Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 27 Menyatukan cinta untuk satu hati yang sama


__ADS_3

"Maksudnya?


Berarti benar kalau saat ini terjadi sesuatu sama Bu Sandra? katakan Mir, tolong jangan buat saya khawatir." Muthia langsung terlihat cemas.


"Tadi saat Bu Muthia sama pak Aswin di taman, sebenarnya Bu Sandra juga ada di sana, dan Bu Sandra menangis setelah melihat ibu sama pak Aswin saling merayu."


Muthia langsung membekap mulutnya, rasa menyesal dan bersalah langsung menghampiri hatinya. "Ya Allah, Astagfirullah. Aku sudah membuat teh Sandra terluka, pasti saat ini dia sedang sedih dan sakit hati, Alloh ampuni kami." Muthia lemas dan terlihat panik, sikapnya bersama Aswin sudah membuat hati Sandra merasa tersakiti. Iya Sandra cemburu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, pasti sekarang teh Sandra sangat terluka." Muthia bergumam lirih namun masih bisa tertangkap oleh telinga Mirna. Mirna memilih diam, tak ingin berkomentar apapun, Mirna bisa melihat ketulusan Muthia pada Sandra, tapi Muthia juga begitu mencintai Aswin. Bagi Mirna, cinta dan kisah mereka begitu aneh dan menyesakkan, rela tersakiti demi mempertahankan cinta yang terbagi.


"Mir, saat kamu tinggal tadi, Bu Sandra sedang apa?" sambung Muthia kemudian, matanya sudah basah akibat tetesan bening yang mengalir dari sudut matanya yang bening. Menyesal dan merasa bersalah, itulah yang kini menyelimuti hati Muthia. Tak seharusnya dia bersikap mesra dengan Aswin di sembarang tempat, meskipun Aswin halal baginya, tapi disini ada hati wanita lain yang harus di jaga, Muthia benar benar menyesal karena sudah bersikap keterlaluan tanpa memikirkan kehadiran Sandra.


"Bu Sandra, menangis Bu. Dan cuma terus menangis, Bu Sandra bilang, kalau beliau butuh waktu sendiri, itulah kenapa tadi saya dimintanya keluar kamar, Bu Sandra ingin sendiri." balas Mirna jujur, tanpa ada yang disembunyikan lagi.


Muthia menarik nafasnya panjang, sesaat memejamkan mata, hatinya benar benar gelisah, pasti rasanya sangat sakit, karena jika dirinya yang berada di posisi Sandra juga akan merasakan hal yang sama.


"Aku harus bagaimana, Mir?" celetuk Muthia lirih, dan membuat Mirna tersentak dengan pertanyaan yang tiba tiba terlontar dari bibir perempuan cantik yang duduk di hadapannya.


"Saya juga gak tau Bu, maaf. Saya takut salah kalau saya ikut berkomentar." balas Mirna salah tingkah. Dan Muthia memilih diam dengan tatapan sayu. Hatinya benar benar gelisah memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Menurut saya, lebih baik ibu biarkan Bu Sandra menenangkan diri dulu, Bu Sandra cuma butuh waktu untuk sendiri, saya yakin Bu Sandra berusaha untuk menenangkan dirinya, karena Bu Sandra juga paham posisi Bu Muthia yang juga istrinya pak Aswin, memang bagi setiap perempuan itu sulit mengatasi perasaan sakit akibat cemburu. Tapi bukankah ini menjadi pilihan yang sudah dipikirkan sebelum di jalani, mungkin inilah yang saat ini Bu Sandra renungkan. Maaf kalau saya salah." sahut Mirna pada akhirnya setelah sekian detik memilih bungkam, tapi sisi perempuannya ingin sekali berkomentar mengatakan apa yang menjadi penilaiannya.


Muthia hanya terdiam, mencerna kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Mirna yang menurutnya ada benarnya.

__ADS_1


"Bunda!" suara Zahra dan Aruna tiba tiba terdengar saling bersahutan di tambah dengan Yusuf yang juga ikut berlari ke arahnya, mengikuti kakak kakaknya. Muthia dengan gerak cepat mengusap sisa air mata yang tadi menetes membasahi wajah mulusnya.


"Wah, anak anak bunda sudah pada bangun nih, gimana? mau di suapin sama bunda?" sambut Muthia lembut dan memeluk semua secara bersamaan.


"Iya, Zahra sudah lapar!"


"Aku juga lapar" sahut Aruna tak mau kalah.


"Yusuf juga mau maem." mereka saling bersahutan dengan keinginan yang sama, membuat Muthia dan Mirna tertawa dengan kelucuan dan kehebohan yang dibuat oleh tiga anak kecil yang menggemaskan.


