Wanita Kedua

Wanita Kedua
Cinta Atau Kekaguman


__ADS_3

Kulangkahkan kaki menuju pintu besar di hadapanku. langsung menuju kamar dan segera menyegarkan diri di kamar mandi.



Hingga aku selesai mandi, Aku masih belum melihat keberadaan Riani. Dimana dia? Biasanya dia akan langsung menyambutku bila aku pulang kerja.



Kugelengken kepala dengan cepat, mencoba mengabaikan keresahanku. Sedetik kemudian aku teringat tempat favorit Riani di rumah ini. Apalagi kalau bukan Taman Mini di belakang rumah yang sering dirawatnya.



Taman yang sering mencuri perhatian Istriku dari diriku.



Segera kuselesaikan acara memakai baju lalu berjalan menuju belakang rumah untuk menghampiri istriku. Dia pasti ada di sana. Aku yakin.



Aku melangkah melewati ruang tamu yang terlihat semarak dengan sofa yang berwarna merah. Warna kesukaan Riani.



Dinding yang penuh dengan foto pernikahan dan juga lukisan tambahan membuat ruangan itu menjadi terlihat ramai.



Setelah melewati ruang tamu, aku harus melewati ruang televisi di sebelah kanan dan pintu menuju dapur di sebelah kiri.



Saat akan membangun rumah ini aku dan Riani sepakat membangun rumah yang sederhana untuk keluarga kecil kami.



Tidak perlu ruangan besar maupun ruangan bertingkat. Karena kami berpikir kelak kami memiliki anak, kami tidak ingin anak kami cedera karena main naik turun dari tangga.



Namun anak yang kami tunggu tak kunjung datang bahkan tidak akan pernah datang.



Setelah melewati dua kamar pembantu, Aku akan segera sampai di pintu belakang.



Benar saja. Begitu aku sampai di belakang aku langsung melihat sosok tubuh yang sedang berjongkok dengan memegang sekop kecil.



"Sayang," sapaku sambil menghampiri Riani.



Namun Riani hanya diam saja dan tetap melanjutkan kegiatannya membersihkan tanaman. Aku ikut berjongkok di sebelahnya dan mengulurkan tangan mengelus rambutnya yang halus.



"Tadi siang makan di mana?" tanyanya sekonyong-konyong.



Tanganku yang sedang mengelus rambutnya refleks tertarik. Ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu? Tengkukku mulai terasa dingin.



"Kok diam?" tanyanya lagi.



Aku menggeragap sebentar kemudian menjawab, "em, Aku makan siang di luar tadi."



Aku memperhatikan sikap Riani dengan perasaan kacau. Wanitaku itu masih saja diam dan acuh dengan tangan yang masih tetap memegang sekop. Jantungku berdetak tak karuan. Seolah sedang menjalani sidang.



"Makan siang dengan siapa?"



Akhirnya pertanyaan yang ku takutkan muncul juga. Aku bingung harus menjawab apa. Keringat mulai membanjiri pelipisku. Namun, anehnya aku tidak merasa kepanasan. Yang ada hanya rasa dingin memendam ketakutan.



Ya, aku takut saat ini. Takut kalau Riani mengetahui kegiatanku. Namun mau tak mau aku harus berkata jujur.



"Aku makan dengan seorang teman," jawabku lirih. Memberikan tatapan selembut mungkin saat mata Riani melirikku dengan tajam.



"Perempuan atau lelaki?"



Aku mengangkat bahu dengan gerakan serba salah. "Perempuan." Suaraku sangat pelan. Bisa kupastikan mungkin hanya telingaku yang mendengar.



Riani menatapku kembali dengan sengit, membuatku meyakinkan hati kalau dia mendengar ucapanku.



Terasa dunia di sekitarku runtuh. Tatapan Riani bukan tatapan marah seperti yang kupikirkan. Entahlah. Aku tidak bisa mengartikan tatapannya.



