Wanita Kedua

Wanita Kedua
Rasa Bibir


__ADS_3

Aku mendongak saat mendengar pintu besar ruanganku terbuka. Hanya Riani yang berani membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya.



Bibirku tersenyum menyambut kekasih hatiku. Namun sedetik kemudian aku harus tertegun, saat netraku mendapati sosok yang ingin kuhindari.



Ana melangkah dengan pelan sambil menatapku dengan sendu. Tanpa senyum menggoda seperti biasanya.



"Mau apa lagi kau kemari?" tanyaku dengan gelisah.



Ana hanya diam. Biasanya dia akan langsung duduk dan berceloteh. Entah kenapa hari ini dia terlihat murung.



"Ada masalah?" tanyaku lagi saat melihatnya yang masih saja membisu.



Kuperhatikan wajahnya, seluruh tubuhnya.



Ada yang berubah. Hari ini dia terlihat kurang bercahaya seperti kemarin. Namun tidak mengurangi kecantikannya. Hanya saja wajahnya sangat mendung.



"Mau sampai kapan kau berdiam diri di sini?"



Dia menjengkit kaget. Mungkin suaraku terlalu kuat atau memang dia yang sedang melamun.



Sesaat kulihat mata kucing itu berkaca-kaca. Segera kuhampiri dia dan mendongakkan wajahnya.



"Sebenarnya apa tujuanmu kemari? Aku bertanya kepadamu dan mulutmu hanya mengatup."



Kutatap dia. Mata itu, kembali menghipnotisku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, aku tidak tahu.



Yang kurasakan hanyalah Tiba-tiba saja tangannya sudah melingkari tubuhku.



Refleks aku memegang bahunya, berniat mendorong tubuhnya menjauh. Namun, demi isak tangis yang kudengar dari bibirnya, aku mengurungkan niat tadi.



Tanganku meluruh ke samping. Bingung. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Sementara isakan Ana semakin menjadi-jadi.



Akhirnya kubalas pelukannya sambil menepuk lembut punggung mungil ini.



Baru kusadari kalau tubuhnya sangat kecil. Hanya saja tingginya berada di atas rata-rata. Membuatnya menjadi langsing, ramping, mungil dan entah apalagi yang perlu kusebutkan tentangnya.



Isakannya sedikit mereda.



"Bisa kau ceritakan apa yang menjadi masalahmu?" Kucoba untuk bertanya kembali.



Dia menarik tubuhnya sambil mengusap wajah dengan kasar. Tingkahnya terlihat seperti anak-anak yang baru saja dimarahi orangtuanya.



Dia menggeleng pelan. "Bukan masalah besar."



Aku mendengus dan melepaskan tubuh langsing itu dengan sedikit mendorongnya.



"Kalau bukan masalah besar, kenapa kau sampai menangis?"



"Aku hanya membutuhkan tempat bersandar saat ini." Dia menunduk sambil memainkan ujung rambut nya yang ikal drngan gerakan manis.



"Dan kau berpikir kalau aku bisa menjadi sandaranmu saat ini?" Aku bersedekap dan mencoba mencari niat lain di mata wanita seksi ini.



Entah kenapa aku merasa sangat heran dengan ucapannya. Apa dia tidak memiliki keluarga? Kenapa harus aku yang dia datangi?



Kebisuan melanda kami hingga satu detik dimana suara perut yang menjerit membuatku tersenyum.



"Sepertinya kau lapar."



Ana hanya tertunduk malu dengan senyum yang belum sempurna.



"Kalau begitu, ayo makan siang. Apa kau keberatan?"

__ADS_1



Tiba-tiba saja kepalanya mendongak dan menggeleng cepat.



Aku terkekeh. Dengan gerakan tangan kupersilakan dia keluar terlebih dahulu.



........



Aku menatap wanita cantik yang sedang menikmati makanannya dengan lahap. Sesekali memperhatikan setiap gerak bibir Ana yang menggoda itu.



Keheningan yang tercipta membuatku kembali merasa gelisah saat mengingat diriku yang terbayang akan wanita cantik itu.



Dia sudah mulai menguasai pikiranku. Bahkan saat bercibta dengan istriku, wajahnya mencoba menguasaiku. Ingin rasanya menghindari Ana seperti menghindari virus mematikan.



Tapi pengaruh dan daya tarik Ana begitu kuat. Wajah polosnya begitu sayang untuk diabaikan. Rasa bersalah juga menggerogoti sisi lain dalam diriku. Aku merasa malu karena aku mengakui kalau aku telah memperhatikan wanita lain selain Riani.



Dengan mata yang masih menatap lekat ke arah Ana, aku tersenyum simpul melihat sikap dan tingkah polah wanita itu.



Dua kali aku makan siang bersamanya di restoran yang mendekorasi ruangannya dengan tempat duduk lesehan, dua kali juga aku melihat dia memesan sop ayam. Sepertinya dia menyukai makanan berkuah.



Ana sepertinya tidak menyadari kalau dirinya sedang kuamati. Dia hanya menikmati makanannya dengan santai dan terkesan seperti anak-anak. Bahkan pipi mulusnya sedikit kotor terkena kuah makanan yang sedang disantapnya. Pipinya menggembung seperti hamster yang sedang makan.



Aku terkekeh sendiri membayangkan wajahnya yang seperti hamster.



Mendengar kekehanku, Ana segera mendongak dan menatapku dengan heran.



"Kenapa?" Ana menghentikan kegiatan tangan dan mulutnya, berganti dengan menatap lekat ke arahku.



aku hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan Ana. Enggan memberitahu apa yang di dalam pikiranku. Namun kemudian tanganku terulur dengan sebuah tisu dan mengelap pipi wanita itu dengan lembut.



