
Usai dari makam teguh gegas Alika pulang untuk membersihkan diri lalu pergi ke restoran miliknya,
Banyak hal yang mesti diselesaikannya sebelum ia pergi nanti
Alika pergi bersama Anaya putri kecilnya, sedangkan mbok sum masih berbenah di rumah untuk mempersiapkan barang barang yang akan dibawanya esok
Sesampainya di sana Alika pun meminta salah satu pegawainya untuk menjaga Anaya selama ia berkutat di ruangannya bersama Mala
"gendong terus ya sar....kalo nangis cepat bawa kesini tapi tolong ingatkan yang lain jangan dicubit cubit pipinya karena gemas nanti dia rewel....aku sedang sangat sibuk hari ini" ucap Alika kepada sari yang tengah mengendong Anaya yang sedang tertidur lalu segera masuk ke ruangan, disana Mala dan Dewi sudah menunggunya
" siang Wi..... udah ke makam kak Teguh?" Tanya Mala saat Alika sudah menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yang berseberangan dengannya
"eh tunggu ... itu pipimu kenapa merah gitu," Mala segera bangkit dari duduknya lalu mendekati raga Alika dan segera menyentuh pipi sahabatnya tersebut
"ah..." Alika meringis menahan sakit saat Mala menyentuh pipinya
"siapa yang udah ngelakuin ini Wi...." mata Mala tak lepas menatap tajam wajah Alika
"udah lah mal gak usah di bahas... masih banyak hal penting yang harus kita lakukan daripada memikirkan siapa yang sudah nampar aku"
"Wi.... siapa?"
"giany...." terpaksa Alika menjawab karena mala tidak akan berhenti bertanya sebelum tanyanya terjawab
"astaghfirullah.... gak kakak gak adek sama gak waras nya...aku rasa memang keputusanmu sudah benar Wi....aku dukung kamu!!" ucap Mala bersungguh-sungguh lalu memeluk tubuh Alika dengan sangat hangat
Hari itu Alika dan Mala membicarakan tentang kelangsungan restorannya, restoran sudah dibagi bagi bertiga dulu sewaktu teguh masih hidup.
Sekarang Dewi yang diberi Alika amanah untuk menjalankan tugas mengurus restoran miliknya dan teguh dibantu Mala dan Dani. Bahkan Alika memberikan sebuah cabang restoran miliknya untuk Dani...selain karena merasa tak mampu terlalu banyak menghandle pekerjaannya juga karena bentuk terimakasihnya karena mau ikut direpotkan mengurus restoran milik Alika dan Teguh
rencananya setiap sekali dalam sebulan Alika akan datang untuk mengecek perkembangan restoran miliknya itu....
Anaya sesekali rewel saat bersama sari tak elak Alika pun merasa bersalah karena membawa putrinya bekerja
__ADS_1
"Dewi... pesan saya siapapun yang bertanya saya dimana jangan pernah beritahu, meskipun itu para pegawai kita sendiri.... mengerti kan "
"iya mbak.... mbak Alika beneran mempercayai saya untuk menjadi manajer di sini?"
"saya percaya sama kamu Dewi... lagian kamu juga sudah lama kan ikut saya," Dewi mengangguk dengan senyum terukir di bibirnya "saya hanya minta tolong yang amanah ya .... karena kepercayaan itu sangat mahal harganya" ucap Alika seraya menggendong Anaya yang kini menyusu dengannya
Hari beranjak sore tapi Alika masih belum beranjak dari restoran miliknya itu, ia kini tengah menunggu Dani karena tadi suami mala itu mendadak meminta bertemu dengannya
Tok...tok...tok
Pintu ruang kerja Alika diketuk oleh Dani
"assalamualaikum...."
"waalaikum salam.... sudah sampai Dan... mari masuk..."
"maaf mbak saya kesini tidak sendirian, saya bersama seseorang...." ucap Dani
"siapa Dan.... jangan bilang kalau kamu bawa...."
"bukan mbak.... bukan pak Galang, ini salah satu orang kepercayaan pak Hendra...."
