Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 25 Pulang dari rumah sakit


__ADS_3

Aswin mengurungkan niatnya untuk masuk ruang rawat Sandra, membiarkan kedua wanitanya bercengkrama.


Aswin melangkahkan kaki menuju kantin rumah sakit, menikmati secangkir kopi dengan perasaan lega juga bahagia. Tak henti bibirnya merekah kan senyum tipis, untuk mengucap syukurnya, Aswin berbagi di kantin rumah sakit dengan memborong semua dagangan yang ada, semua pengunjung kantin mendapatkan makanan dan minuman gratis, karena sudah di beli semua oleh Aswin.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Hari ini Sandra sudah diperbolehkan pulang, meskipun fisiknya belum sepenuhnya pulih, tapi keadaannya sudah jauh lebih baik, namun Sandra masih belum bisa untuk berjalan sendiri, masih menggunakan bantuan kursi roda.


Ada Aswin dan Muthia yang selalu siap untuk menjaga dan merawat Sandra dengan penuh cinta.


"Alhamdulillah ya teh, akhirnya teteh sudah diijinkan  untuk pulang, tinggal nanti rajin kontrol dan terapi, biar teh Sandra bisa segera pulih seperti sedia kala, dan kita bisa pergi liburan sama sama." ucap Muthia di sela-sela aktifitasnya membereskan barang barang Sandra.


"Aamiin, makasih dek." Sandra tersenyum tulus ke arah Muthia.


Seperti mimpi Kala mendengar Sandra menyebutnya dengan sebutan "dek", itu artinya Sandra sudah mulai menerima kehadiran Muthia sebagai adik madunya.


Muthia tersenyum, tak terasa kristal bening berlahan jatuh dari kedua bola matanya, ada rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya, rasa haru juga bahagia hadir bersamaan.


Menyadari Muthia menangis, Sandra panik.


Takut jika ucapannya membuat Muthia tersinggung.

__ADS_1


"Maafin aku ya, kalau ucapanku.."


Kalimat Sandra mengambang oleh sahutan dari Muthia.


"Nggak teh, teteh nggak salah kok.


Ini Air mata bahagia, jujur aku seneng banget, hubungan kita bisa baik baik seperti ini.


Trimakasih banyak ya teh, terimakasih." Muthia memeluk Sandra haru.


Sandra membalas pelukan Muthia dan mengusap bahunya lembut.


"Thia, kita di takdir kan mencintai pria yang sama, dan sekarang tugas kita adalah saling bergandengan untuk menuju jalanNYA.


Muthia terharu dengan kalimat demi kalimat yang dilontarkan Sandra, terdengar bijak dan adem di hati.


"Insya Alloh, kita sama sama belajar ya teh." Mereka saling menatap dalam, menyelami hati masing masing dengan berusaha untuk menumbuhkan keikhlasan saling menerima. Cinta yang sama-sama besar untuk suaminya, cinta yang sama-sama tulus pada pria yang sama, akan membuat mereka saling bergandengan, berpegang teguh pada satu keyakinan tentang pemahaman poligami sesuai syariat.


"Kang Aswin jemput kita atau gimana?" tanya Sandra pada akhirnya, setelah saling menguatkan dengan berpelukan diantara keduanya. "Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi suami kita datang, tadi bilang mau kesini setelah mengantar anak anak ke sekolah, karena pak Rahmad masih sakit." balas Muthia lembut sambil mengusap lengan Sandra.


"Setelah ini, apa kamu akan kembali kerumah kamu, Thia?" sambung Sandra setelah beberapa saat terdiam. Muthia menatap lekat manik mata bening Sandra dengan seulas senyuman yang meneduhkan bagi siapa saja yang melihatnya. "Jika di ijinkan, untuk sementara Thia akan sering berada dirumah teteh selama teh Sandra masih sakit, Thia akan merawat teteh dengan kedua tangan ini sendiri hingga teh Sandra sembuh, boleh?" balas Muthia mantap, dan meminta ijin terlebih dahulu pada Sandra.

