Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 34 Pengawal


__ADS_3

"Em, kalau mencurigakan sih ada, tapi itu beberapa hari yang lalu, ada perempuan yang sering berdiri tak jauh dari yayasan dan seperti memperhatikan kegiatan di sini, dan saat saya mau menegur, dia selalu kabur dengan menaiki motornya, terus kemarin juga ada yang menanyakan Bu Muthia, jadwal beliau apa saja dan datang setiap hari apa. Tapi saya tidak menjawab, karena orang itu tidak bisa memberi alasan yang tepat kenapa dia menanyakan jadwal Bu Muthia, terus pergi begitu saja." Pak Dayat mencoba mengingat ingat apa aja yang membuat diri nya merasa janggal akhir akhir ini dan menyampaikan semuanya pada Amir tanpa ada yang di tutupi sama sekali.


Amir terdiam setelah mendengar penuturan dari pak Dayat. Kecurigaannya semakin mengarah ke Sandra, apa lagi sepertinya memang sudah sangat di susun secara rinci.


Instingnya sebagai prajurit yang sudah memiliki pangkat perwira tinggi tak membuat Amir kesulitan dalam menyikapi dan menyimpulkan sederet kejadian.


"Baiklah, saya minta sama bapak, agar lebih waspada ya, kalau ada yang mencurigakan langsung bertindak dan saya akan menempatkan salah satu anak buah terbaik saya di sini, ikut berjaga di pos depan. Entahlah apa yang di inginkan orang tersebut, tapi yang pasti orang itu sedang mengincar Bu Muthia.


Dan satu lagi, kalau ada orang yang mengirim paket ke yayasan ini, tolong periksa dulu di pos depan. Terutama yang di tujukan pada Muthia, kalau itu makanan langsung buang saja. Pak Dayat mengerti kan dengan apa yang saya sampaikan?"


Amir bicara panjang lebar, memberi arahan dan peringatan pada satpam paruh baya yang masih terlihat segar dan sangar, tapi sebenarnya pak Dayat orang yang baik dan ramah.


"Baik pak, insya Alloh saya akan bekerja dengan baik, melindungi semua yang ada disini. Bismillah." Sahut pak Dayat tegas dan serius. Amir tersenyum dan menepuk bahu pak Dayat .


"Jangan lupa kasih tau ke pak Joko juga ya pak, agar beliau juga bisa lebih waspada. Dan mulai malam ini saya akan menginap disini, sampai Minggu depan, karena saya sedang ambil cuti selama dua Minggu."


"Siap, pak!" sahut pak Dayat kayaknya seorang tentara yang hormat pada atasannya.


"Yasudah, kalau begitu silahkan pak Dayat kembali berjaga, jangan lupa lebih awas dan siaga ya pak." sambung Amir tegas namun tetap ramah.

__ADS_1


"Nanti kalau ada yang datang dengan pakaian tentara, antar ke dalam menemui saya ya pak Dayat. Terimakasih." sambung Amir sekali lagi sebelum pak Dayat benar-benar pergi kembali ke pos jaganya.


Amir kembali menemui Muthia di ruang tamu, tapi perempuan yang di cari sudah tidak ada di sana. Amir berinisiatif mengirim pesan untuk bertanya keberadaan Muthia. Dan ternyata Muthia sedang ada di ruangannya, kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum Aswin datang menjemputnya, karena Muthia sudah memberi kabar ke Aswin dengan apa yang kini di hadapinya. Aswin langsung cemas dan meluncur ke yayasan untuk menjemput Istrinya.


Amir menyenderkan tubuhnya di bahu kursi. Pikirannya menerawang jauh tentang perasaannya terhadap Muthia yang sulit dihilangkan, lelaki tampan yang sudah matang di segala hal itu.


Bukannya tidak ada yang suka, banyak perempuan yang ingin meraih hatinya, bahkan mereka berasal dari keluarga cukup terpandang dan berpendidikan tinggi, bahkan banyak wanita cantik dan seksi yang mengejarnya dengan terang terangan, tapi sedikitpun Amir tidak merespon, cuek bahkan tegas menolaknya. Cintanya masih utuh untuk seorang Muthia, meskipun semua seperti mustahil untuk mendapatkannya, Muthia yang sudah menikah, dan Muthia perempuan yang begitu menjaga kehormatannya.


