
Muthia pagi pagi sudah bangun, ia ingin membuat masakan kesukaan suami dan kakak madunya. Meskipun sikap Sandra tak pernah baik, sebisa mungkin Muthia selalu tak mau ambil hati atau membenci kakak madunya, Muthia paham kalau kehadirannya yang sudah membuat sandra berbuat demikian, Muthia hamya bisa berdoa dan berharap jika suatu saat kakak madunya bisa menerima kehadirannya dan bisa hidup berdampingan dengan rukun dan bahagia.
"Mbok, tolong yaa nanti kalau ada Mamang sayur lewat, belikan cabe sama sayuran, saya mau bikin capcay, dan tolong nanti mbok bantuin saya masak, karena hari ini saya ingin memasak beberapa menu, kang Aswin akan pulang."
Mbok Narti mengiyakan perintah Muthia tanpa banyak bertanya, meskipun banyak diam, tapi mbok Narti sangat rajin dan cekatan, mungkin masih canggung karena baru beberapa hari bekerja dirumah Muthia.
" Pak Aswin sering keluar kota ya Bu?" Tanya mbok Narti lugu.
"Iya mbok, nanti bapak sama istri pertamanya akan datang, makanya saya sudah mau masak makanan kesukaan suami dan teh Sandra."
Mbok Narti kaget saat Muthia menyebut istri pertama, mbok Narti mikir kalau Muthia istri satu satunya tapi ternyata istri kedua.
Melihat ekspresi mbok Narti berubah bingung, Muthia tersenyum dan menjelaskan ucapannya, bagaimanapun mbok Narti juga harus tau dengan stts rumah tangganya.
"Saya istri keduanya kang Aswin mbok, dan istri pertamanya kang Aswin teh Sandra namanya, orangnya cantik dan baik."
"Owh begitu ya Bu, mbok nggak menyangka kalau Bu Muthia ini jadi istri kedua."
Muthia tersenyum menanggapi tanggapan ARTnya.
"takdir yang mempertemukan kami mbok, kang Aswin laki laki yang baik dan bertanggung jawab, selalu berusaha bersikap adil pada kami istri istrinya, itulah kenapa saya sangat mencintai sosoknya, cinta kami sudah tertanam saat kami masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah, saya pikir kang Aswin tidak akan pernah tergapai karena dia sudah menikah karena perjodohan, namun ternyata takdir menyatukan kita dengan caraNYA yang indah." Muthia bercerita dengan mata berkaca kaca, hatinya berubah sendu mengenang perjalanan cintanya dengan Aswin yang penuh dengan liku.
Mbok Narti hanya diam mendengarkan penuturan Muthia, karena mbok Narti paham betul akan batasannya, meskipun banyak sekali yang ingin ditanyakan tapi mbok Narti berusaha menahannya, tidak ingin terlalu kepo dan terkesan mengurusi kehidupan majikannya karena itu bukan ranahnya.
"Ibu mau masak apa ini? biar mbok bantu menyiapkan bahan bahannya."
__ADS_1
"Mau bikin capcay, SOP ikan, sama rendang mbok."
------------------
Tak terasa hampir satu jam Muthia dan mbok Narti berkutat di dapur dengan berbagai aneka macam bahan masakan.
"akhirnya selesai juga." Muthia tersenyum lega dan meminta mbok Narti menata semua hidangan di atas meja makan dengan rapi, sedangkan Muthia menyiapkan keperluan mandi anak laki lakinya.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, Muthia sudah rapi dan makanan juga sudah terhidang di meja, sambil menunggu kedatangan Aswin dan Sandra, Muthia menemani Yusuf bermain di ruang tengah, sedangkan mbok Narti masih menyetrika baju di ruangan belakang.
Ting tung ting tung, bel rumah berbunyi, Muthia degan segera membukakan pintu, wajah Aswin dan Sandra terlihat kala pintu terbuka, dan Muthia menyambutnya ramah dengan senyuman manis juga hangat.
"Assalamualaikum" Aswin dan Sandra mengucapkan salam sebelum masuk, dan disambut senyuman ramah dari muthia dan menyalimi Aswin dan Sandra dengan takzim.
"Waalaikumsallam, mari masuk. Teteh apa kabarnya?" Muthia langsung menyapa kakak madunya dengan ramah.
"Tadi Muthia sudah masakin makanan kesukaan teteh sama ayah Aswin, gimana kalau kita makan dulu." tawar Muthia masih dengan senyum yang mengembang.
"Wah, pasti enak nih, tadi kebetulan ayah sama bunda Sandra masih sarapan sama roti saja, kalau begitu, yuk kita makan bareng menikmati masakan bunda Muthia." Aswin sambil menggendong jagoan kecilnya menuju ruang makan yang ada di dapur.
