
Bersimpuh di hadapan Allah merupakan cara terbaik untuk melapangkan hati setiap hambanya
Di sepertiga malam ini Dila bersimpuh di hadapannya memohon ampun atas segala khilaf yang mungkin dulu pernah ia lakukan.kegundahan hatinya ia tumpahkan kepada sang pencipta...derai air mata tak henti mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Sadar akan salahnya yang tanpa sengaja sering melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
sakit hati yang teramat dalam dengan pernikahannya bersama Galang membuat wanita muda itu kini ingin menjadi wanita kuat tanpa harus menunggu uluran tangan Galang untuk membesarkan kedua buah hatinya itu
Hari harinya kini disibukkan dengan kegiatan membuat kue.kegiatan yang dulu sering ia lakukan saat masih bersama mendiang Gerry.
Angannya berkelana jauh ke masa lalu saat setiap pagi pasti suaminya itu akan minta sarapan kue buatan Dila, Gerry tak suka sarapan dengan nasi di pagi hari....ia akan lebih memilih menahan perutnya yang keroncongan daripada harus memakan sesuap nasi di pagi hari
"mas gimana kalau aku jualan kue didepan rumah.... pasti laku,kan katamu kue buatan ku rasanya enak..." ucap Dila saat itu seraya duduk di samping suaminya yang tengah melahap kue nagasari buatannya.
"memang kue kue buatan mu rasanya enak sayang tapi aku tidak ingin melihat kamu kelelahan,karena rutinitas membuat kue itu juga melelahkan...." ucap Gerry lembut
"tapi mas kan lumayan lho....biar aku ada penghasilan sendiri lagipula albi juga sama ibuk terus!" rengek Dila waktu itu
"memang penghasilan aku selama ini kurang...." Dila mengeleng kuat "tugas mencari nafkah itu urusan lelaki sayang...tugasmu hanya pastikan perut suamimu ini tak kelaparan saat keluar rumah mencari nafkah dan juga yang lebih penting rawat anak kita dengan baik" saat itu pun Dila lantas memeluk tubuh Gerry erat,ia benar benar merasa disayang oleh suami pertamanya itu
Kini semua itu tinggal kenangan, kenangan manis yang akan membersamainya selama nafasnya masih berhembus. Menikah dengan dua orang lelaki yang sangat berbeda jauh karakternya membuatnya kini memilih menutup hatinya.
Wanita yang dulu dilarang berjualan atau pun bekerja kini malah harus berkutat dengan semua itu
Mentari pagi sudah mulai terlihat, begitupun Dila yang sudah mempersiapkan kue untuk dijualnya nanti...kini ia menggunakan sebuah sepeda untuk mempermudah pekerjaannya
Jalanan yang kemarin dilaluinya kini ditapakinya lagi berharap mereka mereka yang kemarin membeli dagangannya akan menjadi langganan benar saja baru sebentar Dila berteriak teriak menjajakan dagangannya ternyata beberapa dari mereka yang kemarin membeli pun sudah keluar rumah untuk berebut membeli kue buatan Dila
Rasa Syukur ia panjatkan ternyata hari ini ada yang memborong dagangannya sampai habis padahal belum sejam dia keluar berjualan
__ADS_1
Dengan hati gembira Dila pun pulang ke rumahnya membawa pundi pundi rupiah untuk mengisi perut keluarganya esok
"assalamualaikum....."
"waalaikum salam...." jawab bu Rini, wanita yang melahirkan Dila pun segera menghampiri putrinya yang berada di ruang tamu itu.dilihatnya sang putri yang sudah dewasa itu tengah menyandarkan punggungnya di kursi panjang yang berada di ruang tamu tersebut
"kok sudah pulang Dil.... apa kamu sakit" tanya bu Rini lantas mendudukkan tubuhnya di samping Dila
"gak buk.... Alhamdulillah tadi ada yang ngeborong semua kuenya jadi aku bisa pulang cepat,"
"Alhamdulillah....ibu ikut senang nak, besok kita tambahin ya jualannya...."
"ditambahin sedikit saja buk, nanti kalau banyak banyak takutnya gak habis..."
