Wanita Kedua

Wanita Kedua
Bayang-bayang Viana(21+)


__ADS_3

Ana sedang mengelap bibirnya dengan sebuah tisu ketika sebuah panggilan yang ditujukan seseorang untukku ikut mengusiknya.



"Hei, Ryan!" Seorang pria yang cukup tinggi dan berwajah tampan menghampiri meja yang kami duduki. Pria yang memakai sebuah kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak itu menghampiri kami dengan semangat.



Saat mendengar panggilan tadi aku segera menoleh ke arah suara yang memanggilku dan senyumku langsung mengembang ketika melihat pria tersebut.



"Putra!" sambutku dengan senang. Aku berdiri dari tempat dudukku lalu merangkul pria yang bernama Putra itu.



Putra tertawa lebar dan menepuk punggungku dengan pelan. "Lama kita tidak bertemu."



Aku hanya mengangguk. "Silakan duduk. Mari kita makan siang bersama. Aku akan memesankan makanan kesukaanmu."



Putra terkekeh lalu meraih sebuah kursi dan mendudukinya. Pandangan matanya beralih pada Ana yang tersenyum manis padanya.



"Dia siapa?" tanpa rasa sungkan Putra menanyakan keberadaan Ana kepadaku.



Aku tersenyum simpul. "Oh ya, perkenalkan ini Nona Viana. Nama lengkapnya bisa kau tanya sendiri."



Putra mengulurkan tangannya yang disambut dengan senang oleh Ana. "Putra Sanjaya."



Ana mengangguk singkat. "Viana  Thalia."



Senyum manis tidak pudar dari wajah perempuan itu sejak tadi. Bisa kulihat wajahnya merona menatap mata Peter yang beriris abu-abu gelap.



"Riani mana? Apa dia tidak ikut makan siang bersamamu?" Putra menoleh ke arahku yang seketika menjadi gugup.



Mengapa aku melupakan hal penting seperti ini?



"Ah, aku memang tidak mengajaknya. Dan sebenarnya, Nona Ana yang mengajakku makan siang bersama dengan mendadak. Itu sebabnya aku tidak terpikir untuk mengajak Ria ikut serta."



Putra mengangguk-angguk. "Apa kalian rekan kerja?"



Aku menggeleng singkat dengan senyum kecut.



Putra mengerutkan dahinya. Pandangan mata pria itu beralih pada Ana yang menatapnya dengan tenang. "Lalu, hubungan kalian apa? Hingga melakukan acara makan siang bersana?"



Tiba-tiba saja aku merinding mendengar pertanyaan Putra yang sebenarnya wajar-wajar saja.



Ana tertawa kecil sambil menampakkan barisan giginya yang putih. "Aku rasa pertanyaanmu sudah terlalu mencampuri urusan kami, Tuan Putra. Kenapa kau tidak memakan saja makanan yang terhidang di hadapanmu?"



Aku melotot tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ana. Dengan wajah penuh rasa bersalah aku menggelengkan kepala di hadapan Putra. Meminta pengertiannya.



Putra hanya terkekeh. Kemudian pria itu menatap Ana dengan lekat. "Ucapanmu terkesan sedikit kasar. Tapi keberanianmu berbicara seperti itu pada orang yang baru kau kenal membuat aku bisa menilai kalau kau seorang wanita tangguh yang mandiri."



Ana tertawa pelan. "Terima kasih, Tuan Putra."


__ADS_1


Putra menggeleng pelan. "Untuk?"



"Untuk semua ucapan pujianmu padaku."



"Apa kau tidak sadar kalau semua yang kuucapkan itu merupakan sindiran?"



Ana mengangguk. "Aku tahu. Aku mengucapkan terima kasih untuk kata-kata manis yang kau ucapkan."



Putra tertawa lebar kecuali aku. Aku hanya menatap Ana dengan wajah tidak senang. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu pada Putra. Yang ada di dalam pikiranku saat ini adalah aku ingin segera kembali ke kantor dan mengakhiri acara makan siang yang menjengkelkan ini.



Aku berharap setelah ini tidak akan berurusan lagi dengan Ana.



******



Suara detak sepatu mendominasi rumah besar yang kumasuki, diiringi dengan suara siulan dari bibirku yang melangkah dengan tenang.



Mataku mencari-cari keberadaan istriku dan menemukan wanita itu sedang berkutat di dapur bersama dua pembantu.



Tanpa meletakkan tas kerja terlebih dahulu, aku menghampiri Riani lalu memeluk wanita itu dari belakang.



