
"ada apa sebenarnya ini mal....." Alika mendekati raga Mala yang masih sibuk dengan Anaya di pangkuannya
Mala tetap tak berpaling menatap Anaya tapi ia pun menjawab tanya Alika sahabatnya itu
"Dewi ada hubungan dengan Galang Wi.... dan hubungan itu kami yakin ada sangkut pautnya dengan kamu, juga harusnya kamu tidak datang kesini saat ini Wi.... disini gak aman!!!" lugas Mala. Ada kekhawatiran yang dirasakannya mengingat Galang sedang berulah belakangan ini bahkan Mala pun belum mengatakan pada Alika atas kejadian yang menimpanya dengan Dani malam itu
"maksud mu gak aman gimana mal...." Alika duduk di samping Mala, ia ingin lebih jelas mendengar cerita dari Mala tentang Galang dan Dewi
"Galang sedang berulah Wi..... dia ingin segera bertemu dengan mu.... dia....."
Belum selesai Mala bercerita handphone milik Alika berdering.... Alika mengambil handphone miliknya itu lalu setelahnya ia pun mulai berbicara dengan seseorang di seberang sana
"ya Gi...."
"mbak bisa kesini sekarang, kak Galang barusan sudah pergi dia mau ke kantor.... nanti kalau mbak sudah sampai lobby rumah sakit mbak telpon aku ya, biar aku ajak mama pergi dari kamar papa " ucap Giany beruntun, Alika pun mendengarnya dengan seksama
"oke Gi.... terimakasih,aku otw sekarang " jawab Alika, tak lama telepon pun terputus
Mala menatap heran sahabatnya itu, apakah ia tak salah dengar jika Alika menyebut nama Gi saat berbicara dengan seseorang di telepon tadi karena setahunya nama panggilan Gi itu adalah Giany, adiknya Galang
"apa aku tidak salah dengar Wi, barusan kamu sebut nama Gi.... bukankah itu nama adiknya Galang" alika mengangguk setelahnya ia pun segera berdiri dan mengambil tasnya yang berada di atas meja kerja Mala
"nanti kamu minta jelasin mbok sum aja....aku mau jenguk papa dulu mal, beliau sedang di rawat di rumah sakit..."
"tunggu Wi.... jangan pergi ke sana, di sana kamu bisa saja bertemu dengan Galang dan kita gak akan tau apa yang akan dia lakukan sama kamu nanti" cegah Mala, ia pun segera berdiri guna menahan langkah Alika. Tapi Alika berkeras untuk pergi hingga Mala pun tak sanggup menahannya
Alika pergi seorang diri ke rumah sakit, sedangkan Anaya sengaja ia tinggal bersama mbok sum juga Mala karena dia tau jika mala pasti sangat merindukan Anaya
Saat Alika meninggalkan restoran milik Mala, segera Mala menghubungi Dani yang kini sedang berada di restoran milik Alika
******
Dani yang sedang duduk bersandar usai menginterogasi Dewi pun segera mengambil handphone miliknya yang tengah berdering, nama istrinya muncul di layar ponsel miliknya itu
__ADS_1
"ya sayang ada apa?" tanya Dani santai
"mas Alika..... Alika mas dia datang ke sini," terdengar suara mala seperti orang yang sedang panik disana
"tunggu.... tunggu, tunggu maksudnya Alika datang ke kota ini begitu....." tanya Dani
"iya mas...."
"oke tahan dia, jangan biarkan dia pergi dari restoran, buat dia di sana dulu..."
"terlambat mas, Alika sekarang sedang ke rumah sakit menjenguk om Hendra "
"apa maksudnya sayang.... kenapa bisa Alika ke rumah sakit menjenguk pak Hendra"
"kamu kesini dulu mas, aku jelasin di sini....aku tunggu" mala mengakhiri panggilan secara sepihak membuat Dani bergegas pergi menemuinya
Sedangkan di balik pintu tadi tak sengaja Dewi yang ingin mengambil handphone miliknya yang tertinggal di dalam ruangan pun mendengarkan ucapan Dani. Usai dani keluar dari ruangan itu ,dengan menyelinap Dewi pun segera mengambil handphone-nya lalu kemudian ia menghubungi Galang.....ia ingin membuat kesepakatan dengan Galang
Tak menunggu lama Galang pun segera mengangkat telponnya "ada apa kamu menghubungi ku Dewi...." tanya Galang
"katakan informasi apa yang akan kamu berikan padaku?"
"tentang mbak Alika"
Galang terhenyak, ia tau dari nada bicara Dewi jika dia tidak sedang berbohong
"transfer aku seratus juta dan akan aku katakan di mana dia sekarang"
"jangan mencoba membohongi ku dew.... atau kamu akan tau balasannya"
"aku tidak sedang berbohong pak...." tegas Dewi
"oke aku akan mentransfer seratus juta untuk kamu tapi katakan dimana Alika sekarang berada"
__ADS_1
"transfer dulu dan setelahnya pak Galang akan dapat jawabannya" Dewi memutus panggilan secara sepihak lalu mengirim no rekeningnya pada galang tak lama sebuah notifikasi masuk jika Galang sudah mentransfer nya sejumlah seratus juta
"sebuah pesan suara dikirim oleh Dewi pada galang
"mbak Alika sedang berada di rumah sakit tempat pak Hendra di rawat "
Galang yang hampir sampai di kantor pun segera putar arah, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.... karena ia belum terlalu jauh dari rumah sakit jadi tak butuh waktu lama untuk sampai di sana
*****
Alika segera menghubungi nomor Giany saat dia sudah sampai di lobby rumah sakit, ia tak ingin bu Ratna melihatnya karena dia tidak tau apakah bu Ratna nantinya akan berpihak padanya atau tidak
Alika menunggu di bawah, di kursi yang berderet rapi bersama para pengunjung rumah sakit yang lainnya,tak berapa lama Giany datang menghampirinya
"mbak....." giany memanggil Alika dari kejauhan lalu setelahnya Giany pun membawa Alika untuk menemui papanya
"Gi....mama ada di mana?" tanya Alika saat keduanya tengah berjalan menuju ruang rawat pak Hendra
"mama ku suruh pulang mbak..... kasian mungkin dia lelah" jawab giany
"maaf ya Gi aku belum siap ketemu mama...."
"ya mbak aku ngerti kok.... takutnya mama masih berharap sama kamu mbak" obrolan mereka berhenti saat mereka sudah sampai di depan kamar rawat pak Hendra
"mbak aku tinggal dulu ya....aku mau cari makan" pamit giany
"ya ampun mbak sampai lupa bawain kamu makan Gi....maaf ya!"
"gak papa mbak....oh ya mbak Alika jangan lama-lama ya nengokin papa takutnya nanti ada yang kesini dan gak usah nungguin aku balik, mbak nanti minta suster aja untuk jagain papa" pesannya kemudian Giany pun berlalu meninggalkan Alika yang masih berdiri di muka pintu
"maafin aku ya pa.... baru bisa jenguk papa " ucap Alika pada pak Hendra saat dirinya sudah berada di samping pak Hendra
Pak Hendra yang tengah tertidur pun langsung terbangun saat mendengar suara yang tak asing di telinganya
__ADS_1
"Al.... kamu datang nak" suara pak Hendra terdengar parau, tangan kanannya yang terpasang selang infus pun ia gerakkan untuk mengusap lembut rambut Alika.
Wajah lelaki paruh baya itu terlihat senang karena bisa melihat mantan menantunya itu, ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan alika setelah sebelumnya dia bilang ingin pergi jauh agar anaknya tak lagi mengganggunya