
"Oh...itu mbak Alika nya ada keperluan mendadak jadi Anaya nya ditinggal di rumah "ucap mbok sum dengan tangannya yang tak berhenti berkutat dengan pembungkus nasi berwarna putih tipis itu
Deg
"Alika...."
tak berapa lama Dahlia pun sudah kembali dengan botol susu kecil di tangannya, sedangkan Anaya terus bergeliat dan menangis
Oek...oek...oek....
"cup sayang.....cup... cup....cup....." Dahlia terus menimang Anaya yang masih menangis di dalam dekapannya
Sementara Dila masih men sugesti pikirannya kalau nama Alika di dunia ini tidak hanya satu,
tempat ini sudah jauh dari tempat tinggalnya dulu tak mungkin sudah sejauh ini masih bertemu dengan orang orang di masa lalunya
ia terus membantu mbok sum menata nasi, ayam goreng, telur juga serundeng dan cap jay goreng ke dalam kotak nasi tersebut
"ini kenapa ya simbok kok tumben Anaya nya rewel gini...." tanya Dahlia pada ibunya yang masih duduk beralaskan tikar dengan Dila
"biasa itu Dahlia....ini kan acara selamatan papanya, mungkin aja papanya lagi nengokin anaknya, soalnya kepercayaan orang tua jaman dulu kalo pas empat puluh harian dan seratus harian seperti ini mereka yang didoakan itu akan pulang...."
Dahlia diam menyimak kata demi kata yang diucapkan oleh mbok sum. Dila pun ikut mendengarkan perkataan mbok sum seraya tangannya tak henti bergerak menata makanan di depannya itu
"gendong terus saja itu Anaya ya nduk,,,, bentar lagi juga pulang mamanya " titah mbok sum dibalas anggukan kepala oleh Dahlia
Dila yang semakin penasaran pun akhirnya melontar tanya
"maaf,memangnya papanya sudah meninggal ya mbok?" tanyanya akhirnya
"iya mbak.... kasian mamanya, hamil delapan bulan tiba tiba pak teguh meninggal karena serangan jantung... mbak Alika yang shock akhirnya melahirkan sebelum waktunya...."
kotak nasi yang berada di tangan Dila pun terlepas begitu saja dari tangannya, dunianya serasa berhenti di satu titik.... bahkan ia dengan susah payah menelan salivanya
"teguh... Alika....ya Allah kenapa sesempit ini dunia ku" batinnya
"kenapa mbak Dila..... apa mbak sakit?" tanya Dahlia
Dila yang tersadar dari lamunannya itu pun segera menjawab tanya Dahlia
"ah... gak mbak Dahlia....oh ya ini sebentar lagi selesai..."
__ADS_1
Dila dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak ingin bertemu dengan wanita di masa lalunya itu...
"maaf mbak Dahlia ini sudah selesai, bisa saya minta sisa uang pembayaran kuenya"
"oh ya....simbok mana uangnya buat bayar kue," pinta Dahlia pada ibunya
"ini ya mbak...." mbok sum menyerahkan sepuluh lembar uang berwarna biru pada Dila
"maaf ini sepertinya kebanyakan deh mbok...." ucapnya saat menghitung jumlah uang yang kini berada di genggamannya
"gak kok mbak...itu sekalian dengan upah mbaknya bantuin nata berkatnya tadi, kalau gak ada mbaknya mana mungkin sekarang selesai "
tak berapa lama saat Dila ingin berdiri dari posisi duduknya saat ini sebuah salam menghentikan pergerakan tubuhnya
"assalamualaikum...." ucap Alika dan leo bersamaan
"waalaikum salam......" Jawab mereka bertiga
"eh itu mama sudah pulang sayang....." Dahlia yang mengendong Anaya pun segera mendekati raga Alika
"kenapa... rewel ya anaknya mama " Alika segera meraih Anaya dan segera mengendong putri kecilnya itu
Alika yang mendengar nama Dila disebut pun tak kalah kagetnya dengan Dila beberapa saat yang lalu saat nama mantan madunya itu disebut
Dengan perlahan Dila membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alika yang berdiri tak jauh darinya
"mbak Dila...."
...----------------...
