
"Owh iya mbok, bahan bahan di kulkas sepertinya sudah menipis. Mbok Narti belanja ya, minta ditemani mas Alek atau mas Rofik. Sekalian belikan mereka rokok juga cemilan." Muthia meminta mbok Narti belanja dan ditemani salah satu tentara yang berjaga dirumahnya.
Tanpa mereka sadari, orang suruhan Sandra sudah mulai ada yang mengintai Muthia tak jauh dari rumahnya dengan menyamar menjadi penjual bakso di depan komplek. Namun insting prajurit Alek dan Rofik begitu tajam, sehingga mudah mencium gerak gerik mereka, namun tetap bersikap tenang seolah tidak tau tapi sudah mengatur strategi yang baik dengan atasannya yaitu Amir.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Sandra terlihat murka dengan kebodohan orang yang dia sewa. Mirna menjadi sasaran amarah Sandra.
"Mir! Mirna! cepat sini kamu!" teriak Sandra penuh amarah..Mirna yang sedang membereskan baju baju Sandra di meja setrika untuk dipindah kan ke dalam kamarnya Sandra langsung berjingkat kaget mendengar suara Sandra yang meninggi. Pun dengan Bu Siti yang sedang menyetrika baju juga dibuat kaget oleh teriakan Sandra yang tak biasa.
"Mir! Bu Sandra kenapa? dia seperti orang yang marah gitu, cepat sana temui, sebelum Bu Sandra makin marah nanti." Bu Siti menatap Mirna penuh selidik, Perempuan paruh baya itu tau kenapa Sandra bisa semarah itu, karena usahanya untuk menggugurkan kandungannya Muthia gagal.
Bu Siti tau, lantaran kemarin sempat bertemu dengan Amir di suatu tempat.
Awalnya Bu Siti ragu saat menerima ajakan Amir untuk bertemu, tapi Amir meyakinkan Bu Siti kalau cuma dia yang tau dan tidak akan bicara pada siapapun. Amir tau dari hasil melacak nomor tak dikenal yang digunakan Bu Siti untuk mengirim pesan peringatan pada Muthia.
Amir dan Bu Siti bahkan sudah bekerjasama untuk saling memberi informasi, Amir meminta, kalau ada kabar apapun yang Bu Siti peroleh, langsung untuk memberitahunya saja, demi membuat Muthia tidak cemas dan panik. Bu Siti pun menerima dengan baik permintaan Amir.
Bahkan Amir juga memberi Bu Siti uang bonus terimakasih karena sudah begitu perduli dengan Muthia. Awalnya Bu Siti menolak, tapi Amir terus memaksa dan akhirnya Bu Siti menerima uang dalam amplop coklat yang diberikan Amir padanya. jumlahnya cukup banyak bagi orang biasa, dua juta rupiah. Namun bagi seorang Amir jumlah itu teramat sedikit jika dibandingkan dengan keselamatan Muthia.
"Gak tau Bu. Kalau begitu aku temui Bu Sandra dulu ya Bu Siti. Ini biar disini saja dulu." Mirna berjalan tergesa-gesa menghampiri Sandra yang sudah berdiri di depan pintu ruang tengah dengan wajah tak enak, tatapannya begitu tajam penuh dengan amarah, membuat Mirna nyalinya menciut.
__ADS_1
"Mirna, ikut aku ke kamar!" perintah Sandra tegas dan berjalan menuju kamarnya yang diikuti oleh Mirna dari belakang.
Tanpa ada satupun yang tau, Bu Siti sudah memasang alat penyadap suara dan cctv kecil di beberapa sudut rumahnya Sandra. Ada yang ditaruh di bawah meja, di atas bufet, di dalam bunga plastik dan juga di sudut sudut ruangan yang ada dirumah ini. Bu Siti mendapatkan alat alat canggih tersebut dari Amit, dan tak lupa Amir juga mengajari cara memasangnya pada Bu Siti yang langsung bisa paham.
Cctv di kamar Sandra oleh Bu Siti diletakkan di sudut bufet jati yang ada tak jauh dari sisi lemari, ditaruh diantara pot bunga yang ada di atas bufet. Dan beruntungnya Sandra maupun Mirna tidak ada yang menyadarinya.