"Yasudah, yuk sini bunda siapin dulu makanannya, kalian duduk yang manis ya, tunggu bunda siapin makanannya." Muthia mengangkat satu persatu anak anak untuk duduk di kursi masing masing, meminta Mirna untuk mengawasi dan menemani selama Muthia berkutat dengan masakannya.


Telor ceplok, sosis, nugget ayam juga sayur kol menjadi pilihan Muthia untuk menu makan siang anak anak.


Tanpa harus disuruh dua kali, sendok demi sendok masuk kedalam mulut mungil ketiga anak yang memiliki kecerdasan yang hampir sama.


"Kol nya juga di makam ya, harus makan sayur, biar gizi dalam tubuh tercukupi." sambung Muthia sambil menatap satu persatu bocah dihadapannya dengan gemas, dan mereka satupun tidak ada yang membantah, menuruti setiap perkataan Muthia dengan lucunya.


Setelah menyelesaikan makannya, anak anak memilih bermain di ruang tengah yang khusus untuk menjadi tempat bermain anak anak, segala macam mainan sudah ada disana. Bi Siti dan Mirna menemani mereka bermain, sedangkan Muthia memilih menemui Sandra di kamarnya, Muthia pikir, Sandra sudah tenang dan juga sudah waktunya makan dan minum obat.


Dengan membawa nampan berisi makanan dan minum untuk Sandra, Muthia melangkah ke kamar Sandra dengan hati berdebar, rasa bersalah masih menyelimuti hatinya.


"Asalamualaikum, teh! ini Muthia. Teh Sandra waktunya makan dan minum obatnya." dengan berusaha bersikap biasa saja Muthia menunggu Sandra membuka pintu yang terkunci, dan tak butuh waktu lama, Suara kunci terdengar di putar dari dalam, dan pintu sedikit dibuka, Sandra tersenyum meskipun wajahnya terlihat sembab dan memerah.

__ADS_1


Muthia memilih diam dulu, agar Sandra memakan makan siangnya dan meminum obatnya, karena kalau Muthia membahas sekarang yang ada Sandra akan kembali sedih dan pasti menangis lagi, itu akan membuatnya tidak menyentuh makanan dan obat harus diminum untuk mempercepat penyembuhannya.


"Saya suapin ya teh?" Sandra hanya mengangguk dengan mengulas senyum tipis, terlihat jelas jika kesedihan masih tergambar dari wajahnya yang sayu. Muthia dengan telaten menyuapi Sandra hingga makanan di piringnya habis. Dan Muthia kembali menyodorkan gelas berisi air putih dan beberapa butir obat untuk diminum Sandra.


"Terimakasih." ucap Sandra pada Muthia yang mematung, bingung apa yang harus dilakukan.


"Teh! maafin Muthia." Muthia terisak dan bersimpuh di depan kursi roda yang di duduki Sandra, kedua tangannya menggenggam jemari Muthia, Sandra pun kembali menangis, masih tersisa perih di hatinya akan luka cemburu, tapi Sandra sadar, inilah resiko dari keputusannya menerima Muthia sebagai adik madunya.


"Sudah! Ini ujian untuk kita, semoga kita bisa lalui dengan iklas. Maafkan aku, kalau belum mampu menahan perasaan cemburu ini, aku masih saja sakit hati, Padahal aku tau, kamu juga istrinya kang Aswin. Huh lemahnya aku ya?"


Sandra berusaha mengendalikan dirinya, memaksakan senyum dibalik tetesan air mata yang terus mengalir.


Muthia semakin terisak dengan menenggelamkan wajahnya di pangkuan Sandra, dirinya benar benar merasa bersalah.


"Maafkan Thia, Teh! maafkan!" Isak Muthia dan membuat Sandra mengusap lembut bahunya.


"Sudahlah, aku cuma butuh waktu sendiri untuk menguasai hati, insyallah nanti juga akan terbiasa, pun denganmu." sahut Sandra bijak, sikapnya sudah benar-benar berubah, Sandra jadi lebih bijak dan dewasa dalam bersikap.


"Sudah nangisnya, nanti dilihat anak anak, gak baik untuk mereka."


Sambung Sandra sambil tangannya mengangkat dagu Muthia dan mengusap air matanya. Mereka saling berpelukan dan saling meminta maaf, berusaha belajar untuk hidup berdampingan dengan saling memaafkan dan saling menyayangi. Karena sudah sama sama memutuskan untuk mencintai satu pria yang sama.


Terkadang cinta memang tak berlogika dan tak seindah itu. Ada pengorbanan yang harus dibayar demi rasa yang tak bisa dilepas.

__ADS_1


__ADS_2