Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 15 Yayasan sosial


__ADS_3

'Biarkan saja, aku sudah tidak perduli lagi, bukankah syarat yang aku ajukan tidak sebanding dengan luka hati yang mereka torehkan. Apa dipikir akan semudah itu berbagi suami pada perempuan lain, kalaupun dia bisa mikir ya salahnya sendiri kenapa mau dinikahi sama pria yang nyata nyata sudah punya anak istri, meskipun dulu aku yang membujuknya untuk menerima lamaran suamiku, semua itu aku lakukan hanya semata untuk menarik perhatian kang Aswin biar lebih sayang padaku dan lebih memperhatikan aku. karena selama ini aku hanyalah istri yang terpaksa dia nikahi dari perjodohan orang tua, selain itu image ku dimata keluarganya sebagai istri penurut dan shaleha bisa aku buktikan dengan iklasnya aku merestui pernikahan mereka. Meskipun ikhlas itu hanya pura pura, dari pada aku harus ribut dan berselisih paham lalu pada akhirnya rumah tanggaku harus kandas, yang rugi kan aku sendiri, kalau aku diceraikan sebelum mendapatkan semua harta keluarga Firmansyah, no no itu tidak boleh terjadi, aku nggak mau bodoh dengan kembali hidup sederhana seperti dulu, jadi berkorban perasaan sedikit boleh lah. Aku merasa nggak enak dengan tatapan kang Aswin sejak mendengar penuturan ku barusan, apa kang Aswin mulai berpikir jika aku hanya inginkan hartanya, bisa bahaya nih, bisa bisa gagal semua rencanaku yang tinggal sedikit lagi.' Sandra terus bergumam sendiri dalam hati dengan perasaan yang tidak menentu.


Dari tadi Muthia hanya diam, mungkin dia tidak terima tapi takut untuk menyanggahnya, dasar wanita munafik, pura pura saja terus untuk selalu menerima meskipun aku tau hatinya sakit, bodoh amat yang penting ini menguntungkan diriku. karena aku yakin, pasti kang Aswin akan mengabulkan apapun yang akan diputuskan Muthia, karena selama mereka menikah tak pernah aku lihat dia minta atau menginginkan apapun dari suamiku, selalu saja mengiyakan keputusan yang kami ambil tanpa mau bersuara.


Setelah beberapa saat kang Aswin kembali membuka suaranya. "Semua keputusan aku serahkan pada bunda Muthia, jika bunda Muthia setuju, baiklah kita akan jalani apa yang bunda Sandra inginkan. gimana bund, apa bunda setuju atau keberatan? bilang saja sesuai apa yang ada dipikiran bunda." suamiku berkata lembut pada istri keduanya dengan tatapan penuh cinta, membuatku makin muak dan ingin segera pergi dari hadapan mereka.


"Selama ini, aku selalu setuju dengan semua keputusan yang diambil sama teh Sandra, itu semua karena aku menghargai dan menyadari posisiku yang hanya istri kedua, namun untuk kali ini bolehkah kalau aku menolaknya?." Muthia menatap sayu ke arahku dan kang Aswin bergantian, ini pertama kalinya perempuan itu berani membantah, sial kenapa dia mulai bertingkah, tidak lagi menurut kayak yang sudah sudah." 


Muthia menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "untuk pembagian uang belanja, itu tidak masalah untukku, berapapun yang kang Aswin kasih, aku akan menerima dengan senang hati, bukannya aku tidak butuh uang, tapi penghasilanku sudah lebih dari cukup, hanya saja untuk jatah hari bersama, tolong biarkan aku juga merasakan hal yang sama. waktu yang seimbang, karena disini aku juga istri dari kang Aswin, aku juga butuh kehadirannya, aku ingin jadwalnya tetap tanpa dirubah."


Muthia bicara dengan sangat tenang, 'sombong sekali seolah tak butuh uang dari suamiku, secara tak langsung dia sudah merendahkanku karena meminta lebih banyak darinya, wajarkan wong aku ini istri pertamanya, jadi apa perduliku dengan sindirannya itu.' Geram Sandra dengan jawaban yang diberikan Muthia.


Nampak suamiku masih memandangi istri keduanya dengan kagum, aaah cantikkan juga aku, bahkan untuk ukuran body juga masih aku yang unggul, aku memiliki bentuk tubuh yang tinggi semampai dengan kulit putih cerah, dibanding dengan Muthia yang tingginya saja masih kurang dari seratus enam puluh. Sebenarnya apa sih yang dilihat dari perempuan itu, kenapa kang Aswin nampak sangat mencintainya.