"memangnya ada perlu apa Dan orang kepercayaan papa menemui ku...."
"nanti dijelaskan kok mbak... sekarang kita ketemu dia ya, dia sudah menunggu di depan... saya juga sudah pesankan makanan dan minuman untuknya..."
Alika pun mengikuti dani, terlihat olehnya seseorang pria paruh baya mengunakan kemeja berwarna biru navy tengah makan dengan lahapnya seperti seorang yang tengah kelaparan...
Mata Alika menyipit melihat pemandangan itu, seseorang yang katanya orang kepercayaan mantan mertuanya itu seperti orang yang tidak makan seminggu
Ada tiga buah piring bekas makanan juga kini beliau sedang menikmati seporsi nasi goreng spesial dengan porsi yang cukup besar
"eh...mas Dani maaf tadi saya pesan empat porsi nasi goreng spesial, enak sekali mas.... maaf saya habiskan sendiri.... enak sekali mas " ucap pria itu usai menghabiskan seluruh makanannya
__ADS_1
Dani dan alika pun akhirnya duduk berhadapan dengan pria tersebut.tetapi pandangan Alika tak teralihkan oleh pria tersebut dalam hatinya dia membatin "bertemu dimana papa dengan orang super ajaib ini"
"mbak Alika gak usah kaget pak Heru ini memang punya nafsu makan yang tinggi.... tapi orangnya insyaallah amanah kok"
"perkenalkan mbak saya Heru salah satu orang kepercayaan pak Hendra" pak Heru mengarahkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Alika, Alika dengan sopan pun membalas jabatan tangan pak Heru
"sebenarnya saya sudah sejak lama ingin bertemu dengan mbak Alika tapi waktu itu pas saya mau menemui mbak Alika ternyata Mbak Alika sedang dalam keadaan berduka jadi saya urungkan... dan kemarin saya dihubungi oleh mas Dani bilang kalau mau ketemu mbak Alika mending sekarang saja...."
"memangnya ada perlu apa ya pak..."
"sebelumnya saya ucapkan turut berdukacita atas meninggalnya suami mbak Alika...." Alika mengangguk tanda mengerti, lalu setelahnya pak Heru mengambil sebuah map berwarna coklat tua dari dalam tas kerjanya lalu diserahkan ke Alika
"apa ini pak...." tanya Alika saat menerima map tersebut
"itu adalah tabungan dari total rumah, apartemen milik mbak Alika yang sudah dijual mbak... dan juga ada laba dari salah satu perusahaan yang mbak dapat setelah bercerai dengan pak Galang waktu itu, semuanya sudah saya kumpulkan di situ "
"tapi saya sudah mengembalikan semuanya ke papa waktu itu lalu kenapa sekarang dikembalikan lagi ke saya pak?"
"mbak bisa tanyakan sendiri ke pak Hendra mbak... yang jelas beliau sudah berpesan agar mbak Alika mau menerimanya, karena itu memang hak mbak Alika.... tolong di terima ya mbak..."
"diterima aja mbak.... kalau mbak balikin lagi ke pak Heru nanti kasian pak Heru nya dimarahin bos, iya kalau cuma dimarahin kalo dipecat gimana mbak Alika apa gak kasian?" Dani yang sedari tadi diam pun kini ikut bersuara
"tapi Dan...ini jumlahnya gak main main lho...." ucap Alika setelah melihat nominal uang di dalam buku tabungan tersebut
"mungkin rejekinya mbak Alika dan Anaya....setau saya itu semua juga gak ada campur tangan pak Galang mbak, benarkan pak Heru...."
"benar mbak.... itu semua saya yang mengurus atas perintah pak Hendra, tolong diterima ya mbak biar tidak mempersulit saya.... karena pak Hendra sudah wanti wanti saya kalau bagaimanapun caranya saya harus bisa membuat mbak Alika menerimanya atau saya nanti yang akan di pecat "
Alika menoleh ke arah Dani dan Dani pun mengangguk agar Alika mau menerimanya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai guys mampir yuk ke novel ku yang baru "penantian Larasati"
__ADS_1