
"Selama satu Minggu, aku tinggal dirumah teh Sandra, merawatnya dengan penuh cinta, karena aku tau, teh Sandra adalah perempuan baik dan lembut, mungkin karena rasa cemburunya hingga dia sanggup bersikap tidak baik padaku, dan itu sudah berlalu, tidak ada sedikitpun rasa benciku untuknya, apa lagi menyimpan amarah karena sikapnya. Aku selalu berusaha memakluminya, karena hati yakin, sikap yang keras akan luluh juga oleh sikap dan perbuatan yang tulus.
Sepenuhnya diri ini sadar, menjadi istri kedua tidaklah mudah. Banyak rintang dan rasa yang kian menghujam. Tapi saat aku menerima pinangan untuk menjadi istri kedua, saat itulah aku sudah mulai menguatkan hati, melapangkan dada, dari segala kemungkinan kemungkinan yang terjadi, dari bagaimana orang lain menilai, dari bagaimana nanti aku harus bersikap, dan bagaimana aku menguatkan diri dari sesuatu yang mungkin menyakiti perasaan. Doa dan terus belajar bersikap bijak, adalah cara agar hati semakin kuat dan tumbuh dewasa. Tersebab rasa cinta yang begitu dalam pada sosok lelaki yang sudah mencintaiku dengan sepenuh jiwanya, iya! Kang Aswin adalah satu satunya alasanku bertahan, cinta yang tumbuh tak lagi bisa di wakilkan oleh kata, karena cinta yang hadir begitu tulus dan indah, sungguh aku benar benar menyerahkan hatiku padanya." Muthia menatap lurus ke depan, menikmati setiap desiran angin yang menampar kulitnya yang bersih, bayangan akan setiap kejadian berkelendar di ingatannya.
"Bund, kok melamun. Ada apa?" suara kang Aswin membuyarkan lamunanku akan perjalanan kisah rumah tangga kami, wajah teduhnya selalu membuatku merasa nyaman berada dekat di sisinya. "Hmm, gak ada yang melamun, hanya saja bunda lagi mengenang perjalanan kita dari awal hingga saat ini. Aku tak bisa lepas dari mencintai kamu, entah kenapa hatiku selalu terikat dengan semua bayangan dan cinta kamu, aku ternyata sebucin itu ya?" kang Aswin tersenyum dan memelukku erat dalam dekapannya. Mengalirkan cinta yang begitu besar untuk aku rasakan lewat detak jantungnya dan dalam setiap hembusan nafasnya. Nyaman dan menenangkan.
"Sayang, kamu tau gak? kalau aku juga sama kayak kamu, bucin. Karena aku juga tidak sanggup kalau harus berpisah lagi darimu. Bertahun tahun aku selalu menantimu dalam doa di setiap sujud panjang ku. Rasa ini, tak lagi bisa diterjemahkan dengan satu kalimat pun. Yang aku tau, aku begitu memujamu, aku sangat mencintaimu dan aku tak bisa menjalani waktu tanpa kamu di sisiku."
"Hmm, kita kok kayak ABG ya?" Muthia tertawa menanggapi gombalan suaminya, dan tanpa mereka sadari ada hati wanita lain yang terkoyak mendengar rayuan demi rayuan yang terlontarkan.
Sandra terdiam, air mata yang sedari tadi ingin ditahan, telah tumpah tanpa bisa lagi dia bendung, sakit, sesak dan terluka. Tapi dia bisa apa, dari awal hubungannya dengan Aswin, Sandra sudah tau resikonya, mencintai laki laki yang hatinya milik wanita lain, dan sandra hanyalah wanita yang menumpang rasa di sudut hati sang suami tanpa cinta.
"Aku harus kuat, harus bisa menahan diri, Muthia kini juga istrinya suamiku, dan dia juga sudah bersikap baik dan begitu menghormati kehadiranku, rasa sakit ini, biarlah menjadi jalan surgaku kelak. Alloh, aku iklas. Bantu hati ini untuk selalu kuat menerima kenyataan yang terus menyayat jiwaku." Sandra memilih pergi dengan meminta suster mendorong kursi rodanya masuk kembali ke dalam kamar, disana dia tumpahkan semua rasa sakitnya, menangis hingga dadanya sesak. Suster Mirna hanya diam mematung, bahkan dirinya juga tidak sanggup melihat, majikannya terluka. "Kasihan Bu Sandra, apakah orang kaya kebanyakan seperti ini?" gumam suster Mira dalam hatinya.
