
teguh yang sangat antusias mendengar asumsi bu Lastri kemungkinan Alika sedang hamil pun segera mengajak istrinya itu ke sebuah klinik kandungan.suasana di klinik malam itu sedikit ramai bahkan mereka mendapatkan nomor antrian 20, itupun nomor antrian terakhir di malam itu.
teguh yang merasakan tubuhnya tak sehat pun menyandarkan kepalanya di pundak Alika, membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum geli
"kak.... kita pulang saja ya,aku tak tega melihat kakak seperti ini" lirih Alika lalu menoleh ke arah teguh yang bersandar di pundaknya
"kak... mungkin ibu salah,aku tidak hamil....dulu saat aku hamil tubuh ku tak se sehat ini, ayo kita pulang saja" ucap lagi Alika, dia merasa tidak sedang hamil karena dia tidak merasakan gejala apapun.digoyangkan tubuh teguh hingga teguh pun menegakkan kembali tubuhnya
"kenapa kamu tidak suka hamil anakku?" manik mata teguh menatap tajam istrinya itu
"hah... bukan, cuma.... cuma....." Alika pun mulai gelisah
"cuma apa....kamu memang tidak ingin hamil anakku" ucapnya gusar, teguh langsung berdiri dan setelahnya ia pun berjalan kearah keluar klinik itu.
Alika yang melihat tingkah teguh pun sampai geleng-geleng kepala,ya memang beberapa hari terakhir suaminya itu sangat sensitif.sepatah kata saja dia salah berucap pasti teguh akan ngambek, sungguh Alika sampai binggung harus bersikap.
disusul nya lelaki yang tengah bersendekap di depan mobilnya yang berwarna hitam itu, lalu di dekati raga itu.
"kak.... jangan ngambek gitu, kenapa sih jadi ambekan gini.... ayo kita masuk yuk" dirangkum oleh nya wajah teguh yang cemberut itu dengan kedua telapak tangannya, teguh bergeming tapi sesaat kemudian senyum manis terlukis di wajahnya
"gak mau....aku lagi pengen makan telur gulung nih, ayo kita cari..." ucap teguh langsung menarik tangan Alika dan setelahnya membuka pintu mobil disisi kiri agar istrinya itu masuk ke dalam mobil
tak ingin membuat teguh ngambek lagi, Alika pun ikut kemanapun suaminya itu pergi.
sikap manja teguh membuat hati Alika sangat bahagia,ia merasa sangat dibutuhkan hadirnya oleh sahabat yang kini menjadi suaminya itu.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
disebuah rumah kontrakan seorang ibu tengah dilanda kebingungan, pasalnya sang putri yang kini berusia tiga tahun dilanda demam tinggi. Thalia sang putri demam tinggi dan selalu memanggil nama ayahnya, Galang. Dila dilema antara egonya dan kesehatan putrinya,mana yang harus didahulukan.
"Dil, sebaiknya kamu hubungi suamimu.... kasihan Thalia" bu rini pun berujar kepada Dila, lalu dia pun duduk di samping Thalia dan memijat kaki mungil cucunya itu
"tapi bu.... pasti sekarang mas Galang sedang berbahagia dengan mbak Alika" Dila pun mulai berasumsi sendiri tanpa tau kenyataan yang sebenarnya
__ADS_1
"tapi Thalia butuh Galang, siapa tau kalau ternyata si Alika itu sudah menikah dengan calon suaminya, bukan dengan Galang" bu rini pun mengungkapkan pendapatnya
"hah.... itu tidak mungkin bu, aku lihat sendiri bagaimana ekspresi mas Galang waktu itu..."
"sudahlah dil, kalaupun memang benar mereka mau kembali ya biarlah toh kamu juga tau bagaimana rasanya hidup seatap bertiga, dan seingat ibu kamu juga bilang kan kalau dulu si Alika itu orangnya baik" ketus bu rini
"a-ya-h...... a-ya-h....." tak lama setelahnya tubuh Thalia kejang
Dila pun dengan segera membawa Thalia ke rumah sakit terdekat ditemani pak adji.
suasana hati dila benar benar kacau, didepan matanya sendiri ia melihat putrinya tak berdaya.