Tatapan itu menyedotku ke dalam tapi dalam sekejap seperti menghempaskanku keluar. Anehnya, aku tidak menemukan kemarahan dan kekecewaan.



Suasana mencekam ini akhirnya mereda saat Riani kembali memegang tanaman hiasnya.



Dia hanya diam. Melanjutkan kegiatannya hingga akhirnya berdiri meninggalkanku. Aku terbengong melihat wanitaku itu mengabaikanku yang setia sejak tadi menungguinya.



"Sayang?" panggilku dengan tatapan heran.



Dia menoleh dengan gerakan lembut. Rambutnya bergerak seindah pemiliknya. "Ada apa?"



Suara lembutnya menenangkan hati yang sempat gelisah.



Kuhampiri dan meraihnya ke dalam pelukan. "Kenapa kamu bertanya tentang hal tadi?"



Penasaran membuatku memberanikan diri untuk bertanya. Sikap dan tingkahnya terasa sangat janggal.



Semula aku mengira kalau dia akan marah, atau paling tidak dia akan merajuk. Namun yang kudapat malah sikap yang tidak wajar.



"Memangnya kenapa?" Dia malah balik bertanya. "Apa kini aku tidak bisa bertanya kepadamu?"



Aku menggaruk tengkuk dengan kikuk.



"Aku tadi ke kantormu," ucapnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah. "Susan bilang kau sedang pergi bersama seorang wanita."

__ADS_1



Langkahnya berhenti dan menoleh kepadaku. "Siapa dia?"



Aku terdiam. Situasi apa ini? Matanya masih menatapku menunggu jawaban.



Sesaat kemudian dia berbalik dan langsung menuju kamar. Kupercepat langkah menghampirinya yang sudah berada di dalam kamar.



"Namanya Ana. Kami hanya berteman." Jawabanku pasti terdengar sangat aneh. Didukung suaraku yang sedikit bergetar.



Riani menoleh dan tersenyum sinis. "Aku hanya bertanya siapa dia. Bukan hubunganmu dengannya."



Kugelengkan kepala dengan kesal. Kuhampiri dia dan membantingnya ke kasur.



"Kau mengerjaiku, hm?"



Dia tertawa. Lalu segera bangkit dan menuju ke kamar mandi. Sebelum dia masuk ke dalam, menoleh sebentar dan berucap, "aku ingin makan malam di luar."



Setelah berkata demikian, tanpa.menunggu jawabanku dia menutup pintu.



******



Mobil yang kukendarai meluncur dengan tenang. Membelah jalanan yang tampak semarak karena padatnya pengendara.



Kota Pematangsiantar tidak seperti dulu lagi. Meski malam sudah menguasai, jalanan masih saja padat oleh kendaraan. Bahkan nyaris macet.



Jarak dari kediamanku yang ada di perumahan Bukit Akat Sejahtera menuju pusat kota biasanya hanya memakan waktu tempuh selama lima belas menit.



Namun karena padatnya jalanan, sudah hampir dua puluh menit kami berhentu di depan sebuah mall. Di sini benar-benar macet.



Riani yang duduk di sisiku hanya diam sambil menatap ke arah jalanan. Hari ini dia sangat memukau.



Mini dress merah di tubuhnya membuatnya sangat seksi. Biasanya dia memakai mini dress bercorak polkadot atau boneka. Kali ini motif bunga mawar membuatnya sangat menantang. Terlihat seperti Ana.



Aku terkesiap. Kenapa Ana yang harus teringat? Kuakui kalau pesonanya benar-benar menjerat. Apalagi senyum dari bibir yang terasa dingin.



Mengingat bibir itu membuatku gelisah sendiri. Ada hasrat untuk merasakan kembali apa yang pernah terjadi di antara kami. Namun di sisi lain raga ini ingin menjauhinya.



Bisa kurasakan jerat-jerat perselingkuhan dari mata kucing Ana. Menarikku ke dunianya yang terasa hangat. Ingin rasanya mendapatkan imunisasi untuk mencegah perselingkuhan. Bila memang vaksin tersebut ada.



