
[Hati-hati, jaga dirimu baik baik. Jangan pernah memakan makanan apapun yang diberikan oleh orang yang tidak kamu, kenal. Hati hati, karena bayi di kandungan mu sedang dalam bahaya.]
Lagi lagi, Muthia menerima pesan singkat dari nomor yang tak di kenal di ponselnya.
Awalnya Muthia abai dan biasa saja, pikirnya mungkin itu kerjaan orang iseng, tapi nomor itu terus saja mengirim pesan peringatan, agar dirinya berhati hati, karena ada yang ingin berniat jahat dengan kandungannya.
Muthia melamun, menimbang apakah harus memberitahu Aswin tentang pesan yang sering ia terima dengan nomor yang sama dan dengan tujuan yang sama, yaitu memintanya untuk berhati hati dan waspada.
Muthia memutuskan untuk menghubungi nomer tersebut, tapi seperti yang sudah sudah, selalu tidak aktif setiap kali selesai mengirim pesan.
"Alloh, jika benar apa yang disampaikan dalam pesan ini, tolong jaga dan lindungi kami, jauhkanlah kami dari niat jahat orang yang ingin menyakiti kami, aku pasrahkan segalanya padaMU ya Alloh." Muthia berdoa memohon perlindungan pada yang Maha kuasa di dalam hatinya, dan wajahnya tergambar jelas kegelisahan dan kecemasan.
Amir yang sudah sadar dari lamunannya tentang hanyalah hatinya, menatap heran pada Muthia uang terlihat tegang.
"Thia, kamu kenapa? sakit?" suara Amir mengagetkan Muthia yang sedang tidak fokus, karena pikirannya sedang tidak baik baik saja, memikirkan pesan pesan misterius dari seseorang yang ia tidak tau siapa pengirimnya.
Sebelum menjawab, Muthia menarik nafasnya panjang, Muthia membuang pandangannya ke arah pintu keluar, terlihat anak anak asuhnya sedang berlarian di halaman setelah selesai belajar dan sedang beristirahat, pun juga nampak Yusuf yang ikut bermain berkumpul dengan anak anak yang lain, Yusuf terlihat begitu senang dan terus tertawa begitu lucunya, yang diikuti mbok Narti di belakangnya.
__ADS_1
"Aku gak tau, tiba tiba merasa cemas saja. Perasaanku gak enak setelah membaca pesan yang dikirim oleh seseorang yang aku tidak tau itu siapa, tapi itu tidak hanya sekali dua kali, seringkali nomor itu memberi peringatan agar aku berhati hati, karena ada yang berniat jahat padaku dan calon bayiku.
Awalnya aku biasa saja, karena aku menganggapnya, itu cuma orang yang iseng. Tapi lama lama aku jadi kepikiran juga." Muthia mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini, karena memang hatinya benar benar tidak tenang dengan pesan pesan yang dia terima selama ini.
"Kamu sudah mencoba telpon ke nomor tersebut, atau membalas pesannya untuk sekedar bertanya siapa dia?"
Amir menanggapi dengan serius dan ikut cemas memikirkan keselamatannya Muthia, apa lagi sekarang sedang mengandung.
"Sudah! Tapi selalu tidak aktif setiap kali aku menghubunginya, dan pesanku hanya di baca saja. Aku gak tau apa maksudnya orang tersebut, tapi aku merasa dia ingin menyampaikan apa yang dia tau dengan sembunyi sembunyi, mungkin karena takut ketahuan dan berakibat fatal padanya. Aku berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang dia kirim, semuanya sama, memintaku untuk berhati hati dan jangan menerima makanan apapun dari orang lain, karena akan bahaya untuk bayi yang ada dalam perutku." Muthia menjelaskan semuanya pada Amir yang masih terus menyimak dengan wajah tegang,
"Boleh, aku minta nomor orang itu, biar aku lacak. Siapa tau kira bisa tau siapa orang tersebut dengan mengetahui lokasi tempatnya saat ini." Sahut Amir serius, dan ingin cepat bertindak agar masalahnya tidak berlarut dan bisa berakibat fatal untuk keselamatan Muthia juga kandungannya.
