
"Jangan mbak Alika, aku mohon.... aku bisa tanpa mas Galang.... aku bisa mbak" pinta Dila
"tapi ada haknya mbak Dila dan anak anak disana,,,, setidaknya pikirkan tentang albi dan thalia mbak...."
"saya masih bisa tanpa mas Galang mbak...."
"baiklah jika mbak Dila menolak.... maaf mbak perpisahan yang terjadi antara kalian pun pasti juga karena aku kan...." Dila bergeming,ia mengalihkan pandangannya lurus ke depan tak mau bertemu mata dengan mata Alika
"takdir Allah tidak ada yang tau mbak...."
"aku juga minta maaf padamu mbak Alika.... hubungan kalian dulu hancur juga karena ada aku di antara kalian, andai dulu aku kekeh menolak menikah dengannya mungkin kalian masih bersama sampai saat ini dan aku tidak akan merasakan sakit hati seperti ini "
"mbak Dila menyesal.....???, kenapa harus menyesal mbak, Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia.... bahkan takdir kita ini juga atas rencananya, saat datang bahagia pasti juga akan datang duka, begitupun dengan pertemuan....saat ada pertemuan pasti pun akan ada perpisahan.... lihatlah jalan hidup kita mbk..... kita sama sama janda yang pernah merasakan bercerai dan juga kehilangan, kalau dipikir-pikir lucu juga ya" ucap Alika seraya terkekeh menertawai dirinya sendiri
"iya ya mbak...."
"sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu mbak Dila tapi ini juga sudah malam.... takutnya anak anak mbak Dila mencari" ucapnya seraya melihat jam yang berada di pergelangan tangannya
"iya mbak aku takut Thalia rewel.... dia masih belum terlalu bisa beradaptasi dengan keadaan" suara sendu terdengar dari mulut ibu dua orang anak itu
"tunggu sebentar ya...." tanpa menunggu jawaban Dila, Alika pun segera masuk ke dalam rumah mengambil sesuatu
Tak berapa lama kemudian Alika kembali ke teras dengan sebuah rantang putih susun empat ditangannya
"mbak ini bawa pulang ya...." ucapnya memberikan rantang itu pada Dila
"apa ini mbak...."
"bukan apa apa,ini buat yang dirumah.... tolong terima ini rezeki mbak "
"terimakasih ya mbak Alika..." ucapnya seraya menerima rantang tersebut
"sepeda mbak Dila biar di sini saja... pulangnya nanti biar dianterin Leo temenku..." tawar Alika seraya mengalihkan pandangannya ke dalam tempat leo sedang momong Anaya
__ADS_1
"biar aku pulang sendiri saja mbak..." tolaknya sungkan
"ini udah malam mbak...biar dianterin Leo, besok libur lah dulu mbak gak usah jualan....aku lihat mbak Dila sepertinya capek sekali...."
"lihat besok saja lah mbak...."
Alika segera berlalu menemui Leo, lelaki yang usianya baru menginjak kepala tiga itu pun tak menolak permintaan Alika untuk mengantarkan Dila
Akhirnya Dila dan Leo pun sama sama pamit pada para penghuni rumah yang berada di rumah Alika, ada mbok sum, Dahlia juga Ferdi suaminya Dahlia
tak sungkan Leo membukakan pintu mobil untuk Dila, lalu setelahnya ia pun masuk ke mobil di sisi kemudi
Dalam perjalanan menuju rumah Dila, ibu dua anak itu hanya mengatakan arah jalan menuju rumahnya.pandangannya ia arahkan keluar jendela kaca yang berada di sampingnya.... sekuat hati ia tahan agar bulir bening itu tak menetes di depan orang yang kini mengemudikan mobil di sampingnya itu
"mbak... ini belok kemana..." tanya leo saat melihat di depannya ada pertigaan jalan. Dila membisu....ia melamun
"mbak... mbak...." akhirnya Leo pun menepuk pelan pundak Dila
"kenapa ya mas...." tanya Dila sedikit sinis, karena merasa Leo tak sopan telah menyentuhnya
"oh...belok kanan mas"
Leo pun membelokkan kemudinya kearah kanan mengikuti petunjuk Dila, tak berapa lama Dila pun menunjuk sebuah rumah untuk mereka berhenti
"terimakasih ya mas...."