Agresif dan menantang. Itu sifat yang pertama kali kutangkap darinya. Manja dan menghangatkan adalah sifat lain yang kurasakan bila aku menghapus jarak darinya.




Terkadang hati menginginkan wanitaku ini bermanja-manja dan menggoda seperti Ana. Namun itu hanya bisa kubayangkan tanpa bisa merasakan.



Dia adalah Riani. Wanita dengan segala kefeminiman yang mendominasi dirinya.



"Mau makan di mana?" tanyaku memecahkan kebisuan.



Dia melirik sekilas dan kembali menatap jalanan.



"Aku ingin makan di Rumah Makan Lesehan Binaling."



Darahku berdesir. Apa ini sebuah kebetulan atau memang Riani sengaja melakukannya katena mengetahui sesuatu.



Rumah makan yang disebutkannya adalah rumah makan yang kudatangi tadi siang bersama Ana.



Perutku terasa melilit. Bukan karena merasa lapar atau karena ingin ke toilet. Rasa ini lebih cenderung pada ketakutan.



Ya, aku merasa takut. Tentu saja rasa takut ini hadir karena aku sadar kalau aku telah salah.



Tanpa menjawab ucapan Riani, kuluncurkan mobil menuju Binaling. Rumah makan bernuansa klasik dengan hidangan yang klasik. Tempatnya yang dipenuhi pepohonan membuat pengunjung seperti sedang berada di pedesaan.



Sesampainya di Binaling, Riani melangkah sambil menggandeng tanganku. Ditunjuknya sebuah meja kosong yang berada di dekat pintu masuk.



Dahiku mengernyit. Aku tidak menyukai tempat yang akan selalu dilewati oleh orang-orang.



Namun, demi melihat senyum manis dewiku ini, kuangguki dengan setengah hati.



Kami segera duduk. Tanganku melambai ke arah pelayan. Segera kupesan menu. Malam ini aku ingin perutku diisi oleh Ayam Rica-rica Sambal Andaliman dengan minuman pendamping susu jahe yang hangat.



Riani juga memilih hidangan yang sama denganku. Setelah pelayan itu pergi, kulihat Riani menopang dagu dan melamun.



"Sayang?"



Dia melirikku dan menaikkan alis. Tanpa bersuara menjawab panggilanku.



"Kenapa diam saja?"



Dia menarik napas pelan dan menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin menyeretnya ke kamar kami sekarang juga.

__ADS_1



"Perasaanku tidak enak," ungkapnya lirih. "Terasa ada yang kurang. Tapi aku tidak tahu itu apa."



Kuraih tangannya dan menariknya untuk duduk di sampingku. Kulihat dia sedikit kesusahan menggeser tubuhnya karena mini dress yang dipakainya.



Aku terkekeh. "Kalau kau memang ingin makan malam di sini, harusnya kau memakai celana saja. Bukan gaun seperti ini."



Kuacak rambutnya dengan gemas dan mengecup sekilas dahinya.



Ditariknya kepala yang baru saja kukecup dengan wajah merah.



"Malu dilihat orang, ih," sungutnya.



Aku kembali terkekeh.



Tak lama pelayan membawa pesanan kami.



Aku menikmati makanan kesukaanku dalam diam. Begitu juga Riani. Sampai makanan kami habis, kami masih diliputi keheningan.



Keheningan yang terpecah saat suara yang sangat kukenal dalam beberapa hari ini memanggilku dan membuat tubuhku membatu.



"Ryan!"



Aku menoleh ke arah sumber suara dan melihat Ana melangkah dengan tergesa-gesa.



Kulirik Riani yang menatap wanita yang menghampiri kami dengan wajah dingin.



Setelah sampai di tempat yang kami duduki, Ana langsung menduduki tempat di samping Riani dengan santai.



"Ternyata kau makan di sini lagi?"