"Mirna, kunci pintunya, kamu keluar saja tapi jangan matikan ponselmu, kalau aku butuh sesuatu biar mudah menghubungimu. Dan tolong jangan bilang apapun pada suamiku juga Muthia tentang keadaan ku, aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Jika mereka tanya, bilang saja aku sedang istirahat, tidur!" perintah Sandra dengan suara parau, bulir bulir bening kian deras berjatuhan di pipi mulusnya.
__ADS_1
"Baik, Bu!"
tanpa banyak bicara, Mirna keluar dari kamar dan menguncinya. Hatinya ikut merasa sakit melihat Sandra meraung dengan perasaan terluka, namun Mirna tak berani menilai apapun, karena itu bukan ranah nya. Di rumah ini dia hanya sebagai perawat yang tugasnya menjaga dan merawat Sandra, tidak lebih.
"Mir, kok kamu diluar, Bu sandra tidur?" tanya Muthia lembut saat berpapasan dengan Mirna yang baru saja keluar dari kamarnya Sandra.
"Iya, Bu. Bu Sandra baru saja tidur, mungkin kecapean karena tadi habis terapi." jawab Mirna berbohong.
"Yasudah, kamu istirahat saja kalau begitu. Tapi harus sering lihat Bu Sandra ya, takutnya Bu Sandra butuh apa apa." balas Muthia dengan tatapan menyelidik, di hatinya curiga, pasti ada yang tengah Mirna sembunyikan, tapi tidak tau itu apa.
"Em, jangan pak! itu, Bu Sandra baru saja tidur, takutnya nanti pak Aswin membangunkannya. Kasihan Bu Sandra baru saja terapi, butuh banyak istirahat." Mirna berusaha mencari alasan yang tepat, agar Aswin maupun Muthia tidak curiga, kalau di dalam kamar sebenarnya Sandra sedang menangis terluka, setelah melihat kemesraan antara Aswin dan Muthia di taman belakang rumah.
"Owh, yasudah. Kalau begitu ayah berangkat ke kantor dulu ya bund, titip Sandra sama anak anak." Aswin mengulurkan tangannya dan disambut Muthia, sebelum berangkat mereka berpelukan dan saling mengecup lembut.
"Mbak!" Muthia menghampiri Mirna yang sedang duduk di kursi dapur sambil menyesap teh hangat di cangkir yang ia pegang. "Iya, Bu" Mirna langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara Muthia yang terlihat berjalan menghampirinya.
__ADS_1
""Apa ada sesuatu dengan Bu Sandra?" Muthia langsung ke pokok masalah, karena sejak keluar dari kamarnya Sandra, Mirna terlihat gugup dan seperti orang yang bersedih.
"Bu Sandra?
Bu Sandra baik baik saja Bu, cuma butuh istirahat saja." sahut Mirna gugup, tak berani menatap mata Muthia yang kini tengah menatapnya lekat.
"Katakan saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu sama Bu Sandra." pinta Muthia tegas, karena dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mirna tentang Sandra.
"Maaf, tapi Bu Muthia jangan bilang sama Bu Sandra ya, karena saya sudah janji untuk tidak bilang apa apa sama siapapun."
"Maksudnya?
Berarti benar kalau saat ini terjadi sesuatu sama Bu Sandra? katakan Mir, tolong jangan buat saya khawatir." Muthia langsung terlihat cemas.
"Tadi saat Bu Muthia sama pak Aswin di taman, sebenarnya Bu Sandra juga ada di sana, dan Bu Sandra menangis setelah melihat ibu sama pak Aswin saling merayu."
__ADS_1
Muthia langsung membekap mulutnya, rasa menyesal dan bersalah langsung menghampiri hatinya. "Ya Allah, Astagfirullah. Aku sudah membuat teh Sandra terluka, pasti saat ini dia sedang sedih dan sakit hati, Alloh ampuni kami." Muthia lemas dan terlihat panik, sikapnya bersama Aswin sudah membuat hati Sandra merasa tersakiti. Iya Sandra cemburu.