
suara lantunan adzan subuh berkumandang menandakan bahwa sang Surya ingin segera bangun dari tidur panjangnya
Nadila Fitria wanita muda yang kini memilih meninggalkan sang suami dan pergi bersama dua buah hatinya tengah berkutat dengan tepung dan berbagai bahan untuk membuat kue
Ia ingin mencoba peruntungannya untuk menjual kue disekitaran tempat tinggalnya kini
Wanita itu kini tinggal jauh dari tempat tinggalnya dulu, ia ingin memulai hari baru di kota itu
Pikirnya uang yang ada di tabungannya akan digunakannya untuk membuka usaha tapi apalah daya ternyata Galang sangat egois.setelah kepergian Dila malam itu Galang pun segera memblokir seluruh ATM Dila dengan maksud agar sang istri merasa tak bisa hidup tanpa bantuannya.
"biar ibu bantu nak..." ucap bu Rini seraya meraih spatula yang dipegang oleh Dila untuk menggoreng pisang goreng kipas
"makasih buk....." Dila lalu beralih membuat adonan donat.
Dila dibantu oleh ibunya terus berkutat di dapur membuat kue yang akan dijual oleh Dila nanti
Setetes bulir air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata bu Rini karena melihat jalan kehidupan yang penuh liku dialami putrinya.dengan segera ia menyeka air matanya agar tak terlihat oleh Dila karena ia tak ingin wanita muda itu kepikiran
Pukul enam pagi semua kue sudah siap untuk dibawa Dila berjualan keliling, ia pun menitipkan alby dan thalia pada ibu dan bapaknya
Albi sudah sekolah SD kelas 2 sedangkan thalia tinggal beberapa bulan lagi ia juga sudah waktunya masuk TK tak ayal Dila harus benar benar kerja ekstra untuk bisa membiayai kedua anaknya dan juga kedua orangtuanya yang ia ajak pergi bersamanya waktu itu
Panas terik matahari tak menyurutkan semangat Dila untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah agar tabungnya kelak tak terkuras olehnya hanya untuk sekedar kebutuhan sehari hari
"kue ...kue.....kue...." teriak Dila kala itu saat melewati deretan rumah yang sebagian besar penghuninya tengah bersiap pula untuk menjemput rezeki
"mbak .....kue...." teriak seorang perempuan berjilbab hijau ke arah Dila yang sudah melewati rumahnya
__ADS_1
Segera Dila berbalik lalu menghampiri perempuan tersebut
"jual kue ya mbak..." tanya perempuan itu
"iya mbak... mau kue apa?" tanya Dila
"berapaan mbak?"
"dua ribuan....mau berapa mbak"
"oh....beli dua puluh ribu mbak, dicampur ya" dengan segera Dila pun memasukkan sebelas buah kue dengan berbagai jenis ke dalam kantong plastik yang ia sediakan
"ini saya lebihkan satu mbak itung-itung buat promo , moga moga mbak suka ya sama kuenya biar besok mau beli lagi" ucap Dila dengan senyum tulus dari bibirnya
"makasih mbak.... insyaallah pasti beli lagi karena kalau pagi suka ribet kalo harus masak"
Dila pun tersenyum menanggapi ucapan wanita tersebut lalu setelahnya ia pun pamit untuk melanjutkan berjualan
Wanita itu pun pulang dengan senyum mengembang di bibirnya, setidaknya hasil jualannya hari ini akan cukup untuk belanja kebutuhan perut keluarganya esok
Terbiasa hidup berkecukupan sejak menikah dengan Galang membuat Dila memang sedikit kaget dengan perubahan yang harus dia alami sekarang tapi setidaknya hatinya tenang tanpa harus memikirkan suami yang tak tulus mencintainya
Tapi tidak dengan thalia, anak perempuan Dila itu terkadang masih merengek meminta di belikan makanan mahal yang dulu sering dimakannya saat tinggal bersama ayahnya
Kini bagi Dila sekedar martabak yang harganya lima belas ribuan itu teramat mahal untuknya karena ia belum mendapatkan penghasilan tetap.
Langkah kaki Dila terhenti di depan pintu rumahnya saat ia mendengar kedua orang tuanya tengah berbincang
__ADS_1
"bapak yakin dengan keputusan bapak.... kenapa gak disewakan saja sih pak" terdengar suara bu Rini yang seperti menggiba kepada suaminya
"tapi buk sekarang Dila itu butuh uangnya.... kalau rumah kita jual insyaallah bisa buat modal Dila berjualan.... bapak kasian lihat dia wara wiri cari kerja terus tadi pagi....ibu pikir bapak itu enak enakan tidur di kamar gitu, bapak itu juga ngintipin kalian bikin kue di dapur" pak terlihat menghembuskan nafasnya berat lalu kembali berucap
"beberapa tahun terakhir Dila itu hidupnya berkecukupan terus sekarang tiba tiba seperti ini bapak takutnya dia itu putus asa atau gimana gitu lho buk, karena bapak juga salah...dulu bapak juga yang minta Dila menikah dengan lelaki tak punya hati itu... bapak kira lambat laun Galang akan mencintai putriku dengan tulus tapi ternyata dia benar benar lelaki....ah sudahlah buk keputusan bapak sudah bulat bapak mau jual saja rumah kita toh rumah itu juga nantinya buat Dila,"
Hening tak ada suara bahkan bu Rini hanya terdengar menghembuskan nafasnya yang terdengar berat
Air mata Dila sudah membasahi pipinya, ia tak ingin rumah keluarganya sampai terjual, bagaimanapun caranya ia akan berjuang untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan. Tak ingin lagi keluarganya merasa terbebani dengan deritanya
"jangan dijual pak rumahnya...." netra pak adji dan bu rini pun langsung tertuju kepada pemilik suara itu yang berada di ambang pintu
Dila berjalan mendekati ibu dan bapaknya lalu menaruh keranjang yang ia buat berjualan setelahnya ia pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian lalu duduk bersebrangan dengan mereka
"jangan di jual pak rumahnya.... kita gak tau apa yang akan terjadi esok, tapi kalau sekedar di sewakan per bulan sih gak papa tapi tidak untuk dijual.... insyaallah Dila masih bisa memenuhi kebutuhan kita meskipun kita tidak bisa hidup mewah" ucap Dila dengan suara bergetar, ingin rasanya ia menangis di pelukan bapaknya tapi ia tahan agar kedua raga yang sudah tak muda lagi itu tak terlalu merasa terbebani dengan deritanya
"tapi Dil... mungkin kamu bisa buat bikin toko atau sewa kios agar kamu tak keliling seperti ini nak, bapak gak tega liat kamu begini...."
"bapak ini ngomong apa sih.... bapak malu kah punya anak yang bau keringat karena kepanasan mencari uang?"
"ya gak lah ngapain malu...."
"ya sudah kalau gitu biarin Dila berusaha dengan cara Dila sendiri jika nanti suatu saat Dila gak kuat pasti Dila akan minta bantuan bapak kok.... sekarang Dila cuma minta tolong bantuin jaga anak anak pak, bu..... mereka juga harus ada yang ngawasin "
"ya sudah terserah kamu aja kalau gitu Dil...."
"oh ya bu....ini hasil jualan hari ini, Alhamdulillah buk kuenya laku banyak hanya tinggal beberapa...."
__ADS_1
"Alhamdulillah.... ternyata untungnya lumayan ya nak"
Dila tersenyum senang melihat ekspresi ibunya