Wanita Kedua

Wanita Kedua
Kenapa Ana?


__ADS_3

.....


Mobilku melaju dengan kecepatan sedang menuju pinggiran kota Pematangsiantar, tepatnya di daerah Tanah Jawa.



Tangan kiri memegang kendali stir, sementara tangan kananku menopang dagu yang kusandarkan di jendela.



Udara terasa hangat. Namun karena sepanjang perjalanan yang dipenuhi perkebunan kelapa sawit membuat angin yang masuk dari jendela terasa sejuk.



Kutatap jalanan yang sedikit ramai oleh kendaraan. Hari minggu yang cerah seperti saat ini pasti membuat sebagian orang ingin menghabiskan waktu di luar rumah.



Ah, andai saja situasi tidak seperti ini, aku akan mengajak Riani untuk bersenang-senang.



Di sebuah tikungan tajam, aku sudah bisa melihat simpang menuju rumah mertuaku.



Mobil terguncang. Jalanan berbatu membuat laju mobilku semakin melambat. Di kanan kiri rumah-rumah sederhana berbaris rapat. Penduduk di sini cukup padat dan mayoritas profesi mereka adalah seorang buruh di perkebunan sekitar.



Rumah bercat hijau pupus itu sudah terlihat dari jarak lima puluh meter. Jantungku berdegup bertalu-talu. Hawa yang semula hangat terasa dingin dan perutku mulai mulas. Efek yang terjadi bila aku merasa gugup dan melakukan kesalahan.



Apa yang akan kuhadapi sebentar lagi aku tidak tahu. Yang kumiliki saat ini hanya kenekatan.



Mobil mulai memasuki pekarangan rumah yang ditumbuhi sepokok pohon rambutan. Pohon ini selalu berbuah lebat bila tiba pada musimnya. Sejenak aku teringat akan Riani. Isteriku itu akan merengek manja menyuruhku mengambil rambutan yang selalu dikerumuni semut hitam.



Kubuka pintu mobil dan segera turun. Kulihat sosok gadis manis berdiri di depan pintu. Dia adalah Anita. Adik Riani yang masih duduk di bangku perkuliahan.



Dia tersenyum lembut dan mengangguk lalu masuk ke dalam rumahnya.



Aku memijakkan kaki di teras rumah mertuaku dengan tubuh sedikit gemetar. Namun aku sudah memantapkan hati untuk menerima segala konsekuensinya. Tujuanku hari ini harus tercapai. Aku ingin memperbaiki semuanya dan membawa Riani pulang.



"Wah, ternyata ada Nak Ryan."



Aku menoleh dan melihat mertua perempuanku mengangguk dan memberi isyarat agar aku masuk ke dalam rumah. Saat melangkah melewati pintu mataku langsung menangkap sosok yang duduk di kursi paling sudut.



Dia Junaidi. Ayah Riani.



Matanya menatap tajam ke arahku. Tentu saja dia marah. Huh! Apa yang sedang kupikirkan? Tidak mungkin dia akan menyambutku dengan baik. Mustahil putrinya tidak bercerita tentang masalah kami kepadanya.



Aku mencoba mengelakkan tatapan mertuaku dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Mencari sosok Riani tapi aku tidak menemukannya. Hanya ada Anita dan ibu mertuaku yang sudah duduk di kursi.



"Duduklah, Nak. Ayah mertuamu mau bicara." Suara ibu mertuaku membuatku tersentak dan langsung menuruti ucapannya.



Keheningan merajai. Gelisah. Itu yang kurasakan karena ayah Riani hanya diam dan menatap wajahku dengan lekat.



Ingin rasanya membuka mulut, tapi aku bingung harus memulai darimana.



"Sekarang apa maumu?"



Pertanyaan yang sekonyong-konyong itu membuat dahiku berkerut. Pria ini begitu simple dan langsung pada intinya.



Kutarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian dan tekad.



"Saya tidak menginginkan situasi seperti ini, Ayah. Saya ingin menjemput Riani dan memperbaiki semuanya. Semua yang terjadi hanya sebuah kesalahpahaman."



Kudengar dia berdecih sinis. "Salah paham katamu? Putriku melihat suaminya mencium perempuan lain dan kau katakan kalau itu kesalahpahaman? Begitu?!"



