Wanita Kedua

Wanita Kedua
END


__ADS_3

Sekuat apapun Aswin berusaha memperbaiki, nyatanya justru Sandra semakin menginginkan lebih.


Aswin menyerah dan memberikan sebagian hartanya untuk wanita yang sudah memberikan dia Putri cantik. Harta yang di inginkan Sandra bukan cinta, sampai kapanpun Sandra tidak akan puas sebelum dia benar benar mendapatkan seluruh harta yang dimiliki Aswin.


Diam diam Aswin sudah mencium niat Sandra dari dulu, dari Sandra yang menginginkan hak kepemilikan beberapa aset miliknya. Aswin bukan orang bodoh, namun Aswin juga tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.


Hingga sampai detik ini, kesabarannya sudah benar benar di uji oleh niat jahat Sandra pada Muthia.


Saat Aswin melewati pintu utama, Aswin berpapasan dengan Mirna.


"Tunggu!"


Aswin mengehentikan langkah Mirna dan menatapnya tajam.


Aswin tau, kalau Mirna juga ikut membantu Sandra dalam aksinya menyakiti Muthia.


"Iya, pak!" Mirna menunduk dalam dan menghentikan langkahnya. Tubuhnya sudah gemetar, takut kalau Aswin akan memenjarakan dirinya.


"Aku tau, kamu adalah orang kepercayaan Sandra. Dan kamu juga yang sudah membantu Sandra untuk mencelakai istriku, Muthia!


Kalau kamu tidak berhenti dan keluar dari rumah rumah ini, maka aku yang akan melaporkan kamu ke kantor polisi dengan bukti bukti yang sudah kami pegang.


Semua pilihan ada pada kamu, tetap bekerja dengan Sandra atau pergi dan tidak terlibat dengan rencana Sandra?" Setelah mengatakan sedikit ancaman,Aswin melanjutkan langkahnya menuju mobil yang dia parkir di depan halaman rumah nya.


"Saya akan memilih pergi, Pak Aswin!" sahut Mirna yakin dan mampu menghentikan langkah Aswin dan menoleh ke arah Mirna dengan senyuman tipis. "Bagus.!" Aswin merespon nya singkat dan kembali meneruskan langkah.


Mirna tak ingin masuk penjara dan langsung berkemas membereskan barang barangnya lalu pergi tanpa berniat pamit ke Sandra yang sedang mengamuk di dalam kamarnya.

__ADS_1


Mirna berniat pulang kampung dengan mengajak orang tua dan anaknya. Agar tidak mendapatkan ancaman dan teror dari Sandra. Dan semalam Alek juga sudah menawari Mirna modal atas perintah dar Amir, jika Mirna mau pergi dan tidak meneruskan kerja samanya dengan Sandra.


"Aku harus segera pergi dari rumah dan mengajak ibu juga bapak pulang kampung saja, dan menerima tawaran modal dari tentara itu untuk membuka usaha warung. Dari pada harus mengikuti perintah Bu Sandra yang justru akan membahayakan nasibku. Aku tidak mau di penjara." Batin Mirna bicara sendiri dan memantapkan keputusannya.


Mirna menyeret kopernya dan memutuskan untuk berpamitan pada Bu Siti saja. Mirna ingin cepat cepat pergi sebelum Sandra melihat kepergian Mirna. Bu Siti memahami kegelisahan Mirna dan membantu Mirna segera keluar dari rumah.


Sedangkan Sandra masih mengamuk, tidak terima dengan keputusan Aswin yang menceraikannya.


"Mirna! Mirna!" Sandra berteriak memanggil Mirna, namun uang datang justru Bu Siti.


"Mirna kemana Bu, bilang sama Mirna untuk menemui ku sekarang !" teriak Sandra dengan wajah yang sudah memerah dan sembab.


"Maaf nyonya, itu Mirna dari tadi belum ada kelihatan, tidak tau kemana dia pergi, gak ada pamit sama saya." sahut Bu Siti berbohong dengan kepulangan Mirna.


Kalau Bu Siti jujur, dan akunya Sandra akan menyuruh orang suruhannya untuk mencari Mirna. Jadi Bu Siti memilih berbohong, agar Mirna bisa membawa pulang orang tua dan anaknya ke kampung dulu.


Sandra langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Mirna melalui aplikasi watshap nya, tapi kontak Mirna sedang tidak aktif. Itu membuat Sandra semakin Murka.


Sedangkan Aswin membawa mobilnya menuju kerumah Muthia, mengatakan apa yang sudah terjadi dengan rumah tangganya bersama sandra.


Muthia sempat shock dan tak percaya, tapi itulah keputusan yang sudah Aswin ambil. Dan tidak bisa untuk diganggu gugat oleh nasehat apapun.


"Aku akan menyerahkan Rumah itu atas nama Sandra dan bengkel mobil dalam pembagian harta Gono gini. Aku sudah lelah dengan semua kelakuannya yang tidak ke nah berubah, Bund!"


Aswin menjelaskan semua pada Muthia yang hanya memilih diam dan menerima keputusan suaminya.


"Jika memang itu keputusan yang terbaik menurut kamu, aku tidak akan ikut campur, Aku percaya, kamu sudah memikirkannya sebelum mengambil keputusan." Muthia berusaha untuk mengerti dan memahami keputusan yang Aswin ambil, Tania banyak komentar ataupun bantahan lagi.

__ADS_1


Sedangkan dilain tempat, Sandra kian murka dengan dengan kepergian Mirna. Sudah hampir dua jam Mirna tidak kunjung datang, sedangkan ponselnya tidak aktif saat dihubungi.


Belum lagi tukang bakso yang memilih mundur dari pekerjaan yang Sandra kasih dan juga dua preman yang Sandra sewa juga sudah ada dalam tekanan Amir, sehingga mereka tidak mau lagi melakukan perintah Sandra.


Dengan kemarahan Sandra memutuskan untuk pergi mencari Mirna di kontrakannya dengan membawa mobilnya sendiri.


Emosi, kebencian, luka, dendam dan amarah telah menguasai diri Sandra, sehingga tanpa sadar, Sandra melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, sehingga saat ada bis yang berlawanan arah juga dalam keadaan melaju cukup kencang menghindari kendaraan roda dua, mobil Sandra tak bisa menghindar, akhirnya kecelakaan pun terjadi.


Mobil yang ditumpangi Sandra hancur dan Sandra tidak bisa diselamatkan dengan tubuh yang sebagian sudah remuk akibat insiden kecelakaan itu.


Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kematian akan menjemput. Hendaklah selalu berbuat baik dimanapun dan kapanpun.


❤️❤️❤️


End


Haturnuhun untuk semua pembaca yang sudah mengikuti cerita "WANITA KEDUA" hingga selesai, semoga kalian selalu sehat dan bahagia.


Yuk ikuti karya aku yang lain.


#Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain


#Cinta Dalam Ikatan Takdir


#Sekar Arumi


#Coretan Pena Hawa

__ADS_1


#Pembalasan istri yang Terhina


Salam sayang dan peluk jauh dari author buat kalian semua ❤️❤️❤️


__ADS_2