"Kamu itu kerja bisa gak sih, Mir?" Sandra langsung menodong Mirna dengan kata kata ketus dari mulutnya.
"Maksud bu Sandra gimana? kok saya gak paham!" Mirna bingung dengan sikap Sandra yang tiba tiba marah dan terlihat emosi.
"Kemarin orang yang kamu sewa bilang kalau Muthia sudah memakan makanan yang sudah kamu kirim dan dua dilarikan ke rumah sakit karena keguguran.
Jangan pernah macam macam pada denganku ya!" Sandra terlihat sifat aslinya, bengis dan kasar. Mirna tak menyangka, perempuan yang terlihat lembut dan patuh pada suaminya ternyata mempunyai sifat yang begitu mengerikan.
Mirna awalnya kasihan dan iba dengan nasib Sandra karena Aswin menikah lagi dan lebih mencintai istri keduanya.
Mirna berpikir, Aswin tidak adil dan kehadiran Muthia membuat Sandra menderita dan sakit hati, sehingga Mirna mau menuruti semua perintah Sandra untuk menyakiti Muthia tapi dengan cara yang rapi.
Tapi kini, Mirna sadar kalau keputusannya salah. Sandra tidak sebaik yang di pikirkan. Semakin hari semakin tak terkendali dengan dendamnya terhadap istri kedua suaminya itu.
"Saya GK tau Bu, saya pikir Jarwo sudah benar benar menyelidikinya. Maafkan saya." sahut Mirna gugup dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Percuma aku membayar mahal kalian, kalau kerjaannya gak ada yang beres gini. Dan sekarang keadaannya makin sulit, Muthia dijaga dua pengawal dari TNI dan prajurit pilihan. Kita akan semakin kesulitan untuk menyentuhnya, hanya ada satu cara, membuat fitnah antara Muthia dan Amir. Buat seolah mereka memiliki hubungan, agar terlihat seperti orang selingkuh." sambung Sandra menyeringai licik.
"Caranya gimana Bu? saya gak paham!" Mirna membalas ucapan Sandra dengan ekspresi bingung dan terbesit keraguan dalam dirinya.
Sandra pun terkekeh dan membisikkan sesuatu di telinganya Mirna yang langsung membuat Mirna mendelik tak percaya, kalau Sandra memiliki pikiran begitu licik untuk bisa mencapai ambisinya. Astagfirullah, batin Mirna dengan tatapan yang entah.
"Gimana? kamu bisa melakukannya, Mir?" sambung Sandra setelah beberapa saat terdiam dengan kedua tangannya bersedekap dada.
"Baik Bu, akan saya coba." jawab Mirna terpaksa meskipun tau kalau dia sebenarnya ragu untuk bisa melakukan perbuatan yang menjijikkan itu.
"Bagus! Lakukan secepatnya, lebih cepat lebih baik!" Sandra tersenyum licik dengan rencana rencana jahatnya.
"Baiklah, kembali lakukan pekerjaanmu lagi. Setelah itu istirahatlah, karena aku akan tidur sebentar." balas Sandra dingin dan mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewahnya.
Mirna keluar dengan wajah pias, menyesal karena sudah masuk dalam rencananya Sandra. Mau keluar takut Sandra murka dan menyakiti keluarganya. Tak ada pilihan lain selain mengikuti semua kemauan Sandra meskipun itu bertentangan dengan hati nuraninya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Amir sedang duduk di salah satu ruangan yang ada di yayasan milik Muthia. Memantau gerak gerik Sandra lewat laptopnya yang tersambung pada beberapa alat canggih yang kemarin berhasil dipasang okeh Bu Siti.
Amir mengerutkan wajah, menggelengkan kepalanya heran dengan perempuan seperti Sandra. Benar benar wajah penuh kamuflase. 'Semoga Aswin segera menyadari sikap licik istri pertamanya itu. Sepertinya aku akan bermain main sedikit dengannya, memberi terapi jantung pada perempuan ular itu.' Amir tersenyum miring, memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Sandra.
__ADS_1