Riani yang sedang mengupas kentang hanya tersenyum menyambut pelukanku. Diletakkan kentang dan pisau yang ada digenggamannya lalu mengelus tanganku dengan lembut.



Aku semakin mengeratkan pelukanku sambil mengecup wajah dan lehernya dari samping, tanpa mempedulikan kedua  pembantu yang sudah merona malu melihat ulah majikan mereka yang bermesraan tanpa memikirkan situasi. Sesaat mereka sudah berlalu menjauhi kami.




"Aku ingin mandi bersamamu," jawabku sambil tersenyum jahil.



Tiba-tiba terdengar suara mangkuk jatuh yang mengejutkan kami. Sontak kami menoleh ke arah sumber keributan.



Tampak Dea, seorang pembantu yang masih berstatus gadis itu menunduk sambil mengambil mangkuk yang tidak sengaja ia jatuhkan. Gadis itu tampak gugup, gugup saat mendengar ucapan tuannya yang mengajak sang nyonya mandi bersama.



Aku tersenyum geli melihat tingkah gadis itu.



Riani sepertinya mengetahui kegelisahan gadis pelayan itu. Dengan cepat dia menarik tanganku menuju kamar kami yang berada di lantai dua.



"Kenapa, Sayang?" Aku menghentikan langkahku dan menarik Riani ke dalam pelukan ketika kami sudah berada di dalam kamar.



Riani membulatkan matanya. "Kenapa? Kau tanya kenapa? Apa kau tidak melihat kalau Dea malu karena ucapanmu?"



Aku hanya cengengesan. "Oh, ayolah. Dia sudah dewasa. Seharusnya dia lebih memahami dan memaklumi."



Riani hanya menggeleng kesal. "Kau sudah gila."



Aku terkekeh. "Pria yang kau sebut gila inilah yang menjadi suamimu."



Mau tak mau wanitaku ini tersenyum. Tangannya dikalungkan di leherku lalu tersenyum manis.

__ADS_1



Sejenak aku tertegun. Bayangan senyum menggoda dari bibir Ana terlihat jelas di mataku. Bibir sensual yang mengundang siapa saja untuk mengecapnya.



Astaga! Apa yang sedang kupikirkan?



Mata Riani menelisik perubahan raut wajahku. "Ada apa?" tanyanya dengan penuh curiga.



Mendengar pertanyaannya, aku menggeragap. "Tidak ada apa-apa, Sayang." Aku berusaha menyembunyikan kegugupan yang nyata terasa di tubuhku.



"Lalu?" Riani menaikkan alisnya.



Aku mencoba tersenyum menggoda dan mendekatkan bibirku ke telinga Rianj Hembusan napas hangat di telinganya pasti membuat Riani dirajai rasa panas di dadanya.



Sesuatu akan mendesak keluar, meminta pelampiasan. Aku melihat Riani berusaha menahan dengan menggigit bibirnya.



Aku semakin menggodanya dan membuat dia semakin mendongakkan lehernya.



Hembusan nafasku berubah menjadi kecupan manis dari mulai telinga hingga lehernya. Sebuah desahan lolos dari bibir wanitaku, dan itu membuatku menyeringai senang.



"Sudah siap menghadapi kegilaan suamimu ini, Sayang?"



Riani terkekeh dan mengangguk. Mendapat lampu hijau, aku langsung mengangkat Riani dan menyandarkannya di dinding kamar.



Aku mulai mengantarkan isteriku ke tempat dimana kami bisa melupakan semua masalah.



Namun, Bayang-bayang Ana melintas sesekali. Tanpa kusadari, aku bergairah dengan bantuan imajinasiku terhadap Ana. Pengaruh wanita itu begitu kuat. Sangat sulit untuk diabaikan.



Hingga desah nafas terakhirku, aku masih melihat jelas Ana yang tersenyum manis padaku.



Aku juga membalas dengan tersenyum. Kurasakan Riani memelukku dari samping dan bersandar di dada yang masih berkeringat.



"Kenapa senyum, hm?" tanyanya sambil menyentuh bibirku.



Aku menoleh ke arahnya dan menggeleng. Kubalas pelukannya lalu memejamkan mata.



Bukankah ini lebih baik?



Daripada aku berpetualang dengan wanita lain, lebih baik aku melakukannya bersama isteriku. Meski aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau Ana selalu terbayang sejak tadi.



Tapi aku hanya pria normal yang bisa saja mengagumi wanita cantik selain isteriku. Itu sudah menjadi rahasia umum kaum pria dan merupakan hukum alam.



Sama halnya bila pria lain di luar sana pasti juga pernah mengagumi isteriku.



*****



__ADS_1


__ADS_2