
Aswin sudah harus kembali ke luar kota mengurus pekerjaannya. Muthia melepas kepergian suaminya dengan senyum dan doa. Wajahnya selalu terlihat teduh, bawaannya begitu tenang dan kalem, meskipun sedang hamil Muthia selalu berusaha tetap kuat, meskipun kadang sikap manja dan cemburunya membuat Aswin kewalahan, Namun sebagai lelaki dewasa yang paham konteks berumah tangga, Aswin begitu memahami perubahan istrinya itu. Dan meskipun kadang dengan tubuh lelah dan pikiran menumpuk soal pekerjaan, Aswin tetap berusaha untuk memenuhi kemauan sang istri, demi menjaga emosi dan kesehatan istri juga calon bayinya.
"Saya harus berangkat keluar kota sekarang, saya titipkan keselamatan istri dan anak saya pada Mas Alek dan mas Rofik. Kalau ada apa apa tolong kabari saya segera. Sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terimakasih dan maaf jika sudah merepotkan." Aswin berpamitan pada kedua tentara yang berjaga dirumahnya untuk melindungi istri dan anaknya dengan sopan dan penuh kharisma, sehingga membuat kedua pemuda tinggi tegap itu merasa sungkan dan segan.
"Siap, pak! Insyaallah kami akan menjaga keselamatan keluarga bapak dan melindungi keluarga bapak sekuat tenaga kami." sahut Rofik tegas dan serius yang di iyakan juga oleh Alek yang tersenyum dan mengangguk pasti. Aswin merasa lega, meskipun masih menyimpan cemas. Namun sebagai seorang yang beriman, Aswin tau hidup dan mati sudah menjadi takdirNYA. Aswin hanya berusaha untuk melindungi dan menjaga keluarganya dengan baik, dan tak lepas dengan doa yang selalu dipanjatkan.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak." balas Aswin dan menepuk pundak Alek dan Rofik bergantian, lalu melanjutkan langkah menuju mobilnya.
Sementara Muthia mengantar hingga sampai teras, karena Aswin melarangnya terlalu capek. Sebelum memasuki mobilnya, kembali Aswin menoleh pada Muthia dan Yusuf yang masih menatapnya penuh rindu, Aswin melambaikan tangannya, dan mengucapkan salam lalu memasuki mobil dan melajukan nya pelan hingga menghilang dari pandangan.
"Saya masuk ke dalam dulu ya, kalau perlu apapun tidak perlu sungkan, bilang sama mbok Narti saja. Asalamualaikum." pamit Muthia ramah dan tenang, bahkan teror yang ditujukan pada dirinya tidak mempengaruhi mentalnya sedikitpun, meskipun sempat di dera cemas dan takut. Namun Muthia teringat dengan kekuasaan Tuhan NYA dan kembali menyerahkan takdir ke pada Robb pemilik kehidupan, sambil terus berdoa dan memohon ampunan serta perlindunganNYA. Pun saat Aswin berat saat akan meninggalkannya berangkat bekerja, dengan penuh keyakinan dan kesabaran, Muthia meyakinkan suaminya agar tidak terlalu mencemaskan apa yang belum terjadi, karena apapun yang terjadi, semua sudah atas seijin dariNYA. Itulah kenapa Aswin menjadi sedikit tenang dengan kepergiannya. Karena istrinya begitu memahami konteks takdir dalam kehidupannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah dua hari Sandra menunggu kabar dari Aswin maupun Muthia, namun belum juga ada kabar tentang kegugurannya Muthia seperti yang Sandra sangka. Panik, kesal dan mulai tak sabar. Akhirnya Sandra memilih untuk menghubungi Muthia terlebih dulu, dengan menanyakan kabar Muthia sebagai obrolan basa-basinya untuk meluapkan rasa penasaran dirinya.
"Asalamualaikum." sapa Sandra membuka obrolan.
__ADS_1
"Waalaikumsallm, apa kabarnya teh Sandra?" sahut Muthia diujung sana, dengan bersandar di sofa empuk yang ada di teras belakang rumahnya, kebetulan Muthia sedang kurang enak badan, sedari pagi, merasakan mual dan pusing sehingga membuatnya sedikit lemah.
"Alhamdulillah baik, Muthia sendiri gimana? sehat?". Balas Sandra tak sabar menunggu jawaban dari adik madunya.
