Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 16 Berjanji


__ADS_3

'Ternyata selama ini, aku kurang begitu memperhatikan sikap buruk Sandra, aku terlalu sibuk bekerja demi bisa memenuhi kewajiban ku pada kedua istriku. Apakah aku yang lalai atau Muthia yang terlalu baik? hingga dia menyimpan semuanya sendirian, namun bagaimanapun Sandra juga tidak bisa sepenuhnya aku salahkan, mungkin sikapnya bisa seperti ini, itu dikarenakan dia cemburu dan belum mampu iklas berbagi, aku harus lebih bisa memberinya pengertian lagi. aaah kenapa Sandra tidak bisa bersikap seperti Muthia, memiliki dua istri dengan karakter yang berbeda ternyata cukup membuat kepala ini pusing.' Aswin meremas rambutnya kasar, tak mudah menyatukan dua hati di bawah satu mahligai.


"Kenapa ayah melamun, ada yang dipikirin?" tiba tiba suara lembut Muthia menyadarkan ku dari unek unek yang sudah memenuhi isi kepala ini, tak di pungkiri aku mulai pusing dengan semua ini, aku takut jika tidak bisa bersikap adil diantara keduanya, meskipun sebisa mungkin aku berusaha untuk bersikap sangat adil pada kedua istriku.


" nggak kok, ayah lagi mikirin tempat yang sesuai untuk pembangun yayasan, agar nanti bunda tidak capek pulang pergi mengurusi yayasan, jadi berpikir untuk mencari lahan tidak jauh dari rumah kita ini. Bagaimana kalau di jln Mastrip aja bund, dari sini kan hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menitan, dan disana kayaknya ada lahan kosong yang dijual, beberapa waktu lalu ayah sempat melihat ada plang yang dipasang dekat area masjid Al Anwar, gimana? Apa besok kita kesana untuk melihatnya dulu, barangkali cocok dengan angan angan bunda." tawar Aswin pada istrinya.


Muthia menanggapinya dengan senang hati, semakin cepat prosesnya maka semakin dekat ia akan mewujudkan mimpi mimpinya. Menjadi orang tua asuh untuk anak anak yang kurang beruntung, dan bisa bermanfaat untuk orang lain, karena selama ini Muthia sudah biasa menyisihkan hasil usahanya untuk bersedekah, tak heran jika usaha Muthia Makin berkembang pesat, dua butik kusus gamis syar'i dengan brand yang sudah melejit namanya dikalangan ibu ibu sosialita, dan beberapa cabang rumah makan yang ada di Surabaya dan Jombang yang masing masing memilki pendapatan yang tidak sedikit, karena selalu rame dengan pengunjung, selain masakannya terkenal enak, harganya juga sangat terjangkau, belum lagi usaha properti warisan dari orang tuanya. Jadi untuk segi ekonomi Muthia sudah lebih dari cukup, itulah kenapa Muthia tak pernah mempersoalakan uang pada Sandra yang sering merampas haknya.


"Baik, besok kita kesana, semoga cocok ya yah." 


"Aamiin, semoga sayang." Aswin mengaminkan harapan istrinya, ada rasa kagum dan makin cinta dengan sikap baik istrinya.


"Bunda mau ke belakang dulu lihat teh Sandra, nggak enak, jangan sampai teh sandra merasa kita mengabaikannya." 


"Iya sayang, bunda harus lebih sabar lagi, ayah percaya bunda wanita luar biasa dan sangat baik hati." 

__ADS_1


"Aamiin, tapi nggak harus berlebihan begitu deh nge gombalnya." 


Disambut kekehan oleh Aswin, lucu saja melihat ekspresi Muthia yang merona sambil mengerucutkan bibirnya malu malu, gemes aja melihat sikap istrinya kalau sedang salah tingkah.


🌸🌸🌸🌸


Muthia melihat Sandra sedang duduk sendirian di bangku taman belakang rumah, dengan perasaan campur aduk, Muthia menghampiri Sandra. Muthia sudah menyiapkan hati, jika nanti kakak madunya itu akan berucap pedas seperti yang sudah sudah, cukup memakluminya saja.


"Teh, kenapa teteh melamun disini sendirian?


