesuatu."
Sandra dengan dingin memerintah Aceng untuk terus memata matai. Padahal apa yang dikabarkan berbanding terbalik dengan yang sebenarnya.
"Sepertinya ada kabar baik, wajah ibu sumringah." tiba tiba Mirna muncul membawa nampan berisi menu makan siang buat Sandra.
"Iya, barusan orang suruhan kamu, memberi kabar, kalau baru saja melihat mobilnya mas Aswin keluar dari yayasan terburu buru. Sepertinya Muthia sudah memakan makanan yang kamu kirim lewat kurir. Dan sekarang mungkin sudah keguguran akibat obat peluruh yang kamu campurkan di makanannya." Sahut Sandra semangat dengan senyum mengembang di bibirnya.
Tanpa mereka sadari, Bu Siti sedang sembunyi dibalik tembok menguping pembicaraan Sandra dan Mirna.
"Saya senang lihat Bu sandra bahagia seperti ini, karena pelakor memang harus diberikan pelajaran." Mirna membalas ucapan Sandra dengan kata kata yang mengandung kompor, agar Sandra semakin membenci Muthia.
Bu Siti panik dan cemas memikirkan Muthia, dalam hatinya terus menyayangkan sikap Muthia yang tidak mau menuruti peringatan yang sudah diberikan lewat pesan pesannya.
"Aku tidak menyangka, kalau Bu Sandra semakin jahat dan melebihi batas, padahal Bu Muthia begitu tulus dalam segala hal, Meskipun Bu Muthia istri kedua, tapi dia bukan perempuan yang egois dan kejam, justru Bu Muthia sangat baik dan terus mengalah. Tapi Bu Sandra justru semakin ingin menyakitinya." Bu Siti kembali meneruskan pekerjaannya menyetrika baju dengan pikiran melayang jauh.
Sedangkan Sandra sedang menikmati kebahagiaannya karena merasa rencana sudah berhasil dan tak nggak menunggu Aswin memberi kabar tentang kabar buruk yang menimpa istri mudanya itu.
"Sebentar lagi pasti Mas Aswin akan memberi kabar soal keguguran Muthia, aku akan memasang wajah sesedih mungkin dan mengucapkan prihatin akan musibah yang sedang menimpa mereka. Sempurna bukan?" hahahaaa, Sandra tertawa bahagia, dan di ikuti oleh Mirna yang juga ikut menertawakan Muthia.
Padahal wanita yang mereka anggap bersedih dan celaka, justru sekarang sedang makan bersama suaminya dengan lahap dan merasa nyaman karena begitu banyak yang menjaganya.
__ADS_1
"Sayang, nanti malam aku akan menginap disini, tapi besok pagi akan kembali ke Surabaya, gak enak sama Niko, doain ya proyeknya berjalan lancar biar bisa selesai tepat waktu.
Kamu harus janji, kalau ada apa apa harus segera kasih tau suami kamu ini, jangan diam saja." Aswin mengingatkan istrinya disela makan siangnya, dan dijawab anggukan ringan dan senyuman manis oleh Muthia.
Tadi sebelum pulang, Muthia sudah memerah makan siang di restoran langganannya lewat aplikasi, saat sudah sampai rumah makanannya juga ikut sampai.
Bahkan Muthia tidak membeli untuk dirinya saja, tapi juga buat semua yang ada dirumah, mbok Narti juga sama kedua tentara yang ditugaskan berjaga oleh Amir dirumahnya.
Setelah selesai makan siang, Muthia diminta istirahat oleh Aswin, sedangkan Yusuf ditemani tidur siang sama mbok Narti.
Aswin sendiri pergi keluar, menemui dua penjaga yang tadi diminta ikut kerumah oleh Amir.
Aswin menemui mereka, membawakan rokok dan mengobrol di ruangan Kudus dirumah itu, bangunan seperti rumah kecil yang terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan dapur yang terletak di samping depan rumah Muthia, dekat dengan pagar besi rumahnya.