__ADS_1


"Thia, terimakasih ya. Sudah merawat ku dengan baik, aku gak tau kalau orang lain yang merawatnya, karena aku tidak biasa berinteraksi sama orang yang belum aku kenal." Muthia tersenyum dan mengusap bahu Sandra lembut, menyalurkan kekuatan lewat kasih sayangnya yang begitu tulus. "Sudah, teteh tidak usah banyak berpikir macam macam, dan jangan terus mengatakan terimakasih, karena ini memang sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban ku untuk merawat dan memastikan teh Sandra baik baik saja. Insyaallah, aku senang bisa melakukan ini, dan insyaallah aku iklas." Muthia berusaha memberi keyakinan terhadap Sandra yang masih merasa menyesal dan gak enak akan sikap dzolim yang sudah pernah ia lakukan sebelumnya pada Muthia, tapi justru kini dibalas dengan sebuah kasih sayang dan sikap yang tulus dalam merawat dirinya yang tak bisa melakukan apa apa .


"Asalamualaikum." suara Aswin membuat kedua wanitanya menoleh bersamaan, wajah tampan dan meneduhkan itu tersenyum melihat keakraban keduanya, hatinya sangat bahagia dan bersyukur, karena pemandangan seperti inilah yang selalu ia harapkan di dalam rumah tangganya. "Sudah siap, pulang bund?" sapa Aswin pada akhirnya, kakinya berjalan menghampiri Sandra yang masih duduk bersandar di ujung ranjang rumah sakit. "Alhamdulillah, sudah." Sandra tersenyum dan mengulurkan tangannya menyalimi suaminya dengan takzim, pun dengan Muthia juga melakukan hal yang sama. "Sudah siap semuanya bund?" pandangan Aswin beralih pada istri keduanya yang juga tersenyum menatapnya. "Sudah, yah. Tinggal urus administrasi nya." bakas Muthia mengingatkan dan membuat Aswin menggeleng karena benar benar lupa kalau belum membereskan administrasinya. Bergegas kakinya melangkah menuju ruang pembayaran, setelah semuanya beres, Aswin kembali ke kamar istrinya dan melihat Sandara dan Muthia sedang asik ngobrol duduk dalam satu kasur.


"Sudah beres semuanya, ayo bund, ayah bantu pindah ke kursi roda, bunda Muthia bantu pegangin ya." titah Aswin lembut pada istrinya. Setelah Sandra sudah pindah tempat ke kursi roda, Aswin mendorongnya pelan keluar dari rumah sakit yang diikuti Muthia dengan membawa tas jinjing yang berisi keperluan Sandra sewaktu dirawat di rumah sakit.


"Gimana bund, udah agak enakan badannya?" Aswin membuka obrolan saat sudah memasuki mobil yang mulai dilajukan nya dengan kecepatan sedang. "Alhamdulillah, Yah. Sudah bisa sedikit di gerakan. Dan sudah gak sakit semua badannya, pegelnya sudah hilang. Tapi masih belum bisa melakukan apa apa sendiri, maafkan bunda ya, sudah membuat ayah dan Muthia repot." Sandra menatap sendu ke arah depan dengan mata berkaca, ada gurat sedih dan malu yang hadir mengusik hatinya yang rapuh. "Bunda, sabar ya. Dan jangan mikir macam macam, ayah maupun Muthia insyaallah iklas dan senang membantu bunda agar segera kembali sehat, fokus saja untuk penyembuhan bunda, kita ikhtiar bersama, di balik musibah ini, ada hikmah yang kita dapat, bersatunya istri istri Ayah yang sama sama shalihah, Alhamdulillah." sahut Aswin menatap bergantian pada sandra dan Muthia yang tersenyum.


#Pesan cinta author 💓


Belajarlah cinta kepada Buya Hamka.


☘️Cinta itu ibarat berjuang dalam Medan perang, yakni perang yang hebat dalam rohani manusia.


Jika ia menang, akan di dapati dari orang yang tulus iklas, luas pikiran, sabar dan tenang hati.


Jika ia kalah, akan di dapati orang yang putus asa, sesat, lemah hati, kecil perasaan dan bahkan kadang kadang hilang kepercayaan pada diri sendiri.


#Belajarlah juga dari Rumi seorang sufistik mulia.


☘️Cinta yang agung akan mengubah kekerasan menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan.

__ADS_1


Dan belajar dicintai juga mencintai dapat membawa perubahan yang positif bagi kehidupan.


__ADS_2