Sandra menatap sekilas ke arah Muthia dan kembali membuang pandangan lurus kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"ya duduk saja." meskipun nampak acuh namun Muthia tau, jika kakak madunya masih memilki hati yang cukup baik untuknya.


"Makasih ya teh. Selama ini teteh sudah baik sama Muthia." Sandra menoleh ke arah Muthia, dahinya mengernyit heran, mencoba mencari kebenaran dari ucapan adik madunya lewat mata teduh itu dan Sandra menemukan kesungguhan disana, hatinya mencelos, Sandra merasa tersindir, karena yang sandra lakukan selama ini, hanya kebencian untuk kehadiran Muthia di dalam kisah rumah tangganya.

__ADS_1


"Apa kamu ingin menyindirku?" Balas Sandra datar.


"Aku tidak ada maksud menyindir teteh, aku tulus ingin mengucapkan terima kasih. Terimakasih karena tetehlah saat ini aku dan kang Aswin bersama dan memiliki Yusuf diantara kami, tanpa persetujuan teteh mungkin tidak ada pernikahan diantara aku dan kang Aswin, maafkan jika ternyata kehadiranku justru membuat teh Sandra terluka,maafkan kalau dulu aku tidak peka dengan maksud teteh. Aku pikir saat teteh meyakinkan aku untuk menerima lamaran dari kang Aswin, teteh sudah siap berbagi denganku, maafkan aku ya teh. Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu."


Sandra hanya diam, masih fokus dengan pandangannya ke depan, ada buliran bening yang tak bisa terbendung lagi, luka hati yang dipendam bertahun tahun kini akhirnya luruh tumpah terkoyak oleh ketulusan Muthia.


Muthia mencoba meraih pundak Sandra yang mulai bergetar oleh Isak tangis. Muthia larut ke dalamnya, kedua wanita cantik itupun menangis bersama dengan gejolak batin masing masing, tanpa disadari, Aswin sedang memperhatikan adegan haru kedua wanitanya. Aswin tak ingin mengganggu dan memilih membiarkan kedua istrinya bicara dari hati ke hati, semoga dengan begitu mereka akan saling bisa lebih memahami dan menerima satu dengan yang lain.


"Kalau aku boleh memilih, aku lebih memilih untuk menjadi istri satu satunya, namun apa dayaku, aku hanyalah wanita yang terpaksa dinikahi dari perjodohan, sebelum kami menikah, kang Aswin sudah menceritakan perasaannya untukmu, dan saat dia bercerita kembali bertemu denganmu, jujur hatiku kembali sakit, karena cintanya begitu besar untukmu. Itu dapat kulihat dari bagaimana dia bercerita tentangmu, ada kilatan cinta yang bersinar dari matanya, dan itu tidak pernah ditunjukkan untukku. Saat kang Aswin meminta ijin untuk menikahimu, dengan berat hati akupun menyetujui, berpura pura kuat, berusaha iklas meski nyatanya berat dan sampai saat ini itu belum bisa aku lakukan, aku tak ingin ditinggalkan dan kehilangan kemewahan darinya, demi masa depan anak anakku aku bertahan hingga detik ini, itulah kenapa aku meminta lebih dari hartanya, semua aku lakukan demi masa depan anak anakku." Akhirnya Sandra mampu meluapkan semua isi di hatinya selama ini, entah kenapa kalimat demi kalimat itu mengalir begitu saja untuk diceritakan pada wanita yang selama ini dia benci.


Muthia menggenggam jemari Sandra dengan kedua tangannya.


"Teteh tidak perlu hawatir, teteh maupun anak anak tidak akan kekurangan dari cinta maupun kemewahan dari kang Aswin, insya Alloh semua tetap jadi milik teteh dan anak anak, aku janji untuk itu. Aku hanya minta kita saling berbagi dengan adil untuk kasih sayang dan waktu dari suami kita, tidak lebih, dan untuk uang, jika teteh butuh sesuatu, teteh bisa ngomong ke Muthia, insya Alloh Muthia akan beri." 


Sandra menatap tak percaya ka arah Muthia, ternyata selain baik, Muthia juga wanita yang loyal, dan itu sangat menguntungkan untuk sandra menjalankan misinya.

__ADS_1


#tidak ada cinta yang istemewa tanpa ketulusan dan iklas di dalamnya


__ADS_2