
Rasanya baru terpejam, tapi pagi sudah menghampiri, beranjak dari ranjang dan pergi membersihkan diri, menunaikan kewajiban dua rokaat sendiri di dalam kamar, entah hati ini masih enggan untuk bertemu dengan kang Aswin.
Kutumpahkan segala rasa yang menyesakkan, dalam isakan tangis ketidak berdayaan, antara cinta, harta dan kecewa. mana yang lebih mendominan, aku tak tau, yang aku tau, hati ini begitu sakit dan di penuhi kekecewaan dari rasa benci atas nama cemburu.
Alloh, ampunilah kelemahan imanku, ampunilah ke egoisanku, ku mohon sematkan kekuatan dan ketegaran untukku menjalani semua ini, jika harus pergi, biarkan aku pergi tanpa membawa beban kecewa dan niat buruk dari awal aku merencanakan, sungguh aku menyesal, ampunilah aku.
Dalam penyesalan dan kecewa, Sandra meraung menangisi kebodohannya.
Tok tok tok...pintu diketuk dari luar, Aswin mencoba untuk menemui Sandra dan ingin berbicara dari hati ke hati dengan cara baik baik, tanpa harus saling merasa tersaikiti.
"Bund, boleh ayah masuk?"
Tanpa menunggu jawaban dari Sandra, Aswin membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci, Aswin masuk dan di tatapnya sang istri sedang tergugu di atas sajadah.
"Bund...." Aswin meraih tubuh Sandra dan membawanya dalam pelukan.
__ADS_1
Hening....hanya pelukan dan sesekali Aswin mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih sayang, berusaha menyelami rasa sakit dan sedih sang istri.
Diam dan memberikan waktu, adalah cara terbaik yang harus dilakukan saat ini, tak mau memaksakan kehendak untuk di mengerti tapi melainkan berusaha untuk mengerti perasaan sang istri.
Setelah beberapa saat, tangis Sandra pun mereda, dilepaskannya pelukan dan menghapus sisa sisa air mata di pipi bening milik istrinya.
"Tenangkan hati bunda, berdamailah dengan keadaan ini, Insya Alloh bunda akan menemukan cinta dan kasih sayang yang tulus, ayah tidak akan memaksa untuk bunda pahami, tapi ayah minta, berpikirlah dengan jernih, dan inilah konsekuensi yang harus bunda terima, saat bunda meminta Muthia menjadi adik madu bunda, semua berawal dari keputusan bunda, ayah harap bunda bisa menyikapi semua dengan bijak ya.
Jangan terlalu larut menyiksa diri, itu hanya akan makin menyakiti bunda sendiri, yuk nangisnya sudah, anak anak sudah nunggu untuk sarapan." Aswin berusaha tetap tenang dan bersikap lembut menghadapi istrinya yang kini merasa terluka.
Aswin hanya bisa menghela nafas dengan kasar, tapi sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak bersuara, tak ingin ribut dan tak ingin berdebat, ada mental anak anak yang harus tetap dijaga.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Muthia pagi ini ingin bersiap siap untuk melihat lahan yang akan di belinya untuk membangun yayasannya, dengan sekuat hati berusaha menepis semua rasa sesak di dadanya, mencoba untuk menyibukkan diri agar tak larut dalam kesedihan, menyiapkan diri dan hati dari segala kemungkinan, menjadi yang kedua tidaklah mudah untuknya.
__ADS_1
Setelah menitipkan anaknya pada sang bibi, Muthia berangkat dengan taksi online, karna Muthia lagi tidak fokus untuk membawa kendaraan sendiri.
Sepanjang perjalanan, Muthia hanya diam dengan pikirannya sendiri.
Memikirkan untuk memilih pergi dan mundur dari pernikahannya, meskipun semua ini sangat sulit baginya, namun Muthia juga tak mampu bila harus terus terusan menahan ketidak nyamanan dalam sebuah hubungan.
"Aku harus menemui kang Aswin dan membicarakan semua ini padanya, mencari jalan terbaik tanpa harus ada yang tersakiti, semoga aku mampu dan selalu kuat menghadapi segala ujian kehidupan cinta yang rumit ini."
Tanpa terasa, suara sang sopir membuyarkan lamunan Muthia, jika sudah sampai di tempat yang dituju.
Setelah memberikan uang ongkos dan sengaja memberi uang lebih pada driver nya, Muthia melangkah menemui pemilik tanah yang akan dibelinya.
Dan saat Muthia, melihat sosok yang berdiri di depan teras rumah yang akan ia tuju, Muthia mematung dengan perasaan yang entah...
Sosok itu tak asing bagiku, dan apa hubungan dia dengan pemilik tanah, Alloh kenapa harus kau pertemukan kembali kami disaat waktu dan keadaan yang tidak tepat. Batin Muthia sendu.
__ADS_1
#penasaran kan,siapa sosok yang ada dihadapan Muthia,,yuk tunggu bab selanjutnya yaaaa,,,haturnuhun 😊