"Lagi kurang sehat ini teh, masih lemas. Ini lagi tiduran di teras belakang." sahut Muthia tanpa curiga dan berkata jujur tentang keadaan dirinya saat ini.
"Kenapa? Dede diperut sehat kan? Semoga gak terjadi apa apa ya, karena dari semalam kepikiran terus, makanya ini telpon ingin memastikan kalau perasaanku tidak benar." balas Sandra memancing dan berharap Muthia menjawab jujur tentang kegugurannya.
"Alhamdulillah, teh! Kami baik baik saja, ini cuma kurang sehat saja, mungkin kecapean. Cuma butuh banyak istirahat, insyaallah nanti juga segera sehat." Muthia menjawab jujur apa adanya dan membuat Sandra mengeram kesal, merasa di tipu oleh orang suruhan nya yang memberi kabar tentang kegugurannya Muthia.
"Oh, syukur kalau begitu mah. Yasudah kalau begitu, lanjutkan istirahatnya, Asalamualaikum." Sahut Sandra ketus menahan marah dan langsung menutup telponnya sepihak, membuat Muthia memicingkan matanya, heran dengan perubahan Sandra yang menurut Muthia aneh.
"Bu Muthia capek?" tiba tiba mbok Narti muncul dengan membawa Yusuf dalam gendongannya, Yusuf baru bangun dari tidur siangnya dan mencari keberadaan bundanya.
"Oh mbok Narti. Iya mbok, sedikit.
Yusuf sudah bangun nak? Sini sama bunda!" Yussuf turun dari gendongannya mbok Narti dan pindah di pangkuan bundanya manja.
__ADS_1
"Hati hati, kena Dede bayinya." mbok Narti mengingatkan dan ikut duduk tak jauh dari Muthia.
"Gak papa mbok, Yusuf kan anak pinter, mau jadi kakak ini jagoannya bunda." Muthia menciumi pipi anaknya gemas, dan disambut tawa riang sang anak.
Setelah puas bercanda dengan bundanya, Yusuf turun dari pangkuan Muthia dan mulai bermain dengan mobil mobilannya yang ada di halaman belakang.
"Sini Bu, sambil mengawasi Yusuf, mbok pijet kakinya, biar gak pegel pegel, orang hamil itu pasti badannya mudah capek." mbok Narti menawarkan diri untuk memijat kaki Muthia yang terlihat sedikit membengkak.
"Gak usah mbok, mbok Narti istirahat saja. Ini dibuat istirahat juga sembuh kok!" balas Muthia sungkan dan tidak mau membuat pembantunya kerepotan karena dirinya. Lagian usia mbok Narti juga sudah tidak muda lagi, meskipun mbok Narti masih sangat cekatan dalam urusan pekerjaan.
"Gak papa, Bu. Saya justru senang dan gak capek kok, sebentar mbok ambilkan minyak urut dulu." sahut mbok Narti tegas dan bergegas masuk kedalam mengambil minyak urut.
Dengan telaten mbok Narti memijat kaki Muthia, Muthia sebenarnya sungkan, tapi mbok Narti terus memaksa dan bilang kalau iklas dan senang melakukan itu karena teringat dengan anak perempuannya yang merantau ikut dengan suaminya diluar pulau Jawa.
"Sudah mbok, Alhamdulillah sudah enakkan ini. Terimakasih ya mbok!"
Muthia Meminta mbok Narti menyudahi aksi memijatnya, Muthia berkata jujur kalau kakinya memang benar-benar sudah merasa lebih enak dan enteng.
__ADS_1
"Owh iya mbok, bahan bahan di kulkas sepertinya sudah menipis. Mbok Narti belanja ya, minta ditemani mas Alek atau mas Rofik. Sekalian belikan mereka rokok juga cemilan." Muthia meminta mbok Narti belanja dan ditemani salah satu tentara yang berjaga dirumahnya.
Tanpa mereka sadari, orang suruhan Sandra sudah mulai ada yang mengintai Muthia tak jauh dari rumahnya dengan menyamar menjadi penjual bakso di depan komplek. Namun insting prajurit Alek dan Rofik begitu tajam, sehingga mudah mencium gerak gerik mereka, namun tetap bersikap tenang seolah tidak tau tapi sudah mengatur strategi yang baik dengan atasannya yaitu Amir.