Amir hanya bisa mengagumi dalam diamnya. Amir hanya bisa menyimpan rindu dalam doanya.


Karena cinta memang tidak harus bersama, bisa melihatnya bahagia, bisa melihatnya baik baik saja dan bisa menatap senyumnya itu sudah lebih dari cukup untuk Amir pada seorang Muthia yang begitu istimewa di hatinya.


Lantaran sudah ada beberapa kali, Aswin memanggil nama Amir , tapi tidak di respon, Amir terlihat duduk menyender dengan mata terpejam, terlihat sekali kalau sedang banyak pikiran.


Aswin memang selalu cemburu melihat Amir dekat dengan istrinya, tapi Aswin tau kalau diantara keduanya tidak ada apa apa, karena Aswin begitu mengenal siapa Muthia, Muthia begitu menjaga dirinya. Dan Aswin juga tau kalau Amir masih menyimpan rasanya pada Muthia, karena sebagai sesama laki laki, sangat mudah mengetahui hanya dari tatapan mata. Namun dengan bijak Aswin mencoba memahami, karena Aswin pun tau, Amir orang yang paham agama dan berpendidikan, Amir begitu menjaga diri dan bersikap sopan pada istrinya, mungkin cintanya hanya akan dipendam. Hingga Aswin tidak begitu khawatir dengan hubungan mereka dalam mengembangkan yayasan sosial yang didirikan Muthia.


Amir kaget, mendapati Aswin sudah tersenyum di hadapannya.


"Maaf, ketiduran." kilah Amir menutupi rasa malunya.

__ADS_1


"Gak papa, capek ya?" balas Aswin ramah dan tersenyum ke arah Amir yang salah tingkah.


"Iya, mungkin." sahutnya datar dan memaksakan senyum.


"Saya sudah mendengar semua dari istri. Apa yang sebenarnya terjadi?" tiba tiba Aswin langsung membahas apa yang terjadi dengan istrinya, dan membuat Amir langsung memasang wajah serius.


"Aku juga baru tau barusan, kalau Muthia tidak bilang ada yang terus mengirim pesan peringatan dan berkali kali. Bahkan hari ini ada yang mengirim makanan kusus untuk Muthia tanpa menyertakan alamat dan nama pengirimnya. Sepertinya Pak Aswin harus berhati hati, keselamatan Muthia sedang terancam. Ada seseorang yang berniat buruk pada Muthia." Sahut Amir serius dan mengingatkan Aswin agar lebih menjaga istrinya.


Aswin meraup wajahnya kasar lalu menghembuskan nafasnya dalam. Pandangannya di arahkan pada Amir yang memasang wajah tegas dan penuh wibawa.


"Saya bingung, karena Muthia tidak mau saya ajak tinggal satu rumah dengan istri pertama saya. Dia lebih nyaman tinggal dirumahnya sendiri, tapi saya tidak bisa pulang setiap hari karena ada pekerjaan di luar kota saat ini." Keluh Aswin dengan pandangan kosong penuh dengan beban di pundaknya.


"Apakah saya di ijinkan membantu?" balas Amir serius.


"Maksudnya?" Aswin menatap penuh selidik ke arah lawan bicaranya yang terlihat tenang dan tegas.


"Saya akan menempatkan salah satu anak buah saya untuk berjaga dirumah Muthia, biar mereka berjaga di depan rumah, mereka sudah biasa tinggal di mana saja, dan mereka juga Orang orang terlatih. Saya akan menempatkan dua orang disana dan satu orang di yayasan ini, dan kalau Muthia mau pergi kemanapun, yang bertugas dirumah akan mengawal Muthia salah satunya dan satunya akan tetap ada dirumah. Itu kalau anda memberi ijin. Demi keselamatan istri anda, sampai kita bisa menemukan orang yang ingin mencelakakan Muthia.


Pilihan ada ditangan pak Aswin, saya hanya ingin membantu memberi solusi." Amir menatap Aswin serius berharap tawarannya diterima Aswin, karena Demi keselamatan Muthia, apapun akan Amir lakukan.

__ADS_1


__ADS_2