
"Saya akan menempatkan salah satu anak buah saya untuk berjaga dirumah Muthia, biar mereka berjaga di depan rumah, mereka sudah biasa tinggal di mana saja, dan mereka juga Orang orang terlatih. Saya akan menempatkan dua orang disana dan satu orang di yayasan ini, dan kalau Muthia mau pergi kemanapun, yang bertugas dirumah akan mengawal Muthia salah satunya dan satunya akan tetap ada dirumah. Itu kalau anda memberi ijin. Demi keselamatan istri anda, sampai kita bisa menemukan orang yang ingin mencelakakan Muthia.
Pilihan ada ditangan pak Aswin, saya hanya ingin membantu memberi solusi." Amir menatap Aswin serius berharap tawarannya diterima Aswin, karena Demi keselamatan Muthia, apapun akan Amir lakukan.
Aswin terdiam, mencoba mencerna ucapan lawan bicaranya, menimbang baik buruknya dan memikirkannya dengan matang. Akhirnya Aswin memutuskan untuk menerima tawaran Amir demi keselamatan istri dan anaknya, lagian bukan Amir yang berada disana untuk mengawal sang istri.
"Baiklah saya terima tawaran, Mas Amir. Dan dirumah ada paviliun yang terletak tepat di halaman samping, nanti biar anak buah Mas Amir istirahat di sana. Apakah ini sudah Mas bicarakan dengan Muthia?" Aswin dengan yakin menerima tawaran Amir dan mengira istrinya sudah tau rencana yang Amir susun.
"Belum. Karena belum meminta ijin anda sebagai imamnya. Saya takut menimbulkan fitnah. Dan untuk ini, Lebih baik pak Aswin yang menyampaikan langsung pada Muthia, tentang rencana ada anggota yang akan berjaga di rumah dan yayasan. Dan satu lagi, dalam seminggu ini, saya ijin untuk menginap di yayasan sambil mengawasi keadaan, siapa bisa mendapatkan titik terang, dan biar Muthia berada dirumah, menghandle pekerjaan dari laptopnya." Amir mengutarakan niatnya dan langsung disetujui oleh Aswin dengan senang hati.
"Permisi, Maaf pak Aswin! Pak Amir! ini ada tamu yang ingin bertemu sama oak Amir, bapak bapak be seragam yang tadi oak Amir bilang.
Mangga bapak bapak, silahkan duduk, kalau begitu saya mau Hin pamit. Permisi." Pak Dayat dengan sopan mengantarkan tamu yang memang sudah ditunggu kedatangannya oleh Amir.
"Pak Dayat! tolong bilang sama bagian dapur, untuk buatkan minum dan bawa cemilan ke sini ya.!" perintah Aswin sebelum pak Dayat kembali ke pos jaga.
"Siap, pak Aswin." sahut pak Dayat semangat dan membuat Aswin menggeleng dengan tingkahnya itu.
Ketiga laki laki yang masih mudah dan gagah dengan pakaian lengkap khas TNI memberi hormat pada Amir dan bersalaman, pun juga pada Aswin. Lalu mereka dipersilahkan duduk dan dijelaskan tugasnya. Alek, Leo dan Rofik nama mereka dan masih berusia dua puluh tahunan, tapi memiliki gelar prajurit terbaik, sehingga Amir memilihnya untuk bertugas menjaga Muthia.
__ADS_1
Dan Amir juga punya alasan kenapa mereka yang dipilihnya, karena ketiga orang itu memiliki ilmu agama yang baik , sehingga Amir merasa tenang membiarkan Muthia ada dalam penjagaan orang orang tersebut. Yang pasti tau bagaimana menjaga sikap dan sopan santun.
Muthia keluar dari ruangannya dan melihat suaminya sedang berbincang dengan Amir dan ketiga orang berseragam TNI, mata Muthia memicing, dengan wajah mengerut bingung.
"Bunda, Yusuf lapar!" tiba tiba Yusuf sudah ada disampingnya dan memeluk pinggangnya manja.
Muthia mengusap kepala anaknya sayang.
"Mbok, tolong ambilkan kotak makan yang tadi dibawa ya, masih di dalam mobil. Tolong temani Yusuf makan dan ada jajanan juga, bagikan sama anak anak, tadi saya lupa." Muthia bicara dengan mbok Jum dengan sopan dan dengan nada lembut. Amir juga Aswin menatapnya kagum, namun Amir langsung menundukkan wajahnya saat sadar, kalau pandangannya akan menjadi bara.