"iya.... sama sama... maaf yang tadi, tadi saya sudah panggil panggil tapi kamu nya ngelamun" ucap leo seraya mengaruk kepalanya yang mungkin tak gatal
"oh itu.... saya juga minta maaf," ucap Dila lalu membuka pintu mobil dan beranjak turun dari sana
Didepan rumah Dila sudah berjejer ibu dan bapaknya, tak ketinggalan thalia dan juga albi menunggunya di sana
Pak adji dan bu Rini menatap wajah Dila yang terlihat sedikit sembab, juga sebuah rantang yang ia bawa di tangan kanannya
__ADS_1
"bunda...kok lama, itu apa ...." tanya Albi lalu menghampiri bundanya
Diberikannya rantang yang terasa isinya sedikit berat itu pada Albi "ini rezeki nak...ayo kita buka didalam" ucapnya lalu merangkul kedua pundak anaknya seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
Leo pun tak lantas mengemudikan mobilnya sampai melihat semua orang masuk kedalam rumah
Bu Rini segera membuka satu persatu susunan rantang itu, netranya membulat saat sebuah amplop putih berada di susunan rantang paling bawah
"apa ini Dil....kok seperti uang" bu Rini segera memberikan amplop itu pada Dila, sedangkan anak anak menikmati makanan yang dibawakan oleh Alika...
Ting
Sebuah pesan masuk di aplikasi berwarna hijau miliknya
(itu untuk ganti besok mbak Dila gak usah jualan dulu... istirahatkan tubuhmu barang sebentar mbak... kamu lelah,aku tau itu)
(jangan berfikiran negatif tentang uang itu... anggap saja kita mulai berteman seperti dulu... Alika)
Dila membekap mulutnya tak percaya, segera ia buka amplop putih itu terdapat dua puluh lembar uang berwarna merah didalamnya
"dua juta.... Uang dari siapa Dil sebanyak itu, bukankah kamu tadi mengantar kue... lalu itu" ucap bu Rini saat melihat Dila menghitung rupiah di dalam amplop itu, otaknya dipenuhi tanya apa yang terjadi pada anaknya setelah mengantar kue tadi
Sebelumnya Dila sempat mengirim pesan pada ibunya lewat sebuah chat bahwa dia di minta untuk membantu menata makanan di rumah orang yang pesan kue padanya
"besok Dila jelasin buk... Dila lelah ingin istirahat...oh ya buk besok aku libur dulu jualan ya..." ucap Dila seraya berdiri lalu mulai beranjak menuju kamarnya
Bu Rini yang tak puas hati dengan jawaban Dila pun segera mengikuti langkah putrinya itu
"kamu kenapa nak.... apa kamu sakit...." bu Rini ikut mendudukkan bokongnya di sisi ranjang bersama Dila, ia terus menatap wajah putrinya mencari jawaban dari sana
"huhuhuhu......" akhirnya pertahanannya runtuh,ia rebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya,tak peduli ibunya yang terus berucap tanya padanya
Tangisnya pecah saat melihat perbedaannya nasibnya dengan Alika...
__ADS_1
mereka sama-sama pergi meninggalkan Galang tapi nyatanya Alika lebih beruntung.... sedangkan dia.... seperti seorang nelangsa yang harus bermandi peluh tiap hari demi sesuap nasi untuknya
"kenapa.... kenapa harus aku.... kenapa harus aku.....ya Allah kenapa engkau tidak adil...." lirih Dila disela tangisnya, bahkan tangis itu tak kunjung reda meskipun sang ibu mencoba meng-kuatkannya