Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 33 kecurigaan Amir pada Sandra


__ADS_3

"Bagaimana ini, Mas?"


Muthia menatap Amir gemetar, dia benar benar takut dan cemas.


"Sudah, gak papa. Tidak perlu cemas. Coba biar aku buka apa isinya."


Amir berusaha bersikap tenang, agar Muthia tidak semakin ketakutan.


Kotak makanan yang dibungkus plastik, di ambil Amir, dan dibuka untuk mengetahui isinya.


Sayur SOP ikan dan kotak satunya berisi rendang daging sapi. Dari baunya sudah menggugah selera. Pun tampilannya juga sangat menggoda, ingin sekali langsung menyantapnya.


"Siapa kira kira yang mengirimkan makanan ini, sepertinya dia sudah sangat mengenalmu, dan tau kegiatanmu, buktinya saat kamu ada di sini, orang itu mengirimkan makanan yang ditujukan untukmu, padahal kamu tidak setiap hari datang ke kantor ini. Memang ada yang janggal sih, tapi tidak tau itu apa?" Amir berpikir keras, mencoba menggabungkan serentetan pesan dan peristiwa. Amir curiga jika yang memiliki niat tidak baik pasti orang terdekat Muthia sendiri,. Buktinya orang itu sangat hafal jadwal Muthia. Namun Amir memilih diam dan akan menyelidikinya sendiri dengan caranya, demi melindungi Muthia dari niat jahat seseorang.


"Makanan ini, akan aku bawa sebagian saja, untuk di cek di laboratorium, aku penasaran, apakah ada sesuatu yang di campur di makanan ini, agar kita bisa menyimpulkan tanpa berburuk sangka dengan bukti yang belum pasti." Amir kembali mengutarakan niatnya.


"Lalu, makanan ini, mau di apakan?" balas Muthia penasaran.


"Buang! lebih baik dibuang saja, ya takutnya nanti kalau dimakan yang lain juga bisa berbahaya, untuk menghindari agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan lebih baik makanan ini di buang saja, aku akan mengambilnya sedikit buat di bawa ke lab, untuk di tes."


Amir sangat tegas dan langsung bisa cepat bertindak, baginya keselamatan Muthia yang paling utama.

__ADS_1


"Kalau begitu, biar aku buang sekarang di belakang." sahut Muthia yang akan mengambil kotak makanan dan berniat untuk membuangnya di halaman belakang yayasan.


"Tidak usah, kamu duduk saja di sini, lebih baik telpon suamimu, dan bicarakan sama dia. Biar aku yang membuang makanan ini, Oke?" sahut Amir cepat dan segera berlalu ke belakang dengan membawa dua kotak yang berisi makanan dari orang yang tidak di kenal.


Amir terpaku menatap makanan yang sudah menyatu dengan sampah di dalam tong sampah.


Pikirannya benar benar sedang kacau, mencemaskan Muthia dan mencoba mencari siapa yang pantas untuk di curigai. Amir terus berpikir hingga kepalanya pusing, yang muncul dalam prasangka nya adalah Sandra.


Nama Sandra terus memenuhi otaknya, entah kenapa Amir fokus pada satu nama itu untuk ia jadikan tersangka, karena tatapan perempuan itu, meskipun dibalut dengan senyum dan sikap ramah, sangat jelas terlihat kalau dia sedang menyimpan sesuatu di dalam hatinya.


Amir bertemu Sandra saat peresmian pembukaan yayasan, Sandra datang dengan Aswin dan berada di kursi roda yang di dorong seorang wanita yang mungkin susternya. Amir sempat berkenalan, tapi tidak begitu perduli. Meskipun begitu, Amir bisa merasakan sorot mata yang menyimpan kilatan kebencian dan dendam terlihat di kedua bola mata milik Sandra.


Nanti malam aku akan lihat keberadaan seseorang yang sering mengirim pesan ke Muthia melalui nomor ponselnya, itu hal gampang bagiku.


Jika benar Sandra yang melakukan semua ini, aku tidak akan tinggal diam, siapapun yang mencoba mencelakakan Muthia, dia akan berurusan dengan Amir." Amir terus berkelana dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya dia sadar kalau ada seseorang yang sedari tadi menegurnya.


"Pak Amir, sedang ngapain disini?" Sapa pak Dayat, salah satu satpam yang bekerja di yayasan.


Pak Dayat habis dari kamar mandi, dan melihat Amir sedang melamun di depan tong sampah dengan pandangan lurus ke depan. Pak Dayat memanggil manggil Amir hingga berulangkali tapi tidak diresponnya sama sekali, sampai akhirnya, pak Dayat memberanikan diri menepuk pundak orang yang memiliki pengaruh besar di yayasan ini. Dan dalam hitungan detik, Amir langsung tersadar dari lamunannya.


"Ini lagi memikirkan sesuatu, pak.

__ADS_1


Oh iya, saya ingin tanyakan sesuatu sama pak Dayat, apa bapak sedang sibuk sekarang?


kalau tidak, mari kita bicara sebentar, di depan ada yang jaga kan?"


"Baik pak, ada kok, Joko ada di pos depan." Sahut pak Dayat sopan dan mengikuti langkah Amir menuju kursi kayu yang ada di bawah pohon mangga dan memilih duduk di sana.


"Ada apa ya pak? apa saya melakukan kesalahan?" Pak Dayat sudah takut duluan, beliau berpikir apa karena tadi sudah mengagetkan pak Amir, dan sekarang pak Amir tersinggung dan marah, lalu memintanya berhenti bekerja. Pikiran buruk sudah memenuhi otak pak Dayat, sehingga terlihat gelisah dan gemetar.


"Pak Dayat kenapa, kok gemetar begitu, pak Dayat sedang sakit?" Amir menatap pak Dayat penuh selidik.


"Gak papa pak, cuma takut saja, tadi saya sudah membuat pak Amir kaget, terus saya di ajak kesini dan disuruh berhenti bekerja. Tolong pak, maafkan saya, saya tadi..."


Amir tertawa melihat tingkah pak Dayat yang sudah salah paham, dan pak Dayat semakin terlihat bingung.


"Bukan pak, bukan itu. Santai saja, ini justru ada masalah yang lebih serius, dan saya harus membicarakan sama bapak selaku yang bertugas menjaga keamanan di sini." sambung Amir yang kembali memasang wajah serius, dan pak Dayat mulai tenang dan mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan Amir dengan wajah tegang.


"Begini pak, apa akhir akhir ini bapak pernah melihat ada seseorang yang mencurigakan ada di sekitar sini, seperti ada yang mengawasi gitu?"


Amir langsung pada pokok masalahnya, tidak ingin basa basi. Agar semua bisa cepat teratasi.


"Em, kalau mencurigakan sih ada, tapi itu beberapa hari yang lalu, ada perempuan yang sering berdiri tak jauh dari yayasan dan seperti memperhatikan kegiatan di sini, dan saat saya mau menegur, dia selalu kabur dengan menaiki motornya, terus kemarin juga ada yang menanyakan Bu Muthia, jadwal beliau apa saja dan datang setiap hari apa. Tapi saya tidak menjawab, karena orang itu tidak bisa memberi alasan yang tepat kenapa dia menanyakan jadwal Bu Muthia, terus pergi begitu saja." Pak Dayat mencoba mengingat ingat apa aja yang membuat diri nya merasa janggal akhir akhir ini dan menyampaikan semuanya pada Amir tanpa ada yang di tutupi sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2