Dengan langkah pasti Muthia menghampiri Aswin dan memilih duduk di samping suaminya. Mencium tangan suaminya takzim dan mengatupkan tangan pada semua orang, termasuk Amir.
Aswin dengan penuh kelembutan menjelaskan rencananya bersama Amir. Dan Muthia menerimanya patuh tanpa banyak protes.
"Alek, tolong kamu pergi ke lab terdekat, dan cek makanan ini, apa ada zat berbahaya di dalamnya. Nanti tolong laporkan pada saya hasilnya." Amir menyerahkan dua bungkus plastik kecil yang berisi makanan yang tadi di terima Muthia pada salah satu anak buahnya.
"Siap, Pak! Laksanakan!" sahut Alek tegas dan langsung melaksanakan tugas dari atasannya tanpa banyak bicara. Sedangkan kedua anak buah Amir yang lain, diminta untuk ikut pergi ke rumah Muthia, bertugas menjaga dan melindungi Muthia sekeluarga. Patuh dan hormat yang langsung ditunjukkan oleh Leo dan Rofik pada Amir.
Muthia meninggalkan yayasan dengan ikut mobilnya Aswin. Sedangkan Alek membawa mobil Muthia bersama Yusuf yang memaksa ikut naik satu mobil dengan Alek, katanya mau ikut om tentara ganteng. Sehingga Yusuf dengan mbok Narti ikut mobil yang di bawa Alek.
__ADS_1
Sedangkan Rofik mengikuti dari belakang dengan motornya.
Tak jauh dari yayasan terlihat ada seorang laki laki yang sejak tadi mengintai keadaan yayasan.
Aceng, preman pasar yang disewa Mirna untuk mengawasi setiap gerak gerik yang ada di dalam yayasan.
Sebenarnya, pak Joko mengetahui keberadaan Aceng, tapi pura pura tidak melihatnya. Namun pak Joko sudah memberitahu Amir lewat ponselnya dan sempat memotret keberadaan orang asing tersebut.
Amir tersenyum, dan langsung bergerak cepat. Tidak mau gegabah, Amir meminta pak Joko maupun pak Dayat untuk terus mengawasi tapi tetap dengan sikap tidak tau dan terkesan cuek pura pura tidak melihat keberadaannya. Sedangkan Amir, langsung keluar membeli beberapa alat cctv untuk mengawasi gerak gerik orang yang mencurigakan yang ada disekitar yayasan, namun terlebih dulu meminta ijin pada RT setempat, karena yang di pasang tidak hanya area yayasan tapi juga jalan raya yang tak jauh dari yayasan terutama tempat yang digunakan seseorang untuk memata matai kegiatan orang orang yayasan.
Amir juga meminta anak buahnya untuk tidak memakai seragam dinas mereka, yang bertugas di yayasan akan memakai baju satpam sama seperti pak Dayat dan pak Joko, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sedangkan yang berjaga dirumah Muthia, tetap memakai baju biasa, jika ada orang bertanya akan di jawab, masih saudara atau keluarganya Muthia.
"Halo, bos! Sepertinya pak Aswin barusan keluar dari yayasan dan pergi dengan Muthia. Tapi saya tidak tau keadaan Bu Muthia, karena hanya mengawasi dari kejauhan. Nanti saya akan bertanya sama satpam yang berjaga. Kalau Bu Muthia memakan makanan yang kita kirim, pasti sekarang sedang menuju rumah sakit, karena kandungannya jelas bermasalah. Dan sepertinya itu yang sedang terjadi, soalnya tiba tiba saja pak Aswin datang dan tak lama setelah itu pergi lagi dengan membawa mobilnya kencang, seperti orang panik." Aceng mengatakan semua yang dia perkirakan tanpa mencari tau kebenarannya.
Sandra tersenyum senang di ujung sana. Berpikir kalau rencananya berjalan mulus sesuai harapannya.
"Bagus, kabar yang aku tunggu dan membuatku puas. Terus awasi dan langsung berikan kabar kalau kamu menemukan sesuatu."
__ADS_1
Sandra dengan dingin memerintah Aceng untuk terus memata matai. Padahal apa yang dikabarkan berbanding terbalik dengan yang sebenarnya.