Mereka mengobrol bertiga, Aswin ingin lebih mengenal kedua orang yang ditugaskan untuk mengawal istrinya, agar saat meninggalkan Muthia , hatinya tidak gelisah dan dari obrolan panjang dengan mereka Aswin bisa menyimpulkan, kalau mereka orang yang baik dan miliki pemahaman agama yang cukup. Amir memang tidak salah dan sembarang menunjuk orang untuk ditempatkan dirumahnya.
Setelah dirasa cukup, Aswin kembali masuk kedalam rumahnya, dan tinggallah Alek dan Rofik yang memilih duduk di teras depan mengawasi sekitar dengan mata awas.
"Kamu ngerasa ada sesuatu dengan pak Amir gak sih, Lek?" tanya Rofik membuka obrolan.
"Maksudnya gimana? Aneh gimana?" Sahut Alek belum paham atau pembicaraan temannya.
"Itu, kalau pak Amir terlihat sangat cemas dengan keselamatan Bu Muthia, istri pak Aswin."
__ADS_1
"Oh itu! Biasa saja menurutku, namanya juga melindungi wanita yang istimewa di hatinya." balas Alek santai.
"Kok, kayak kamu sudah tau. Memangnya Bu Muthia itu siapanya kak Amir?" Rofik semakin penasaran dengan cara Alek menjawab pertanyaannya.
Sebelum menjawab, Alek memalingkan wajahnya, memastikan kalau tidak ada yang mendengar obrolan mereka.
"Bu Muthia itu, wanita yang dicinta pak Amir. Yang bikin atasan kita betah menjomblo sampai sekarang." Balas Alek serius dengan rokok ditangannya.
"Serius kamu, lek?" Rofik makin penasaran dan tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut teman jaganya itu.
"Iya, karena pak Amir sendiri yang pernah cerita. Kamu tau kan, sudah berapa lama aku menemani beliau, bahkan aku tau saat beliau patah hati dan minta pindah tugas di Kalimantan. Makanya saat beliau kemarin telpon dan meminta kita untuk membantunya menjaga Bu Muthia aku langsung paham dan tidak ingin banyak bertanya." Alek memberitahu semua yang ia tahu pada Rofik yang juga saat ini menjadi anak buah kesayangan nya Amir.
"Padahal pak Amir itu ganteng, gagah, kaya dan cinta mati sama Bu Muthia, tapi kenapa Bu Muthia tidak menerima beliau ya?
Justru memilih jadi istri keduanya pak Aswin. Wanita itu memang rumit, pikirannya tidak bisa ditebak." Sambung Alek serius dan membuat Rofik menganga dengan penuturan sahabatnya itu.
"Maksud kamu, Bu Muthia itu istri keduanya pak Aswin? wah kalau begitu memang susah ini, rumit. Jangan jangan yang sengaja mengincar Bu Muthia itu... Wah gak bener ini, brow!" Celetuk Rofik dengan serius dan ditanggapi kekehan kecil oleh Alek yang terlihat lebih santai, karena memang Alek sudah paham arah pembicaraan temannya, dan dirinya juga mengiyakan dugaan tersebut.
"Iya, pak Amir juga menduganya begitu. Tapi ya mau bagaimana, pilihan orang kaya itu beda dengan pemikiran kita yang rakyat jelata ini." sahut Alek yang sambil menghisap rokoknya.
Sedangkan Rofik sibuk dengan pikirannya sendiri, mencoba mencerna apa yang baru saja ia tau kebenarannya.
"Tapi wajarlah, Bu Muthia itu cantik orangnya, anggun dan kalem, pasti pak Amir sulit move on. Dan pak Aswin juga terlihat sangat berkharisma, lembut juga tampan, sepertinya juga kaya raya, lebih kaya dari pak Amir. Tapi seperti apa ya istri pertamanya, apa juga secantik Bu Muthia?" Rofik kembali membuka suara setelah beberapa saat terdiam.
__ADS_1
"Lebih cantik, katanya sih begitu..Tapi katanya, pak Aswin lebih cinta ke Bu Muthia. Makanya istri pertamanya begitu membenci Bu Muthia, lebih tepatnya sakit hari atau iri ya? Ah sudahlah!"
Balas Alek cuek dan ditimpali dengan kekehan oleh Rofik yang geli dengan tingkah sahabatnya.