
Amir mengerutkan wajah, menggelengkan kepalanya heran dengan perempuan seperti Sandra. Benar benar wajah penuh kamuflase. 'Semoga Aswin segera menyadari sikap licik istri pertamanya itu. Sepertinya aku akan bermain main sedikit dengannya, memberi terapi jantung pada perempuan ular itu.' Amir tersenyum miring, memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Sandra.
Pukul sebelas siang, Amir memutuskan untuk berkunjung ke rumah Muthia dan ingin melihat laki laki yang di sewa Sandra untuk memata matai rumah Muthia.
Dengan langkah tegap yang penuh wibawa,. sosok Amir yang memiliki tubuh tinggi tegap dengan wajah tegasnya, berjalan menuju mobilnya dan meminta Leo untuk terus waspada dengan orang orang yang ada di sekitar dan jangan pernah memberi informasi apapun pada orang yang tidak dikenal.
Setelah memberi pesan pada petugas keamanan, Amir masuk ke dalam mobil nya, lantas melajukannya dengan berlahan menyusuri jalan raya.
Amir tak pernah bisa membuang Muthia dari dasar hatinya, Cinta yang begitu besar pada sosok wanita penuh pesona yang memiliki keindahan tutur kata dan sikap selalu membuat Amir sulit untuk melepaskan rasa itu. Semakin hari justru semakin besar.
Cinta memang tak selamanya harus bersama, terkadang cinta cuma butuh pengorbanan dan keikhlasan untuk kebahagiaan yang di cinta. Inilah yang saat ini ingin Amir lakukan, melindungi Muthia, menjaga Muthia semampunya agar Muthia tetap bisa menjalani harinya dengan rasa aman dan bahagia bersama keluarga kecilnya.
Walau terkadang tercipta perih di hati seorang perwira tinggi Amir Hamzah.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, mobil Amir sudah memasuki halaman rumah Muthia, yang kini sedang di pasang pagar besi, ada beberapa tukang yang sedang bekerja disana.
Aswin yang sudah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk memasang pagar besi yang lebih tinggi dan kokoh demi menjaga keselamatan istri dan anaknya dari incaran orang orang jahat.
"Asalamualaikum." Amir mengucapkan salam saat kakinya sudah berada di teras depan rumahnya Muthia, dan sudah ada Alek juga Rofik yang sedang duduk santai sambil mengawasi keadaan sekitar dengan insting dan matanya yang awas oleh setiap gerak gerik musuh yang ada disekitarnya.
"Waalaikumsallm. Siap! Selamat siang, Pak!" Alek dan Rofik menjawab salam dan memberi hormat pada Amir layaknya seorang prajurit.
"Lain kali tidak usah pakai penghormatan formal begini, kalian akan membuat mereka curiga dan waspada, karena orang yang ada dibalik mereka sudah mengetahui keberadaan kita dan mereka sedang menyusun rencana lain untuk mencelakai Bu Muthia. Kalian harus lebih awas lagi." sambung Amir memberi penjelasan dan langsung di balas anggukan paham dari kedua bawahannya.
"Bu Muthia ada di dalam?" kembali Amir mengeluarkan suaranya.
"Siap pak, ada! Bu Muthia sedang ada di dalam." sahut Alek tegas dan lupa dengan perintah Amir yang memintanya untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
Amir menggelengkan kepalanya dan membuat Alek salah tingkah. "Maaf pak, lupa!" sahut Alek pada akhirnya.
"Loh ada om Amir?" tiba tiba Yusuf muncul dengan membawa mainan pistol pistolan miliknya. Sejak ada Alek dan Rofik, Yusuf setiap hari mengajak kedua bawahannya Amir itu bermain bersamanya, merasa seru dan senang karena punya teman bermain.
"Iya sayang, Bunda dimana?" sahut Amir yang langsung tersenyum melihat kedatangan Yusuf, yang wajahnya sangat mirip dengan Muthia.
"Bunda ada di dalam! Mau Yusuf panggilin bunda?" balas Yusuf cerdas dengan wajah polosnya.
"Boleh sayang, anak pintar!" Amir mengusap kepala Yusuf bangga, anak sekecil dia sudah sangat pintar dan tau caranya menghormati tamu.