"Baiklah, aku harap bunda Sandra juga bisa menerima keputusan ini, sebagai suami aku harus selalu bisa adil dalam berbagi untuk kalian, setelah pembicaraan kita ini, aku harap tidak akan ada lagi masalah seperti kemarin. untuk tambahan uang belanja bulanan aku setuju, bunda Sandra tujuh puluh lima juta,tapi itu bersih tanpa ada lagi tambahan minta beli ini itu lagi, kalau ingin beli baju, tas, perhiasan, atur saja dari uang tujuh puluh lima juta tersebut, bunda paham kan?" Aswin menatap lekat ke arah Sandra istri pertamanya.

__ADS_1


"aturlah uang itu sesuai dengan kebutuhan, karena ayah tidak akan menarik keputusan yang ada, jadi kalaupun uang itu sudah habis sebelum tanggal waktunya tiba, maka ayah tidak akan memberi meskipun hanya sepuluh ribu."


Sandra nampak pias, dalam hatinya tidak setuju dengan keputusan suaminya, tapi bisa apa, karena Sandra paham betul dengan sifat suaminya yang tidak suka dengan bantahan. Bisa bisa malah tidak dapat uang belanja, toh nanti juga bisa meminta ke Muthia kan, masih banyak cara yang bisa aku lakukan, Sandra tersenyum miring dengan rencana piciknya.


"Dan untuk bunda Muthia. Gimana? mau ditambahin atau bunda mau gimana?" aaah lelaki itu lagi lagi selalu bersikap lembut dengan istri keduanya, apa tidak perduli lagi dengan keberadaan ku disini, lama lama bisa emosi dibuatnya. Sandra menatap jengah dengan sikap lembut Aswin pada Muthia.


"Bunda ikut ayah saja gimana baiknya." Muthia menjawab pertanyaan Aswin dengan ekspresi biasa saja, sok tak butuh uang, padahal sebenernya sih ingin dikasih lebih dariku, Sandra mencebik tak suka.


Melihat ekspresi Sandra, Muthia paham jika kakak madunya itu mulai tidak nyaman dan tak suka dengannya, untuk mengalihkan topik pembicaraan, mumpung sekarang ada teh Sandra aku akan sekalian minta ijin tentang rencanaku pada kang Aswin, biar teh Sandra juga tau kalau yayasan ini dibangun dari hasil jerih payahku sendiri tanpa ikut campur dengan keungan kang Aswin sedikitpun, biar tidak menimbulkan masalah nantinya. Batin Muthia.


"Bicara apa bund?" Aswin bicara dengan pandangan menyelidik, sedangkan Sandra hanya diam tak begitu merespon.


"Aku ingin membangun yayasan sosial, kalau bisa daerah dekat sini saja, ini adalah impianku dari dulu, dan insya Alloh saat ini tabunganku sudah cukup untuk mewujudkannya. Aku ingin ayah membantuku untuk mencari lahan dan mendesain pembangunannya, karena untuk masalah ini, aku tidak mengerti.


Aswin menatap istrinya tak percaya, selain cantik dan berhati lembut, wanitanya juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, tanpa Aswin duga, istrinya sudah memiliki rencana yang sungguh mulia bahkan sudah menyiapkan dananya tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Bunda yakin?" Tanya Aswin masih dengan keterkejutannya.


"Sangat yakin, insya Alloh." Jawab Muthia yakin.


"Baiklah, ayah akan bantu. kalau boleh tau berapa tabungan bunda untuk investasi ini?"


"Sekitar delapan ratus jutaan." Jawab Muthia tenang, sambil merilirik Sandra dari ekor matanya.


"Masya Alloh, barokalloh sayang." Balas Aswin bangga.


'Aaah muak sekali melihat mereka, lebih baik aku pergi dari sini, sebelum darahku naik dan bisa bisa aku langsung kena stroke mendadak'


"Aku kebakang dulu, silahkan lanjutkan obrolannya." Sandra beranjak pergi dengan wajah yang ditekuk.


Aswin hanya geleng geleng dengan sikap istri pertamanya, selain boros Sandra juga sangatlah manja, tak pernah sekalipun menyentuh pekerjaan rumah, hanya sibuk dengan ponsel dan kegiatannya dengan teman temannya arisan.

__ADS_1


__ADS_2