"Sabar, Ayah." Suara ibu mertuaku mencoba menenangkan suaminya yang tampak emosi. Ah, aku harus berterima kasih kepadanya.



"Saya sudah berusaha menghindari perempuan itu, Ayah. Namun dia selalu mengintili kemana pun saya pergi."



"Sekarang aku akan bertanya padamu," ucapnya sambil menyulut rokok. "Bila kau melihat Riani berciuman dengan pria lain, apa kau akan menerima alasan kesalahpahaman yang diberikannya?"



Aku terdiam menunduk. Kulirik Anita yang menatapku dengan iba. Adik iparku itu sangat jarang berbicara. Selama aku menjadi suami kakaknya, perbincangan kami bisa dihitung pakai jari.



"Saya minta maaf, Ayah," ucapku dengan lirih. Dalam situasi ini yang bersalah adalah aku. Maka aku harus merendah dan menunduk bila ingin mendapatkan maaf.



"Tapi saya berani bersumpah bahwa itu semua kecelakaan. Tidak ada sedikitpun niatku untuk mengkhianati Riani."



Ayah mertuaku tertawa. Bukan tertawa yang menyenangkan, tapi tertawa yang mengejekku.



"Bukannya kau sengaja, hah? Putriku sudah tidak sempurna. Wajar saja kalau kau mencari perempuan yang lebih sempurna darinya."



Kuraba ke arah mana pembicaraan ini. Apa dia berpikir aku mencari pengganti Riani?



Kugelengkan kepala dengan cepat. "Pemikiran ayah tentangku sangat salah. Saya mencintai Riani dengan tulus. Kalau tidak, buat apa saya menyusul Riani ke sini."



"Sudahlah, Ayah. Jangan diperpanjang lagi. Kasihan dia." Ibu mertua lagi-lagi menolongku. Kulihat dia menyentuh tangan Anita dan berbisik, "panggil kakakmu. Masalah harus segera diselesaikan. Jangan dibiarkan berlarut-larut."


__ADS_1


Anita mengangguk dan beranjak dari tempatnya.



Terasa sedikit lega karena sebentar lagi aku akan melihat Riani. Kalau situasi tidak seperti ini, pasti sejak tadi aku sudah memeluknya di kamar.



Anita muncul dengan diikuti Riani di belakangnya. Kutelisik wajah kasihku itu. Wajahnya sangat datar. Sebenci itu dia padaku bahkan setelah meninggalkan rumah dia tidak menangis sama sekali. Terbukti dari matanya yang tetap cemerlang meski sedikit satu saat menatapku.



Tak ada bekas tanda-tanda kalau dia menangis sepanjang malam.



Kubuang pandangan. Betapa bodohnya aku. Apa yang sedang kupikirkan. Bagaimana mungkin dia akan menangisi kejadian ini, apalagi jika saja dia tahu kalau Ana sudah meniduri peraduannya tadi malam.



Namun aku sudah membulatkan tekad. Riani harus kembali. Tidak peduli bagaimana Ana akan mengganggu pernikahan kami.



Yang hingga kini aku masih bingung dengan sikap Ana. Apa yang dia inginkan sebenarnya, aku tidak bisa menebaknya.



Uang? Dia tidak pernah memintanya. Atau dia ingin menjadi isteriku? Hal itu sangat mustahil. Apalagi aku adalah seorang pria beristri. Lagipula kami baru saja saling mengenal.



"Jadi bagaimana selanjutnya, Nak?" Suara ibu mertua mengusik lamunanku.



Kuangkat kepala dan melihat Riani yang sudah duduk di sofa. Matanya menatapku dengan tajam. Netra yang biasa lembut dan mesra itu menghilang entah kemana. Namun aku sadar. Akulah penyebab netra itu memudar.



"Seperti yang saya katakan tadi, Ibu. Saya hanya ingin memperbaiki semuanya."



"Kau datanga kemari untuk memperbaiki?" Riani bersuara dengan lugas dan kubalas dengan anggukan kepala.



Dia berdecih. Ekspresinya sangat jijik terhadapku. "Kalau begitu kau salah alamat, Ryan. Satu-satunya yang perlu diperbaiki adalah otakmu yang sudah kotor itu."