Sandra tak banyak bicara, sebisa mungkin dia menahan kekesalannya melihat sikap suami dan istri mudanya. 'meskipun kalian sok bersikap baik padaku, tak akan mengubah kebencian ku, kalian akan merasakan apa yang aku rasakan, lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini." Batin Sandra bermonolog.
Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring, hening tanpa suara, suasana yang lumayan canggung antara satu suami dan kedua istri, aah bikin pusing saja batin Aswin.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Setelah menyelesaikan ritual makan bersamanya, Aswin mengajak kedua istrinya untuk berkumpul disofa ruang tamu, Aswin ingin bicara dari hati ke hati dengan istri istrinya, agar tak ada lagi yang saling menyakiti.
Muthia dan Sandra duduk dalam satu kursi dengan berdampingan, sedangkan Aswin duduk berhadapan dengan para istrinya dengan Yusuf berada di pangkuannya, jagoan kecilnya dari pernikahannya dengan Muthia.
"sebelum kita bicara lebih baik Yusuf biar sama mbok Narti dulu, meskipun dia belum paham dengan apa yang kita bicarakan itu tetap tidak akan baik dengan pertumbuhannya."
Muthia mengambil alih Yusuf dari pangkuan Aswin untuk dibawa ke mbok Narti.
"mbok setrikanya diterusin nanti aja ya, tolong jagain Yusuf dulu, bawa ke kamar dan tutup pintunya, karena kami mau membicarakan sesuatu."
"Baik Bu. yuk Yusuf sayang ikut sama si mbok, kita main di kamarnya Yusuf." mbok Narti membawa Yusuf masuk ke dalam kamar dan mulai mengalihkan dengan mainan yang di sukai yusuf.
Muthia kembali menuju ruang tamu untuk bergabung dengan suami dan kakak madunya.
Sesaat hanya saling diam diantara ketiganya, sampai akhirnya Aswin membuka suara untuk menghilangkan kecanggungan kedua istrinya.
Aswin memandangi bergantian kedua bidadarinya itu, keduanya sama sama cantik dan sama sama memiliki kulit putih bersih, cuma bedanya, Sandra masih suka dengan hijab hijab kekiniannya, sedang Muthia sudah terbiasa dengan hijab syar'inya.
"Ayah mengajak kalian disini duduk bareng dan ngobrol dari hati ke hati untuk saling berbicara, mengeluarkan semua uneg uneg dan keinginan sesuai kenyamanan, karena ayah nggak mau lagi hal yang kemarin terulang, yang pertama silahkan bunda Sandra, katakan apa yang ingin bunda katakan, mari kita diskusikan bersama demi kebaikan kita dan rumah tangga ini." Suara tegas Aswin seketika memecah keheningan.
Sandra menghembuskan nafasnya dalam, diliriknya Muthia dengan tatapan yang entah, lalu mengalihkan pandangan ke arah suaminya.
"Sebelumnya aku minta maaf, kalau selama ini sudah mengambil hakmu Muthia, kalaupun kamu ingin memintanya, aku akan kembalikan tapi tidak sekarang, berikan aku waktu."
"Tidak teh, teteh tidak perlu mengembalikannya, dan akupun juga sudah mengikhlaskan itu." Muthia menatap lekat ke arah kakak madunya dengan perasaan haru.
__ADS_1
"Dan jujur aku cemburu dan belum sanggup jika harus berbagi, namun semua sudah terjadi, dulu aku pikir semua akan baik baik saja, tapi nyatanya hatiku tidak sekuat itu, disini aku harap sebagai istri kedua kamu bisa memahamiku thia, dan aku ingin jatah pulangnya kang Aswin kerumahmu dirubah. kang Aswin akan bersamaku Senin hingga Kamis, dan hari Jumat Sabtu dia bersamamu, untuk hari minggunya kita bisa bergilir, jika Minggu ini dia bersamamu maka Minggu berikutnya bersamaku begitu seterusnya, dan aku juga minta uang jatah belanja ditambah dari yang sebumnya lima puluh juta jadi tujuh puluh lima juta, dan aku ingin ikut mengelola usaha travel yang sekarang kang Aswin pegang, hanya itu sih ke inginanku saat ini, bagaimana apakah kalian tidak keberatan?"
Aswin membuang nafasnya kasar, tak pernah ada dalam pikirannya kalau Sandra bisa sekemaruk itu sama harta. Aswin menatap ke arah Muthia yang hanya menunduk, Aswin tau meskipun istri keduanya itu diam, hatinya pasti sangat terluka dengan ketidak Adilan dalam berbagi. Aswin mengusap wajahnya kasar, bingung harus mengikuti keinginan Sandra atau bersikap lebih keras dengan iatrinya yang sudah mulai berubah sikapnya itu.