Ucapan Ana berhasil membuat dahi Riani berkerut dan jantungku bertalu-talu. Meski tadi sore aku sudah mengakui kalau aku makan siang bersama seorang teman wanita, tapi pertemuan seperti ini cukup membuatku ketar-ketir apalagi bila mengingat apa yang terjadi di antara kami tadi.



Sebelum Riani bertanya aku segera menggenggam tangannya dan berkata, "Sayang, perkenalkan, ini Ana. Temanku saat makan siang tadi."



Riani melirikku sekilas kemudian beralih menatap Ana dengan senyum simpul. Ana membalas dengan senyum paling sempurna yang dimilikinya.



"Ternyata ini Nyonya Pratama?" Ana mengerling dan mengangguk-angguk. "Kupikir istrimu seorang yang glamor. Ternyata sangat bersahaja dan sederhana meski dia sangat cantik."



Pujian Ana membuat Riani tersipu dan menunduk. Sesaat kemudian dia mendongak dan bertanya, "Anda sendirian Nona Ana?"



Ana mengangguk singkat."Wanita sepertiku hanya bisa menikmati makan malam sendirian. Andai aku bisa makan malam seperti ini dengan seseorang seperti Ryan."



Ana terkekeh.



Meski dia mengucapkan sambil bercanda, bisa kupastikan raut wajah Riani berubah meski sesaat. Kemudian dia tersenyum lembut.



Ana memanggil pelayan dan memesan minuman seperti yang sedang kami nikmati.



"Kalian terlihat seperti sedang berpacaran," komentar Ana sambil menyesap susu jahe yang baru saja diantar pelayan.



Riani terkekeh dan mengangguk. "Banyak yang bilang seperti itu, Nona Ana. Mungkin karena wajahku terlihat seperti anak-anak."



Ana tertawa dan kembali menempelkan bibirnya ke gelas dan menyesap kembali minumannya.



Aku hanya dia dan memperhatikan gerak gerik Ana. Kubiarkan kedua wanita di hadapanku berbicara.



Ana hari ini memakai kaos polos berwarna putih dengan celana jeans yang memeluk erat setiap jengkal pahanya yang mungil. Tubuh jangkungnya semakin terlihat.



Rambut ombaknya sengaja di kuncir memperlihatkan leher jenjang yang mengundang hasrat lelaki untuk memberi tanda di sana.



Tangannya bergerak mengetuk-ketuk bibirnya. Yang kutahu sebagai kebiasaanya bila diajak berbincang. Kebiasaanya yang mulai kuingat sejak mengenalnya selama beberapa hari ini. Kebiasaan yang membuatku tidak lupa betapa nikmatnya rasa bibir itu.



Aku membuang muka dan menarik napas dengan berat. Aku kembali berfantasi liar bila melihat sosok seksi itu. Membuatku resa apalagi saat ini Riani ada di sini.



Tiba-tiba kurasakan kehangatan yang tidak ada hubungannya dengan minuman yang sedang kunikmati. Kehangatan jasmani yang ingin dilampiaskan dengan sesuatu yang panas.



Sebagian dari diriku ingin bermain dengan api yang kini menguasai. Api yang ditimbulkan oleh sosok Ana.


Sebagian lagi aku ingin menyiram sosok di hadapanku dengan air got agar nataku segera beralih darinya.



Tapi aku tak kuasa. Api yang ditimbulkannya berubah menjadi air yang menenggelamkanku.



Merasa tidak nyaman, aku membisiki Riani kalau aku ingin keluar dan merokok sebentar. Melihatnya mengangguk, aku segera melangkah keluar dan duduk santai di sebuah kursi taman kosong di dekat pepohonan.



Tempat ini hanya mendapat sedikit penerangan. Terkesan temaram dan membuatku nyaman. Namun, baru saja tiga kali aku menghembuskan asap rokok, suara yang ingin kuhindari kembali memanggil.



Mau apa dia sampai menyusulku kemari?



........

__ADS_1




__ADS_2