Aku tertegun. Betapa kasar ucapannya dan itu membuat hatiku berdenyut. Namun ucapan Riani tidak sampai di situ saja.



"Bukankah kau tidak sudi dengan wanita cacat seperti aku? Lalu kenapa kau masih mau datang kemari? Kenapa kau tidak bersama wanita sempurna yang sudah kau tempeli bibirnya itu?"



Aku hanya diam menatapnya. Membiarkannya melampiaskan uneg-uneg yang menumpuk. Kedua mertuaku dan Anita ikut diam menyaksikan debat kami.



"Kalau kau memang ingin menikah lagi, kau bisa mengatakannya dengan jujur. Aku ikhlas karena aku sadar dengan kondisiku. Tapi bukan dengan cara seperti ini, Ryan."



Dia menangis. Mengusap wajahnya hingga ke kepala yang membuat sebagian rambut lurusnya berantakan.



"Sudah, Riani. Percuma menggunakan emosi saat ini. Lebih baik kau katakan apa maumu, mengapa dan bagaimana selanjutnya."



Ayah mertuaku kembali menyulut rokoknya. Aku masih diam. Biarlah mereka yang mengambil kendali untuk saat ini.




Kutatap dia dengan rasa tak percaya. "Sayang ...."



Dia membuang wajah dan kembali berkata, "aku tidak bisa menerima kejadian ini, Ryan. Jangan memaksaku untuk mengikhlaskan semuanya."



Setelah berkata begitu, dia bangkit. Beberapa langkah menjauh dari tempatnya duduk, dia menoleh dan berkata kepada ayahnya. "Keputusanku sudah bulat, Ayah. Aku ingin bercerai."



Baru saja Riani hendak melangkah masuk kembali ke kamar, suara ketukan di pintu membuat kami semua serentak menoleh.



Betapa terkejutnya aku saat melihat Ana berdiri di sana, dengan wajah menantang dan masih dengan pakaianku!



Gila! Perempuan ini benar-benar sudah gila.



"Apa yang kau lakukan di sini?!" bentakku.



Kudengar Riani tertawa. "Akhirnya tokoh utama hadir juga."



Kugelengkan kepala sambil menatap keluarga isteriku satu persatu. Bisa kulihat wajah Junaidi mengeras. Belum lagi raut wajah ibu mertuaku yang terlihat sangat kecewa. Sedangkan Anita hanya berekspresi dengan datar.



"Apalagi alasanmu, Ryan? Masih ingin mengatakan kalau semua yang kau lakukan adalah kecelakaan? Apa baju yang dipakainya itu juga sebuah kecelakaan?!" Riani menatapku dengab berapi-api.



Aku tidak tahu harus berkata apalagi. Kenapa kau hanya menyalahkanku? Setidaknya bantu aku menjauh dari Ana. Hajar dia. Pukul dia. Seperti orang lain saat mengetahui ada perempuan lain yang mendekati suaminya.



Aku baru saja ingin mengatakan sesuatu ketika Ana bersuara dan melangkah masuk lalu meraih tanganku.



"Kau sudah mengijinkan aku untuk memilikimu tadi malam. Tapi kenapa sekarang kau malah datang ke sini?"



Gigiku gemeletuk menahan amarah. Ingin rasanya kucabik-cabik tubuh perempuan ini dan menyumbangkan dagingnya ke Taman Hewan.



"Cukup, Ryan!" Suara Junaidi menggelegar. "Rumahku bukan tempat perbincangan manusia menjijikkan seperti kalian. Keluar!"



"Tapi, Ayah ...."



"Keluar!"


__ADS_1


Aku terdiam. Kulangkahkan kaki dengan cepat keluar dari sana. Kudengar langkah Ana mengikutiku dari belakang.



"Ryan ...," rengeknya.



Aku berbalik dan mencengkeram wajahnya. "Apa sebenarnya maumu, hah?!"



Kulihat wajahnya meringis kesakitan. Lalu aku melihat Anita yang berdiri di pintu mematap kami dengan sorot mata tajam. Kulepaskan cengkeraman tanganku dan segera masuk ke dalam mobil.



"Ryan, aku ikut."



