
Wanita Kedua
Part 13
Penyesalan
#wanitakedua
..........
Aku memasuki ruangan tempat Ana di rawat. Sudah dua hari dia di rumah sakit karena serangan jantung ringan yang terjadi akibat perbuatanku.
Aku duduk di sisi kanan tempat tidur Ana. Wajahnya masih pucat. Namun tak ada binar semangat seperti yang biasa kulihat dari wajahnya.
Dan yang terjadi hari ini membuatku dejavu. Teringat saat aku menemani Riani saat hendak operasi waktu itu. Mengingat tentangnya membuatku meringis merasakan sakit di hatiku. Sepertinya aku harus merelakannya.
Riani benar. Aku memang menjijikkan. Aku tak pantas bersamanya. Dia berhak bahagia dengan pria yang bisa menjaga dirinya. Sedangkan aku? Bagaimana mungkin aku bisa menjaga rumah tangga yang berisi dua hati sedangkan hatiku sendiri tidak terjaga.
"Ryan ...."
Suara serak dan terdengar patah membuatku tersentak dan melihat ke arah Ana yang kini menatapku dengan mata basah.
"Maafkan aku," ucap Ana dan membuat aku mengerutkan dahi.
Setelah sampai seperti ini dia baru sadar kalau dia salah? Kemana saja kesadarannya selama ini? Ingin rasanya aku memaki tapi kuurungkan. Bagaimanapun semua sudah terlambat dan tidak perlu diributkan.
Kutepuk punggung tangannya dan berkata, "sudahlah. Semua sudah terjadi. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Tapi setelah kau sembuh, kau harus menceritakan apa maksudmu melakukan ini semua. Dan aku tidak ingin mendengar kata cinta. Karena bukan begini cara mencintai seseorang."
Ana hanya mengangguk. Setetes cairan bening kembali mengalir.
"Oh, ya. Kau sebaiknya menelepon keluargamu. Karena aku sudah tidak bisa menemanimu di sini. Aku punya banyak pekerjaan dan urusan yang harus diselesaikan."
Entah kenapa, setelah mendengar ucapanku dia menangis. Drama apalagi ini? Ingin sekali kutonjok wajah cantiknya itu dan memaksanya untuk berhenti bersandiwara. Emosi menumpuk di hatiku.
"Apa yang kau tangiskan?"
__ADS_1
Ana menggeleng dan membuang muka. "Pergilah, aku tidak apa-apa bila sendiri."
Aku mengangguk lalu memutar badan dan berlalu dari sana.
......
Di kantor aku benar-benar tidak fokus. Semua jadwal yang dibacakan Susan kubatalkan tanpa memikirkan risiko. Apalagi tadi dokter yang merawat Ana menelepon kalau wanita itu bisa pulang hari ini. Aku mengabaikan. Toh aku bukan keluarganya.
Namun barusan dokter tersebut menelepon kalau Ana sedang berbenah sendirian tanpa seorangpun yang menemani. Apa dia tidak punya keluarga? Orangtuanya? Saudaranya? Kemana mereka?
Dengan pikiran kalut kutinggalkan kantorku dan meluncur menuju rumah sakit Harapan.
Lima belas menit perjalanan dari Jalan Sutomo menuju Rumah Sakit Harapan cukup membuatku semakin gelisah. Apa yang sedang kulakukan ini? Seharusnya kubiarkan saja dia.
Dan saat melangkah menuju ruangannya aku sudah menyusun rencana. Rencana yang akan disesalinya seumur hidup.
"Sudah siap?" tanyaku begitu memasuki ruangannya. Kulihat Ana memegang sebuah amplop yang cukup besar dan tebal. Amplop yang bisa kutebak kalau isinya adalah uang. Amplop itu segera dimasukkan ke dalam tas kecil yang dipegangnya.
Kubuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Begitu juga dengan Ana. Dia melakukan semuanya dalam diam. Dimana gairahnya yang berkobar-kobar semalam? Apa karena sudah hampir menemui ajal membuatnya tobat?
Tak ingin berpikir lebih jauh, aku menjalankan mobil.
"Rumahmu dimana?" tanyaku sambil menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Bisa kulihat Ana tersentak dan menggeleng cepat. "Aku tidak ingin pulang ke rumah."
Aku menoleh sekilas ke arahnya. "Lalu kau mau kemana?"
Ana menatapku dengan memohon. "Ijinkan aku ikut bersamamu."
Aku tertawa sumbang mendengar ucapannya. "Sekarang kau minta ijin kepadaku. Kenapa sebelumnya kau tidak minta ijin untuk menghancurkan hidupku?"
__ADS_1
Ana terdiam. Aku menggelengkan kepala dengan kesal. Apalagi saat mobilku kini memasuki lingkungan tempat aku tinggal.
Aku segera keluar dari dalam mobil dan menarik tangan Ana yang juga baru saja membuka pintu mobil. Kutarik perempuan itu dengan kuat dan menyeretnya ke kamarku.
Sesampainya di kamar, kuhempaskan tubuh jangkung itu dengan kuat hingga terbanting di kasur.
"Sekarang kau jelaskan padaku, apa tujuanmu melakukan ini semua?! Menghancurkan hidup dan pernikahanku."
Ana terisak. Dipeluk lututnya dan menangis. Kepalanya menggeleng tak karuan. "Aku ... Aku hanya ingin memilikimu, Ryan."
"Ah ... Masa bodoh! Itu semua omong kosong. Bagaimana bisa kau ingin bersamaku sementara kita baru saja saling mengenal."
Ana berdiri dan mendekatiku lalu memelukku dengan erat. "Aku benar-benar ingin memilikimu, Ryan. Hanya kau tempat dimana aku bisa bersandar."
Sambil menangis di dadaku dia berucap, "meski harus menjadi perempuan hina di matamu, aku rela. Asalkan aku bisa bersamamu di sini."
"Bahkan sampai menghancurkan hidupku? Begitu maksudmu?!" Kusentak tubuhnya lalu menampar wajahnya dengan sekuat tenaga.
Ana terjatuh di lantai sampai tersungkur. Aku benar-benar kalap. Semudah itu dia mengucapkan kata-katanya padahal dia sudah merusak kehidupanku.
Kutarik rambutnya yang tergerai dengan kuat lalu memaksanya untuk berdiri.
"Kau sungguh ingin hidup bersamaku meski kau akan kusiksa seperti ini setiap hari? Jawab, Ana!"
.....
ini hanya sebagian dari part 13. bila ingin membaca kelanjutannya, silakan simak keterangan di bawah.
mulai hari ini, seluruh bab di mangatoon akan saya hapus. maafkan atas ketidaknyamanan. hal ini dilakukan karena Wanita Kedua akan baik cetak menjadi buku. yang ingin lanjut membaca wanita kedua, silakan mampir ke facebook dengan akun GIA HUMAIRO
lalu gabung ke grup KOMUNITAS BISA MENULIS.
Cari hastag #wanitakedua, maka kalian akan menemukan bab yang sudah dipublish. terima kasih..
__ADS_1
dan yang ingin ikut memesan buku silakan chat ke akun Gia Humairo di facebook