Yusuf lari lari kecil, dan memanggil bundanya untuk memberitahu kalau sedang ada tamu.
"Bund, ada tamu, ada om Amir yang cariin bunda." Yusuf bicara begitu lancarnya khas anak seusianya. Muthia tersenyum melihat tingkah anaknya yang menggemaskan.
"Iya sayang, terimakasih ya jagoannya bunda!
Yusuf langsung berlari dan menyampaikan apa yang dikatakan bundanya pada Amir yang sudah duduk di kursi teras bersama dua anak buahnya.
Muthia membereskan mainannya Yusuf, yang berserak di mana mana dengan susah payah karena kondisi perutnya yang membesar. Melihat Muthia kesulitan, mbok Narti mengambil alih tugas Muthia dengan cekatan.
"Biar saya saja, Bu! Ibu istirahat saja, nanti kecapean dimarahi bapak loh." mbok Narti mengomel seperti ibu yang sedang menegur anaknya, membuat Muthia tertawa dengan kecerewetan pembantunya.
"Sudah mbok, nanti bikinin minuman sama siapin cemilan buat pak Amir di depan ya, aku mau keluar dulu menemui beliau." sahut Muthia biasa saja dan langsung beranjak pergi menemui Amir yang sudah menunggunya di teras depan.
"Iya, Bu! Siap!" Sahut mbok Narti menirukan gaya Alek dan Rofik.
"Maaf kalau menunggu lama." Muthia muncul dengan langkah yang agak kesusahan, perutnya yang semakin besar membuatnya kadang kesulitan untuk bergerak bebas.
__ADS_1
"Gak papa, santai saja. Sibuk?" Amir menimpali dengan santai dan matanya tak lepas menatap wajah ayu perempuan yang ada di hadapannya. Dan diam diam Alek juga Rofik mengamati gerak gerik atasannya itu dengan iba. Cinta yang tak sampai.
"Gak kok, cuma lagi beresin mainannya Yusuf yang berserak, takutnya nanti keinjek dan bikin jatuh." balas Muthia jujur dengan raut muka yang teduh.
"Ada yang ingin aku sampaikan, karena aku merasa kamu harus tahu agar bisa lebih hati hati. Dan sebelum aku mengatakan semuanya, aku harap kamu menyiapkan dirimu agar tidak kaget dengan berita yang aku bawa ini. Kuat dan tetap tenang ya, aku yakin kamu punya stok sabar yang berlebih." Amir bicara dengan wajah tenang tapi serius dan terlihat begitu memahami Muthia.
Sebelum melanjutkan obrolannya, Amir meminta Rofik untuk mengajak Yusuf bermain sedikit menjauh dan meminta Alek untuk tetap berada di tempatnya, agar tidak terjadi fitnah nantinya.
Mbok Narti menyuguhkan kopi dan juga cemilan di meja yang ada di teras dimana Amir, Muthia dan Alek sedang duduk bersama dengan raut wajah sedikit tegang. Menunggu kabar yang akan disampaikan oleh Amir.
"Ada apa Mas? Sepertinya ini sangat penting." Muthia kembali buka suara setelah sesaat terdiam dengan kedatangan mbok Narti yang membawakan minuman.
"Iya, ini menyangkut seseorang yang ada dibalik teror itu, dan seperti yang pernah aku sampaikan. Orang itu orang terdekatnya kamu." Muthia langsung mengernyitkan dahinya yang membuat kedua alisnya bersatu, setelah mendengar penuturan dari Amir.
"Maksudnya gimana ini, Mas?
orang terdekat, siapa?"
Muthia tak sabar untuk segera tahu siapa orang yang Amir maksud.
Amir terdiam, mencari kalimat yang tepat untuk menyampaikan pada Muthia, yang ia yakini akan membuat Muthia shock bahkan pasti sangat sedih. Sehingga Amir harus berhati hati dalam memilih kalimat untuk menyampaikannya.
#Hayooooooo, penasaran kan?
Tunggu episode berikutnya ya girls ☘️☘️
Salam sayang dari Author ❤️❤️❤️
__ADS_1
Happy ending