Ana berusaha membuka pintu yang sudah kukunci dari dalam. Kuhidupkan mesin mobil. Tak menghiraukan ketukan di jendela mobil. Namun baru saja aku hendak menjalankan mobil, Ana menghadang di depan.



Napasku semakin tak beraturan. Emosiku sudah berada pada puncaknya melihat ulah wanita ini. Aku harus memberinya pelajaran.



Kubuka pintu mobil dan dia masuk dengan senyum sumringah. Bisa-bisanya dia tersenyum setelah menghancurkan aku.



Kulajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Bisa kulihat dari sudut mataku kalau Ana menatapku debgan wajah ketakutan.



Ho ho ho. Ternyata dia takut dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di simpang yang tadi kulewati, kembali lupijak pedal gas hingga kandas.



Mobilju meluncur dengan kencang. Beberapa kendaraan roda dua kusalip dengan lincah. Kulirik Ana yang duduk terpaku dengan mata menatap ke depan dengan pucat.



"Kenapa, Ana? Kau takut?"



Aku tertawa keras. Melepaskan kata yang kurasakan. Aku sadar kalau tak akan ada lagi kesempatanku untuk membawa Riani pulang. Semua gara-gara Ana.



Mobil semakin kencang. Ana juga semakin pucat.



"Bukankah kau ingin bersamaku, Ana? Dan sekarang aku sangat ingin menabrakkan mobil ini, apa kau mau ikut denganku?"



Aku kembali tertawa. Apalagi saat mataku melihat sebuah truk yang mengangkut buah kelapa sawit di depan dengan jarak lima puluh meter. Kutekan kembalj pedal gas dan semakin mendekati truk tersebut.



"Ryan!"



Ana berteriak histeris di sampingku. Begitu bagian depan mobilku hampir menyentuh belakang truk tersebut, kupijak pedal rem hingga kandas. Menimbulkan suara decitan melengking.



Aku tahu yang kulakukan barusan adalah sebuah kegilaan. Untung saja di belakangku tidak ada mobil lain. Kalau tidak, pasti sudah terjadi tabrakan beruntun.



Aku menunduk di stir dan seperti orang yang sangat lemah, aku menangis.



"Kau menang, Ana. Kau berhasil."



Ana tidak menjawab. Aku mengangkat kepala dan melihat Ana yang menunduk. Matanya terpejam dan menbuat darahku seperti berhenti mengalir.



"Ana?"



Tak ada jawaban. Kutepikan mobil di pinggir jalan dan membuka seatbelt.



Kuangkat wajahnya yang pucat. Dia pingsan.



"Ana." Kutepuk pipinya dengan sedikit keras. Berharap dia segera sadar. Namun tidak ada tanda-tanda kalau dia akan sadar.



Kuhidupkan kembali mesin mobil dan segera meluncur ke runah sakit terdekat. Rumah Sakit Harapan menjadi pilihanku karena itu yang terdekat saat ini.



Sepanjang perjalanan aku gemetar. Menyesali apa yang kulakukan barusan. Ah, betapa penyesalan selalu menghampiriku akhir-akhir ini.



Sesekali kulirik Ana yang masih saja pingsan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?



Aku tidak berani membayangkan. Perempuan ini benar-benar membuatku harus memompa pikiran dengan sekuat tenaga. Hingga aku hampir melupakan satu fakta dari kejadian tadi malam. Aku menyadari itu semua. Namun karena emosi masih menguasaiku, aku mengabaikan semuanya.



Ana masih perawan.



Itu yang kudapatkan tadi malam. Aku menjadi pria pertama yang menerobos pagar berdarah itu.



Dan kini dia dalam kondisi seperti ini karena ulahku.



Hingga detik ini aku masih meraba motif Ana menghancurkan hidupku.



Gerbang rumah sakit sudah terlihat. Segera aku masuk dan menghentikan mobil tepat di depan pintu IGD.



Beberapa petugas berbaju putih mulai mengurus Ana. Membawanya ke ruangan dingin itu dan meninggalkan aku di luar.



Kutengadahkan kepala yang terasa berat. Setelah ini, kejadian apa lagi yang akan terjadi?



........

__ADS_1



__ADS_2