Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 31 Kembalinya Sandra


__ADS_3

Dilain tempat, Sandra sedang duduk di taman yang ada di samping rumahnya, menyesap teh hangat dengan begitu anggunnya.


Kesehatan Sandra sudah kembali pulih seperti dulu, sudah bisa berjalan dan beraktifitas, Sandra sudah benar-benar sehat dan kembali melakukan kegiatannya yang sering mengadakan acara bersama teman teman sosialitanya, dengan acara arisan, atau hanya sekedar ngobrol saja.


Mirna sudah menjadi pelayan setia Sandra. Bahkan mereka sedang merencanakan sesuatu yang akan membuat Muthia dan Aswin berpisah.


Sandra yang ternyata hanya sedang memainkan perannya, pura pura sudah menerima Muthia. Namun itu hanyalah cara Sandra untuk membuat suami dan adik madunya lengah. Apalagi dengan keadaannya sehabis kecelakaan itu, Sandra harus bisa memanfaatkan waktu nya dengan baik, agar bisa kembali mendapatkan simpati dan kepercayaan suaminya.


Sedikit bersikap baik tak masalah, asal Sandra bisa mendapatkan kepercayaan itu lagi. Terutama dari Aswin, suaminya.


"Maaf Bu, saya sedikit terlambat." tiba tiba Mirna muncul dan langsung meminta maaf karena dia datang terlambat setelah mengambil cuti selama tiga hari karena anaknya yang di kampung sedang sakit.


"Duduk." balas Sandra biasa saja.


"Apa yang kamu dapatkan selama kamu cuti?" sambung Sandra menatap dingin ke arah Mirna yang tersenyum penuh arti, karena dia merasa membawa informasi yang mungkin akan membuat atasannya tersenyum dan bangga dengan hasil kerjanya.


"Ini berita baik buat Bu Sandra. Pasti Bu Sandra akan senang mendengarnya." sahut Mirna percaya diri.


"Katakan saja, jangan banyak drama, aku gak suka sesuatu yang bertele tele. Kalau kabar yang kamu bawa membuatku senang, aku akan memberimu hadiah, separuh dari gaji kamu, bisa kamu buat untuk senang senang dengan anakmu." Balas Sandra panjang lebar dengan wajah datarnya.


"Bu Muthia akan sering bertemu dengan laki-laki yang bernama Amir, dia donatur tetap di yayasan Bu Muthia dan akan membangun sekolahan buat anak anak kurang mampu yang akan dibangun di samping yayasan dan menggunakan satu nama, Az Zahra juga. Mereka pernah memiliki hubungan di masa lalu, Amir pernah melamar Bu Muthia, tapi Bu Muthia tidak menerimanya. sampai akhirnya Amir di pindah tugaskan di Kalimantan.

__ADS_1


Tapi sekarang sudah pindah di Jawa, tepatnya di Surabaya. Sepertinya Amir ini masih belum bisa move on dari Bu Muthia, karena sampai sekarang Amir belum juga menikah."


Mirna mengatakan apa yang dia tau semuanya tanpa ada yang ditutupi.


"Ini kabar baik untukku, terimakasih Mirna, kerjamu bagus sekali, nanti aku akan memberimu Bonus. Dan sebentar lagi pasti akan ada perselisihan antara kang Aswin dengan istri keduanya itu. Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba." Sandra langsung sumringah dengan kabar yang di sampaikan Mirna.


"Sebentar lagi, kamu akan merasakan sakit seperti yang aku rasakan selama ini, Mas, dan kamu Muthia. Kalian akan tau sesakit apa ketika hati di paksa menerima sedangkan hati menjerit menahan perih, sakit sangat sakit!" Sandra bergumam lirih namun bisa di dengar oleh Mirna yang duduk tak jauh darinya.


Mirna, awalnya kasihan melihat Sandra yang sering menangis sendirian, Mirna merasa iba dan seolah bisa merasakan kepedihan nyonya nya. Sehingga terjalin hubungan dekat diantara mereka.


Saat Sandra sudah kembali sehat, Sandra meminta Mirna untuk tetap bekerja ikut dengannya, kusus membantunya. Karena Sandra sudah merasa nyaman dan menyukai Mirna.