"Kamu sudah cerita ke suami kamu tentang masalah ini?" sambung Amir menatap lekat ke arah Muthia yang masih terlihat tegang.
"Belum, aku takut membuatnya kepikiran dan menganggu pekerjaannya, apa lagi sekarang dia lagi sibuk sibuknya dengan proyek barunya yang dari pemerintahan." balas Muthia gamang dan langsung teringat senyum lelah suaminya, rasanya tidak tega menambah beban pikiran laki laki yang begitu dia sayangi.
"Sebaiknya, kamu bilang sama suami kamu, ini masalah serius, jangan sampai dia merasa tidak dianggap karena kamu tidak mau bilang, sesibuk apapun Aswin, aku yakin kamu akan jadi prioritasnya, apa lagi jika menyangkut keselamatan kamu dan anaknya. Bicarakan semua dengan suami kamu, sebelum terlambat dan semoga tidak sampai terjadi sesuatu. Itu saran ku, karena aku juga laki laki, aku akan merasa tidak dihargai dan terluka saat orang terdekat memilih menyimpan dan diam tanpa mau bercerita, apa lagi ini masalah yang serius menurutku." Amir mengatakan apa yang ada dalam pikirannya panjang lebar dengan sorot tegas, karena menurutnya, Aswin harus tau sebelum semua terlambat.
__ADS_1
Muthia terdiam, memikirkan apa yang di katakan Amir, memang ini masalah serius dan Aswin harus segera di kasih tau, setidaknya Muthia tidak menyimpan semua sendiri, dan kalau memang benar apa yang dikatakan sama si pengirim pesan, itu artinya keselamatannya sedang terancam.
Muthia tidak mau terjadi sesuatu dengan calon bayinya.
"Aku akan kasih tau suamiku, habis ini aku akan menelpon dia, bicara tentang pesan pesan yang selama ini aku terima. Mungkin itu lebih baik dan aku juga akan sedikit tenang." sahut Muthia pada akhirnya, dan membuat Amir tersenyum lega, karena Muthia sudah mengambil keputusan yang tepat.
"Asalamualaikum." tiba tiba ada salah satu karyawan perempuan masuk dan membawa bungkusan yang diserahkan pada Muthia.
"Maaf, Bu. Ini tadi ada kurir yang mengirimkan ini buat disampaikan pada Bu Muthia." Wulan, menyerahkan kotak yang di dalam plastik pada Muthia dengan sopan. Dan seketika Amir dan Muthia langsung saling berpandangan, pikiran mereka mengacu pada isi pesan yang barusan di terima Muthia.
"Lan, kamu tau siapa nama yang mengirimkan ini?" Muthia bertanya pada Wulan dengan penuh selidik, barangkali kurirnya memberitahu nama pengirimnya.
"Tidak Bu, kurirnya tidak bilang apa apa. Cuma bilang ada kiriman paket buat Bu Muthia. Barangkali di dalam ada alamat si pengirimnya." balas Wulan tak enak, karena tadi memang tidak menanyakan nama pengirim nya sama kurir yang mengantar, di terima begitu saja.
Dengan cekatan Muthia langsung membuka bungkusan plastik yang berisi dua kotak makanan, dan tidak ada apa pun di dalamnya. Hanya ada kertas kecil yang tulisannya, "Selamat menikmati makanan dari saya, Muthia." hanya itu saja, tanpa ditulis nama pengirim dan alamatnya. Mencurigakan.
"Lan, lain kali kalau ada yang mengirimkan paket kayak gini, apa lagi yang dikirim makanan, tolong tanya siapa nama pengirim dan alamatnya, kalau kurirnya tidak bisa menyebutkan tolak saja ya, suruh bawa kembali. Dan tolong sampaikan pesan ini sama semuanya, terutama sama satpam yang berjaga di depan. Terimakasih, kamu boleh kembali." Muthia bicara dengan tegas dan kembali menghembuskan nafasnya dalam, hatinya nya sudah deg degan, karena pesan yang ia terima juga sudah memintanya untuk tidak menerima apapun makanan dari orang yang tidak di kenalnya.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Mas?" Muthia menatap Amir gemetar, dia benar benar takut dan cemas.