Wanita Kedua

Wanita Kedua
Air mata Isteriku


__ADS_3

Aku memutar mobil ke arah restoran yang disebutkan oleh Riani lewat telepon. Diaa memintaku untuk menjemputnya di sana.



Sesampainya di sana, aku melihat Riani sedang berdiri di depan pintu restoran Panorama yang berada di jalan lintas Pematangsiantar-Tebing Tinggi itu. Restoran sederhana yang berada di persimpangan itu Sangat jauh berbeda dengan restoran yang baru saja kutinggalkan.



Riani tampak sedang berbincang dengan seorang wanita dan sesekali wanita itu tertawa. Malam ini wanitaku itu mengenakan gaun merah muda yang sedikit mengembang di bawahnya. Memberi kesan seperti gadis ABG yang sedang menginjak masa puber.



Motif polkadot di bagian pinggang menambah kesan kekanak-kanakan.



Aku tersenyum sendiri di dalam mobil. Istriku selalu mempesona seperti biasanya.



Aku mulai merasa bosan menunggu. Tanganku bergerak dan memencet tombol klakson. Hal tersebut  berhasil membuat Riani dan wanita yang bersamanya menoleh dan menatap ke arah mobil dimana aku berada.



Riani yang melihatku langsung kuberi senyuman. Dia balas tersenyum dan melambaikan tangan. Lalu mengakhiri perbincangannya dengan teman wanitanya.



Langkah kakinya yang anggun mendekati mobil yang kunaiki.



"Kupikir kau pergi bersama dengan supirmu," ucap Riani setelah duduk di dalam mobil.



Aku menggeleng pelan, tanganku segera bergerak memutar stir mobil. "Aku menyuruhnya pulang. Kasihan Edi, dia terlihat sangat capek."



Kidengar Riani bergumam sinis. Pandangan matanya mengarah lurus ke depan. "Bukan karena kau tidak ingin ada yang mengetahui kegiatan apa saja yang kau lakukan?"



Aku hanya diam dan menginjak rem saat lampu lalu lintas berwarna merah. Mulai lagi, batinku. Lalu aku menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.


__ADS_1


"Kau bukannya menanyakan aku sudah makan malam atau belum, tapi kau malah mencurigaiku. Aku mohon, Riani. Aku sedang tidak ingin berdebat."



Dia berdecak kesal. "Kau baru saja mengadakan pertemuan di sebuah restoran, mustahil bila kau tidak menikmati makan malam di sana."



Aku mengusap wajah dengan kasar. "Cukup, Riani. Aku sudah mengatakan kalau aku sedang tidak ingin berdebat." Setelah mengucapkan itu, aku menginjakkan kaki pada pedal gas. Lalu dengan kasar memutar porsneling. Terus terang, aku sangat kesal mendengar segala ucapan Riani. Tak tahukah dia kalau aku sedang lelah? Bukannya memberikan kecupan atau elusan sayang, yang kudapatkan malah perdebatan.



Di tengah kekesalanku, aku teringat ucapan Ana di reatoran tadi. Bagiku pendapatnya salah. Bukan aku tidak ingin mengetahui isi hati isteriku. Namun aku sudah berusaha untuk mengerti tapi dia sama sekali tidak mau mengerti akan diriku.



Riani yang tidak bereaksi apa-apa. Tapi aku yakin kalau dia memperhatikan semua yang kulakukan. Dalam hati dia pasti menyadari kalau saat ini aku pasti sedang marah dan sangat kesal.



"Maafkan aku," bisiknya dengan suara pelan dan nyaris tak terdengar.



Aku masih diam. Tak ingin menanggapi ucapannya. Kekesalanku masih berada di level teratas.




Aku masih fokus menatap ke arah jalan raya yang cukup ramai karena kini mobilku sedang memasuki kawasan pusat kota Pematangsiantar.



"Kalau saja diriku tidak menderita penyakit terkutuk itu, tentu saat ini aku akan berpikir kalau diriku sedang mengandung. Dan segala perubahan sikapku ini merupakan pengaruh hormon ibu hamil yang kurang stabil."



Aku meliriknya sebentar. Menelan ludah dengan susah payah memikirkan ke arah mana ucapan Riani.



"Tapi semuanya hanya tinggal khayalan, Ryan. Aku tidak akan pernah bisa mengandung." Riani meletakkan tangannya di atas perutnya dan mengelusnya dengan pelan.



Dia terlihat seperti Ingin menangis, tapi dia hanya  menahan semuanya dalam diam.

__ADS_1



Pergerakannya tak luput dari perhatianku yang memang tidak sepenuhnya fokus pada jalanan. Sesekali mataku melirik wanita yang duduk di sisiku ini.



Saat aku melihat tangan Riani yang mengelus perutnya, timbul perasaan bersalah pada isteriku itu. Aku sangat menyesal telah bersikap seperti tadi padanya.



Kutepikan mobil lalu menghentikan laju kendaraan beroda empat itu.



Riani yang menyadari kalau mobil telah berhenti segera menoleh dan bertanya, "kenapa berhenti?"



Aku tidak menjawab. Yang kulakukan hanya menatap Riani dengan sorot mata meminta maaf. Sedetik kemudian aku mengulurkan tangan dan merangkulnya. "I'm so sorry, Honey. Aku tidak bermaksud bersikap menyebalkan seperti tadi."



Kulihat mata Riani meredup. Dia pasti sedikit terkejut dengan perlakuanku yang tiba-tiba itu. Namun tak urung senyumnya mengembang. Tangannya membalas pelukanku dan mendekap tubuhku dengan erat.



Terasa ada yang memberontak. Kuraih wajahnya dan mendekatkan pada wajahku.



Baru saja bibirku hampir menyentuh bibirnya, dia langsung menarik wajah dan mendorongku menjauh.



"Ayo, cepat jalan. Jangan berpikir untuk mencumbuku di sini. Kau ingin kita ditangkap dan dikira pasangan mesum??"



••••••



Lanjut??



__ADS_1


__ADS_2