"minumlah mbak...." Alika meletakkan dua gelas es teh diatas meja, memberikan segelas untuk Dila dan segelas lagi untuk dirinya
usai acara selamatan tadi sengaja Alika meminta Dila untuk tidak pulang terlebih dahulu, banyak hal yang ingin di tanyakan nya pada Dila
tak pernah terbayangkan olehnya Wanita muda penjual kue keliling yang beberapa kali diceritakan oleh Dahlia adalah Dila,
duduk berdua bersisian dengan meja sebagai pemisah keduanya, mereka berdua pun sama sama larut dalam pikirannya masing-masing
Sementara di dalam rumah, Dahlia yang membantu ibunya membersihkan sisa-sisa makanan usai selamatan pun akhirnya bertanya pada ibunya
"mereka berdua sudah saling kenal ya mbok..." tanyanya
__ADS_1
"bukan kenal lagi... mereka pernah tinggal seatap dengan suami yang sama..." ucap mbok sum diiringi dengan ******* nafas yang dalam
"astaghfirullah hal adzim.... maksute simbok apa, mereka berdua pelaku poligami" mbok sum pun menganggukkan kepalanya lalu duduk bersandar di dinding, setelahnya Dahlia pun mendekati raga ibunya itu untuk mendengarkan cerita tentang Dila dan Alika
Mbok sum pun menceritakan kisah mereka berdua melalui versinya.... hingga berkali-kali Dahlia berucap istighfar seraya mengelus dadanya
"ya Allah mbok.... kasian ya....tapi kok sekarang mbak Dila jadi penjual kue keliling ya.... harusnya kan hidupnya sudah enak sama suaminya,"
"denger denger mereka sudah bercerai...tapi ya gak tau lah nduk.... besok saja simbok tanyakan sama mbak Alika,kok bisa sekarang mantan madunya itu jadi penjual kue keliling "
*kembali ke teras rumah tempat Alika dan Dila kini duduk bersebrangan
"bagaimana kabarnya mbak Dila...."
"seperti yang mbak Alika lihat...aku baik, mbak sendiri bagaimana... maaf ya mbak waktu itu saya tidak sempat berkunjung ke tempat mbak Alika saat suami mbak Alika meninggal "
"tak apa.... maaf boleh aku bertanya sesuatu mbak "
"silahkan.... pasti mbak Alika ingin bertanya kenapa sekarang saya jualan kue keliling ya kan "
"iya...."
"saya hanya ingin mencari uang demi sesuap nasi untuk orangtuaku dan juga anak anakku mbak... apakah salah,toh ini pekerjaan yang halal..."
"bukan begitu mbak Dila yang ingin aku tanyakan... tapi kenapa harus berjualan kue keliling.... maaf bukan maksud menghina ataupun merendahkan orang berjualan karena aku sendiri juga berjualan tapi berapa sih hasil yang mbak Dila dapatkan dengan berjualan kue keliling, kenapa tidak membuat usaha yang lain saja setidaknya mbak Dila tidak harus terbakar panas teriknya matahari "
Seketika itu mata Dila pun memanas, bulir bening itu pun lolos begitu saja diiringi isakan pelan dari pemilik raga
"mbak... kenapa...." Alika memegang bahu Dila dengan perlahan
"aku tak punya cukup uang untuk sekedar membuka toko di depan rumah mbak... semua ATM ku diblokir mas Galang, bahkan setelah perceraian kami harta Gono gini sengaja ia sita agar aku datang kesana mengemis padanya ...dia ingin buktikan kalau aku takkan mampu bertahan tanpanya ... hanya dengan berjualan kue keliling setidaknya ada uang yang masuk untuk mengisi perut kami " ucap Dila disela tangisnya
"keterlaluan mas Galang...aku akan memintakan apa yang harusnya menjadi hak mbak Dila dan juga anak anak kalian...."
"jangan mbak Alika,aku mohon....aku bisa tanpa mas Galang....aku bisa mbak...."
💞💞💞💞💞💞💞
Lanjut besok ya guys.... happy reading
Oh ya gak bosan bosan aku ingetin mampir yuk ke novel kedua ku "penantian Larasati " masih sepi bingitssss
__ADS_1