Perlakuanku sontak membuat Ana tertunduk malu. Hatiku menghangat dan bergetar. Tapi otakku merutuki sang hati yang mulai tertarik pada wanita menarik ini.



Seketika wajahnya kulihat menjadi murung dan itu membuatku diliputi rasa heran.




Ana menggeleng pelan dengan kepala masih menunduk.



Aku berdecak kesal. "Tidak mungkin wajahmu berubah menjadi murung seperti ini tanpa ada penyebabnya, Ana." aku sudah melupakan bahasa formal yang biasa kugunakan saat berbicara dengan Ana.



Ana mengangkat kepalanya dengan pelan. "Aku bingung."



"Bingung?"



Ana hanya mengangguk. Aku melengoskan kepala dan menghela nafas dengan pelan.



"Aku tahu kalau kau sedang ada masalah, Ana. Tapi kau bisa saja menceritakan dan berbagi denganku." Aku kembali menatap wajah cantik yang kini tampak sendu itu.



Ana menggeleng kembali. "Aku tidak ingin membebani orang lain. Sebuah hiburan seperti ini sudah cukup membuat aku tenang."



"Tapi aku merasa kalau kau sepertinya membutuhkan tempat untuk bersandar seperti yang kau katakan tadi." Aku menatap tepat di netra coklat menantang itu.



Wanita itu mengangguk kecil. "Sayangnya, orang yang seharusnya menjadi tempat aku bersandar kini entah dimana."



"Siapa? Kekasihmu?"



Kekehan kecil keluar dari bibir sensual Ana. "Ternyata kau juga memiliki sifat ingin tahu yang besar. Kau memiliki jiwa penggosip juga rupanya."



Mau tak mau aku ikut terkekeh mendengar ucapannya. Kugelengkan kepalanya lalu meremas selembar tisu dan melemparkannya tepat di hidung bangir wanita itu.



Mendapat perlakuan seperti itu membuat Ana segera berdiri dan membalas perbuatanku dengan menggelitiki pinggangku.



Sialnya, aku memang seorang pria yang tidak tahan bila mendapat gelitikan di pinggang.

__ADS_1



Kikikan dan suara tertahan segera mendominasi ruang VIP yang kusewa. Aku memang sengaja melakukannya unyuk menghindari kesalahpahaman dari orang-orang yang melihatku bersama Ana.



Tangan Ana masih gencar di bagian pinggangku. "Rasakan ini, Tuan Pratama. Sekarang aku tahu kelemahanmu."



Aku tertawa keras lalu menarik tubuh Ana hingga jatuh ke pangkuanku. Tanganku segera mengurung wanita itu dan menahan tangan Ana yang masih berusaha menggelitiki pinggangku.



Hingga akhirnya Ana kelelahan sendiri dan menyandarkan kepalanya di pundakku.



"Ah, ternyata mengelitiki sama lelahnya seperti digelitiki."



Aku mengangguk membenarkan. "Itu adalah kesalahanmu sendiri. Aku tidak pernah menyuruhmu melakukannya." Kegelisahan kembali merajaiku saat menyadari posisi kami.



"Tutup mulutmu, Tuan Protes."



Aku tertawa, begitu juga dengan Ana. Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan lelah tepat di leher pria yang sedang merasa gelisah karena memangkunya.



Seketika tubuhku menegang merasakan arus panas yang tiba-tiba mengalir di dalam darahku. Kepalaku bergerak menghadap wajah cantik yang masih setia menempel di pundak.



Mataku menatap tepat di telaga coklat milik Ana. Hingga gerakan yang kusadari penuh, kepalaku mendekati wajah Ana dan mempertemukan wajah kami.



Aku memejamkan mata, mencecap rasa manis dari bibir yang sedikit dingin itu. Terasa di dalam mulutku kalau bibir Ana sedikit bergetar.



Ana sepertinya menikmati perlakuanku. Dengan gerakan yang lembut ia membalas pertemuan ini.



Hal itu membuatku terkejut dan segera menarik wajah dan menatap Ana dengan horor.



Ana juga terkejut saat aku menarik wajah di saat dirinya sedang terbuai. Lalu dia beranjak dari pangkuanku dan menunduk dalam sambil menggigit bibirnya.



"Ma-maafkan aku, Ana. Aku sama sekali tidak bermaksud-"



"Tidak apa-apa, Ryan." Anne memotong ucapanku "Kau tidak sepenuhnya bersalah."



Lalu dia bergerak ke tempatnya semula dan mendudukkan dirinya. Wajah wanita itu masih belum berani menatapku. Dia tampak salah tingkah.



Di dalam hati aku merutuki kebodohanku yang begitu mudahnya terlarut dalan buaian.



Meski hatiku membantah kembali dan kalau aku juga menikmati semuanya.



Aku hanya diam sambil menatap Ana dengan gelisah.



"Sorry," ucapku lagi sambil menatap Ana dengan lekat.



Ana terkekeh kecil. "Berhenti menyalahkan dirimu, Sayang. Aku sudah mengatakan kalau kau tidak sepenuhnya bersalah. Aku juga sedikit terlarut tadi, meski aku mengakui kalau aku menikmatinya."



Ucapan Ana membuatku membelalakkan mata. Jujur diriku tidak begitu biasa menghadapi wanita seperti ini.



Menyebabkan ciuman singkat tadi menjadi bara api di dalam hatiku dan meninggalkan kesan tersendiri.



"Ayolah, Ryan. Jangan biarkan kejadian tadi kembali membuat jarak dan memberikan kesan canggung pada diri kita."



Aku hanya mengangguk singkat.



Ana tersenyum manis. Senyum dari bibir yang kini aku tahu rasanya.



*****



Lanjut??



cerita ini diupdate dua hari sekali ya..


__ADS_1



__ADS_2