
Kabut duka yang menyapa Alika membuat siapapun yang ada di sekelilingnya ikut merasakan dukanya
Kehilangan suami yang teramat mengistimewakan dirinya membuat dunianya seakan runtuh, tak kan ada lagi yang bermanja dengannya, tak kan ada lagi yang memberikan perhatian yang membuat siapapun wanita yang menjadi kekasih hatinya akan merasa terbang ke angkasa
kini ia harus menjadi single parents untuk bayi perempuan yang baru dilahirkannya
Usai dari pemakaman teguh tadi pagi, Alika yang pingsan dan kedapatan mengalami ketuban pecah pun di bawa Galang, bu Ratna dan bu Lastri ke rumah sakit ibu untuk memeriksakan keadaan Alika dan dokter pun harus melakukan tindakan operasi Caesar untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anak itu
Lahirlah bayi perempuan dengan berat tak lebih dari 3 kg dan panjang 38 cm, bayi itu harus terlahir prematur karena keadaan
bu Ratna yang notabene sebagai mantan mertua pun tak mau beranjak dari sisi mantan menantu, begitupun dengan Galang yang masih setia menunggu Alika meskipun ia tak diperkenankan oleh bu Lastri untuk ikut menunggu Alika di dalam ruang rawat
*
*
Sementara itu dikediaman keluarga besar Hendriansyah
Dila yang sedang menunggu kepulangan Galang pun tak sengaja mendengar percakapan para asisten rumah tangga di kediaman itu
"kasian sekali mbak Alika tadi sampai pingsan pas di kuburan" celetuk mang jaya selaku sopir pribadi pak Hendra
"masa' sih mang? Terus sekarang bagaimana keadaannya mbak Alika?" tanya Tami
"ya gak tau Mi kan langsung di gendong sama mas Galang, mungkin sekarang masih di rumah sakit. Kasian aku liat mbak Alika tadi pas lagi habil gede eh kok yo suaminya meninggal...."
"andai dulu mas Galang dan mbak Alika gak cerai pasti sekarang masih jadi pasangan yang paling bahagia ya...."
__ADS_1
" ya mungkin gak jodoh Mi, tapi kamu bener sih kalo aja mereka dulu gak cerai pasti mereka sekarang akan jadi pasangan paling romantis di rumah ini...." cicit mbok Jum
"gimana gak cerai mbok lawong mas Galang poligami, tinggal serumah lagi.." seru Tami. "coba dulu aku yang jadi mbak Alika udah tak racun tu maduku, sayang nya ini mbak Alika cuma nangis pas liat diem diem tengah malam mas Galang nyamperin istri sirinya itu " tami berkata dengan sangat berapi api,
"aduuuh..... gimana ya rasanya jadi mas Galang punya istri dua" mang jaya mesam mesem membayangkan jadi Galang . Mbok Jum yang melihat mang jaya pun melempar kotak tisu tepat ke arah mang jaya
"aduuuuh.... mbok,bisa benjol nih pala" mang jaya memegang dahinya yang terkena lemparan kotak tisu tersebut
Sementara itu Dila yang bersandar di dinding tak jauh dari tempat ketiga asisten rumah tangganya itu pun mengusap kedua netranya yang mulai berembun
Galang yang sejak mengantar bu Ratna ke tempat Alika malam tadi nyatanya ia tak pulang seperti yang dia katakan semalam, suaminya itu lebih memilih menginap di tempat Alika dan tanpa memberinya kabar
Hatinya gelisah, berbagai prasangka pun kini memenuhi pikirannya
*
*
*
Alika tergugu di pelukan bu Lastri, wajahnya sayu saat terbangun menatap bayi mungil yang berada di boks bayi tepat di samping ranjangnya
Kehilangan suami secara tiba-tiba dan kini ia harus menjadi single parents untuk bayi perempuannya itu
Dipeluknya kini tubuh mungil yang terbungkus bedong berwarna hijau muda itu, diciumnya berkali-kali pipi mungil sang bidadari kecilnya
"kak.... lihatlah dia sangat mirip denganmu, matanya hidungnya bahkan bibirnya itu sama seperti mu.....setega itu kamu ninggalin aku kak" air mata itu terus mengalir, mengisyaratkan kesedihan yang teramat dalam yang ia rasakan
__ADS_1
Tak henti hentinya bu Lastri dan bu Ratna menguatkan hati Alika tapi wanita muda itu rasanya tuli, yang ia rasa cuma kesedihan yang teramat
Galang yang berdiri tak jauh dari sana pun menatap iba pada mantan istrinya itu, hatinya gusar andai bisa ingin ia memeluk tubuh wanita yang masih jadi pemilik hatinya itu, bahkan ia lupa akan istri yang menunggunya di rumah
"Alika nak, kamu yang ikhlas ya.... kalau kamu sedih terus seperti ini kasihan anakmu nak nanti air susumu gak keluar, kasihan kan anakmu nanti.... belajar ikhlas ya nak?" ucap bu Ratna seraya ia mengusap lembut pucuk kepala Alika
"terimakasih ma.... Sudah menemani aku disaat seperti ini"
"kamu itu seperti anak mama sendiri, sampai kapanpun akan tetap jadi anak kesayangan mama"
beberapa saat setelahnya Alika yang lelah jiwa dan raganya itupun tertidur setelah meminum obat yang diresepkan oleh dokter, melihat Alika yang sudah tertidur bu Lastri dan bu Ratna pun beranjak ke kantin rumah sakit itu karena mereka berdua pun belum makan sejak semalam
"maaf bu Ratna setelah ini saya mau balik ke panti asuhan karena saya juga punya tanggungan ana anak panti tapi saya juga tak sampai hati meninggalkan Alika sendirian di sini," ucap bu Lastri sendu
"bu Lastri ini gimana sih, kan ada saya dan Galang disini jadi bu Lastri gak usah khawatir tentang Alika... Lagian Mala dan Dani kan juga sibuk ngurusin yang dirumah kan bu, jadi untuk urusan Alika biar saya yang jagain"
"apa tidak merepotkan bu Ratna,"
"kenapa repot, Alika itu sudah seperti anak saya.... saya menyayanginya sama seperti saya menyayangi anak sendiri"
" terimakasih ya bu Ratna,oh ya no ponsel bu Ratna masih sama kan,,,,biar nanti saya mudah untuk menghubungi bu Ratna" bu Ratna pun mengangguk
Sementara itu di kamar rawat Alika
Galang yang melihat Alika terpejam pun perlahan mendekati ranjang Alika, dipandangnya kini wajah cantik yang selalu meneduhkan hatinya itu.... perlahan tangannya pun ingin menyentuh tangan pemilik hatinya itu
"andai waktu bisa diulang lagi aku mungkin tak ingin melakukan kesalahan itu sayang" lirih Galang pelan
__ADS_1
Perlahan tapi pasti kini tangannya mengusap lembut pucuk kepala Alika, Galang memejamkan matanya berharap waktu berhenti agar ia bisa selamanya bersama mantan istrinya itu
"andai tangis itu untuk ku pasti aku akan sangat bahagia saat ini tapi sayang sedihmu, tangismu itu untuk Teguh...ha... ngomong apa aku ini, aku yang sudah menyakiti hatimu dulu.... tapi asal kamu tau, hati ini masih milikmu seutuhnya," lirih Galang berucap