"Dil.... kesampingkan ego mu, cepat hubungi suamimu.... anakmu butuh ayahnya!!" lugas pak adji. kini mereka berdua tengah menunggu Thalia di ruang rawat inap, keadaan Thalia sudah jauh lebih baik. ada selang infus yang terpasang di punggung tangan kanannya tapi matanya masih enggan terbuka hanya suara lirih yang terdengar dari mulut mungilnya
"yah.... a-ya-h... a-ya-h" lirih sekali gadis kecil itu memanggil ayahnya
sebagai seorang ibu tentu hati dila seperti tersayat pisau melihat putrinya yang sakit terus menerus memanggil ayahnya, akhirnya Dila menyerah. diambilnya sebuah card yang disimpannya di dalam dompet kecilnya lalu dipasangkan di handphone miliknya.saat handphone itu menyala rentetan pesan singkat tampil di layar ponsel itu.
satu persatu dibaca oleh Dila pesan-pesan itu, hampir semua pesan dari Galang yang ingin tau dimana mereka bertiga berada.
π±π§- Dil kamu dimana, bagaimana keadaan mu dan anak anak? ( cecar Galang diujung sana).
π±π- aku baik,
π±π§- kalian ada dimana, kenapa kamu pergi meninggalkan rumah... aku bisa jelasin semuanya.
π±π- mas.... aku menunggu kedatangan mu sekarang, aku akan share lokasinya....aku tunggu kedatangan mu (ucap Dila dan langsung menghentikan percakapan nya dengan Galang)
Galang pun bergegas menemui istrinya itu ditemani oleh bu ratna.butuh waktu hampir dua jam untuk Galang bisa sampai di tempat yang dikirim oleh Dila lewat smartphone nya.
"yakin kamu gak salah tempat Lang" tanya bu Ratna memastikan, pasalnya kini mereka berhenti di depan rumah sakit yang tak begitu besar di kota itu
"tapi alamat yang di kirim Dila itu benar di sini ma, tunggu biar ku hubungi Dila ma" Galang pun segera meraih ponselnya untuk menanyakan tentang alamat yang kirim oleh Dila via aplikasi berwarna hijau itu
__ADS_1
"Lang, itu bukannya orangtuanya Dila," tunjuk bu ratna kepada lelaki yang berjalan membawa sekantong kresek hitam di tangan kanannya
"iya ma, itu pak adji" bu ratna pun segera turun dari mobil dan memanggil lelaki paruh baya yang dilihatnya tadi
"pak.... pak... tunggu" teriak bu ratna membuat lelaki itu menoleh kearahnya
"ibu.... ibunya Galang ya" pak adji mencoba mengingat ingat siapa wanita yang kini berada di depannya
"iya... siapa yang sakit pak? apa Dila?" terka bu Ratna. pak adji tak menjawab tanya itu karena sepengetahuannya wanita yang berdiri di hadapannya itu tak menyukai kehadiran putrinya
Galang yang baru saja memarkirkan mobilnya pun mendekati kedua raga yang tengah terdiam itu
"pak" diciumnya punggung tangan kanan mertuanya itu lalu setelahnya ia kembali berujar "pak, siapa yang sakit... kenapa Dila memberikan alamat ini ke saya" Galang pun sama seperti ibunya yang penasaran dengan siapa sosok yang tengah dirawat disini
"kita masuk kedalam, nanti kamu akan tahu" Galang dan bu Ratna pun mengikuti langkah pak adji hingga ketiganya kini berada di depan pintu kamar inap bertuliskan VIP 2
bu ratna yang penasaran pun membuka pintu itu, tampak disana cucunya yang begitu disayanginya tengah berbaring dengan selang infus terpasang di tangan kanannya
"Thalia...." teriak bu Ratna dan Galang bersamaan
"Thalia sayang kamu kenapa? cucu Oma kenapa nak" bu ratna pun mengusap rambut ikal cucunya itu
"sayang nya Ayah...kamu kenapa cantik" thalia yang mendengar suara Galang pun mulai membuka matanya perlahan
"a-ya-h.... a-ya-h....."
"ya cantik ini ayah, cantiknya ayah kenapa hem" diciumnya kening putri cantiknya itu
"dasar kamu tidak becus mengurus anak, lihat apa yang terjadi dengan cucuku" teriak bu Ratna tepat di hadapan Dila
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
# maaf ya guys dirumah lagi ngerawat bayi besar jadi gak telat up
__ADS_1
# thanks untuk like and coment nya ya
#jangan lupa sematkan like and coment ya guys ππππ