Mirna kerjanya rajin, dan dia juga sangat cekatan dan bisa memahami Sandra saat Sandra butuh teman bercerita. Dengan meminta ijin Aswin terlebih dulu, akhirnya Sandra meminta Mirna untuk tetap bekerja dengannya, dengan gaji yang lumayan besar, sebagai orang kepercayaannya.


"Baik, Bu . Semua sudah akan di jalankan. Bu Sandra tenang saja, tunggu kabar dari saya setelah ini." sahut Mirna, pasti.


"Aku percaya sama kamu, jangan sampai pak Aswin tau. Berhati hati lah."


Sandra menyeringai jahat.


Kebaikannya, kelembutannya, kekalemannya hanyalah kamuflase untuk menutupi rencananya yang selama ini tertunda.

__ADS_1


Kecelakaan yang membuatnya lumpuh sementara harus membuatnya pura pura menerima kehadiran wanita yang begitu dia benci. Harus pura pura iklas dan bersikap penuh cinta, tapi hatinya menyimpan dendam akibat dari ketidak iklasan nya.


Disaat keadaannya sudah kembali pulih dan normal, Sandra yang penuh tipu muslihat, kembali ke sifat aslinya, dan kembali dengan niat buruknya, menguasai seluruh harta Aswin. Namun kali ini dengan cara yang lebih halus dan penuh dengan perhitungan. Agar tidak mudah di ketahui oleh Aswin. Tetap menjadi istri yang begitu santun dan penurut dan seolah sudah menerima Muthia dan bersikap baik dengan madunya. Padahal hatinya tak terima sama sekali.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Mau menyiapkan makan siang buat Bu Sandra."


Mirna meminta ijin dan berlalu menuju ke dapur, memasak menu khusus buat Sandra yang sejak sakit mulai mengatur pola makannya dan semua dia serahkan pada Mirna.


"Sudah kembali mbak Mirna?" sapa Bu Siti yang tengah sibuk memasak untuk makan siang kedua anaknya Sandra.


"Iya, Bu Siti. Baru saja sampai. Tadi macet jadi agak terlambat sampainya. Sekarang mau siapin makan siang buat Bu Sandra." Mirna dengan tenang dan ramah menjawab pertanyaan Bu Siti, yang sebenarnya sudah mengetahui semua rencana jahatnya Sandra yang disusun dengan Mirna. Namun Bu Siti memilih diam pura pura tidak tau apa apa.


Meskipun Bu Siti sudah ikut lama dengan Sandra, itu tidak menjadi alasan bagi Bu Siti mendukung rencana jahat majikannya. Setiap saat Bu Siti selalu mengirimkan pesan kepada Muthia buat berhati hati dan memberi isyarat kalau ada orang yang berniat jahat sedang mengincar keselamatannya, dengan menggunakan nomor baru yang tidak di ketahui oleh siapapun.


Bu Siti tau, Muthia wanita baik dan selalu tulus pada semua orang, tidak pernah melihat orang dari harta, Dan Muthia juga tidak pernah terlihat punya dendam sekalipun Sandra sering kali membuat masalah dengannya.


Justru saat Sandra sakit, Muthia dengan telaten dan iklas merawat Sandra tanpa sedikitpun mengeluh.


Tapi ternyata, sakit hati Sandra dan sifat tamaknya, tak bisa luluh oleh ketulusan hati Muthia.


Bu Siti hanya bisa beristigfar dengan rencana rencana Sandra yang menurutnya sangat keterlaluan.

__ADS_1


Sayur SOP daging, tahu goreng dan tempe goreng serta sambal, sudah berpindah di atas meja. Bu Siti menyiapkannya dengan cekatan, karena sebentar lagi si kembar akan pulang dari sekolahnya, yang punya kebiasaan langsung minta makan. Si kembar tidak pernah rewel sama makanan, apa saja doyan, apa yang dimasak Bu Siti pasti si kembar makan tanpa banyak protes. Itulah yang membuat mereka memiliki tubuh yang gembil dan menggemaskan.


__ADS_2