"terserah kamu aja Dil....ibu manut, kamu mau bikin seberapa ibu akan bantuin "
"Bun -da..... kakek jahat...." thalia berlari ke arah Dila, Dila pun dengan segera mendekap tubuh putrinya yang menangis itu
"ada apa pak? Kenapa Lia sampai nangis seperti ini?" tanya Dila dengan tangannya terus mengelus rambut thalia
"tadi pas nganterin albi sekolah, dijalan ada yang jual balon karakter besar dan lia minta dibelikan....tapi uang bapak kurang, sudah tak suruh ambil yang harganya pas sama uangnya bapak mu ini tapi lia gak mau malah nangis kayak gitu"
Dila memejamkan matanya menetralisir rada sesak yang seketika singgah di hatinya. Inilah kesalahannya yang dulu selalu memberikan apapun yang diinginkan oleh putrinya tanpa berpikir esok roda akan berputar.
Dulu dia dan Galang tak pernah menolak apapun permintaan putra dan putrinya karena dulu meskipun Galang tak sepenuhnya memberikan hatinya untuk Dila tapi untuk nafkah dia selalu memberikan lebih untuknya.hingga apapun permintaan anaknya akan dengan mudah ia berikan tanpa takut uangnya akan habis dan kini saat dia tak mampu menuruti kemauan thalia hanya sesal yang ia rasa
diseka nya air mata thalia dengan tangannya lalu berujar "lia sayang besok ya kita beli kalau bunda sudah ada uang.... sekarang uangnya gak cukup, lia kan juga masih punya mainan banyak di rumah"
"tapi....tapi lia pengen itu Bun.... Lia belum punya yang gambar sapi....lia pengen itu Bun"
__ADS_1
"kalau bunda sudah punya uang pasti bunda beliin ya sayang...." Dila lantas mengecup kening thalia yang masih berada di gendongannya itu lalu mengajaknya masuk ke kamar
######
Pagi hari sekali sebelum berangkat ke kantorseperti biasa Galang akan datang ke rumah alika hanya untuk sekedar melihat dan merayu mantan istrinya itu untuk mau menikah dengannya kembali....
Tapi tetap sama respon Alika tak berubah padanya, bahkan ia dengan sengaja tak memberi tahu Galang tentang kepergiannya siang ini. Tak ada yang tau kecuali mala, Dani,bu Lastri dan Dewi
"Al....ku mohon menikahlah denganku, aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan Anaya"
"sudah berapa puluh kali kamu bicara seperti itu mas dan kamu tau jawabanku tetap sama.... tidak akan pernah berubah, aku mohon pergilah mas, ini sudah waktunya jam kerja aku sendiri harus ke restoran siang ini jadi biarkan aku istirahat barang sebentar"
Dan seperti biasa Galang menurut ia lantas mengemudikan kuda besinya menuju kantor sedangkan Alika bersiap untuk perjalanan jauhnya nanti
"lho Dan kamu gak ke kantor..." tanya Alika saat melihat dani masih bersantai di rumahnya bersama Mala
"aku udah enggak kerja di tempat pak Galang mbak, istriku ini meminta aku untuk fokus membesarkan restoran yang kalian bangun...."
"iya Wi.... daripada ikut orang kan mending ngerjain kerjaan sendiri"
Alika pun setuju dengan dani dan Mala,
Siang itu mereka berdua pun mengantarkan Alika sampai di bandara... tangis Alika dan Mala pecah saat keduanya berpelukan sebagai salam perpisahan.mereka berdua tak pernah berpisah jauh... mungkin inilah perpisahan mereka untuk pertama kalinya.
Lama mereka berpelukan lalu Mala menciumi pipi Anaya berulang kali sampai membuat Anaya tak nyaman
"mbok....titip mereka berdua ya, jaga mereka dengan baik...." pesan Mala pada mbok sum yang juga ikut pergi dengan Alika
"iya mbak Mala.... mbak Alika itu bukan sekedar majikan buat saya tapi sudah seperti anak saya sendiri..."
__ADS_1