
Saat Muthia sampai di yayasan, terlihat mobil Amir sudah terparkir rapi di halaman yayasan yang di dominasi warna dengan warna coklat dan kuning gading, paduan warna kesukaan Aswin.
Yayasan yatim piatu yang terdiri dari dua lantai, dengan anak asuh yang belum begitu banyak. Ada sekitar lima puluh tujuh anak binaan yayasan AZ Zahra milik Muthia. Anak anak yang tidak beruntung, yatim piatu atau bahkan emang karena keadaan orang tuanya yang memang benar-benar tidak mampu.
Muthia memperkerjakan ada lima karyawan wanita dan dua satpam di yayasan miliknya.
Amir adalah salah satu donatur tetap dan ikut menjadi salah satu pengurus di yayasan tersebut, Amir akan datang seminggu sekali disana.
Muthia berjalan dengan gamis hitamnya yang menjuntai, anggun dan terlihat sangat cantik, pasti saat ada mata laki laki yang melihatnya akan tertarik dan jatuh hati. Muthia memang memiliki pesona dengan segala kelebihan yang dia miliki, selain cantik, Muthia juga perempuan cerdas yang memilki hati yang begitu indah, lembut dan ramah pada siapa saja.
Amir menatap tanpa kedip di balik jendela disalah satu ruangan. Hatinya kembali merasakan nyeri. Cinta yang selama ini masih dia jaga, tak lagi bisa terucap, nyatanya, dia sudah bahagia dengan laki laki pilihannya, dia terlihat begitu nyaman berada dalam lingkaran pernikahan poligami. Lalu, adakah kesempatan untuk Amir meskipun hanya sebentar saja, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, hanya bisa menatap tanpa boleh mengagumi, hanya bisa menyimpan rindunya dalam sunyi di balik senyum yang harus terukir, yang nyatanya hati begitu perih karena cinta yang tak kunjung bersambut.
Muthia yang tidak menyadari dirinya diperhatikan penuh kagum oleh laki laki di balik jendela, terus melangkah dengan senyuman ramah pada semua orang yang dijumpai, dengan menggandeng Yusuf di tangan kanannya.
"Bunda, Yusuf mau main sama kakak kakak di sini boleh?" pinta Yusuf manja dan di sambut senyuman gemas oleh Muthia.
"Boleh, tapi tidak boleh nakal ya! jangan ganggu kakaknya yang masih belajar ngaji, mainnya sama kakak yang sudah selesai belajarnya. Oke ganteng?" balas Muthia lembut pada anak lelakinya yang akan menjadi kakak sebentar lagi.
"Mbok, tolong temani Yusuf ya, minta tolong awasi dia, jangan sampai mengganggu anak anak yang sedang belajar." sambung Muthia yang mengalihkan tatapannya pada mbok Narti yang langsung mengangguk patuh dengan apa yang di katakan majikannya itu.
Setelah Yusuf dan mbok Narti hilang dari pandangan. Muthia kembali melanjutkan langkah masuk kedalam ruangannya dan berniat akan mengecek semua laporan yang masuk lewat email.
"Asalamualaikum, Bu. Ini saya Sarah!" suara salah satu karyawan yang dipilih Muthia, Sarah bekerja sebagai admin yang dipilih langsung oleh Muthia, karena Sarah adalah adik dari temannya yang sudah dikenal baik.
"Masuk saja, Sarah." balas Muthia sedikit mengeraskan suaranya, sambil tangannya terus mengusap tombol tombol di laptopnya.
Sarah melaporkan semua pemasukan dan pengeluaran selama satu Minggu dan menyodorkan berkas berkas laporan tersebut untuk di periksa Muthia.
"Maaf, Bu. Tadi ada pak Amir, beliau menunggu Bu Muthia, Tapi sekarang masih mengajar anak anak yang hafalan surat surat pendek di kelas." sambung Sarah sopan.
"Oh ya, yasudah, biar nanti saya temuin pak Amir, setelah menyelesaikan ini. Makasih ya, bilang saja kalau beliau sudah selesai dari kelas, untuk menunggu di ruang tamu ya." balas Muthia.
"Baik, Bu! saya permisi."
__ADS_1
"Iya, silahkan. Makasih ya!" balas Muthia tegas namun tetap dengan wajah ramahnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Muthia keluar dari ruangannya dan menuju ruang tamu yang memang di khususkan untuk menerima tamu tamu yang ingin berkunjunglah Ng di yayasan ini.
Terlihat Amir sudah menunggunya disana.
"Maaf ya mas, sudah lama nunggunya?" sapa Muthia saat sudah berada dekat dengan Amir yang sedang memainkan ponselnya.
"Gak juga, tadi nemenin anak anak di kelas dulu, apa aku mengganggu waktunya Bu direktur?" sahut Amir membuat Muthia tersipu dan salah tingkah.
"Eh, apa? bukan!" sahut Muthia kaku, bingung harus menjawab apa.
"Kata Sarah, mas Amir ingin bicara sama saya, ada apa?" sambung Muthia berusaha bersikap tenang. Karena bagaimanapun Amir pernah hadir di masa lalunya.
"Iya, ingin ketemu saja. Dan mau menyerahkan ini." Amir menyodorkan amplop coklat yang agak tebal, pada Muthia.
"Apa ini Mas?" Balas Muthia bingung.
untuk dana, Insyaallah, aku akan bantu dan Carikan donatur, agar rencana ini bisa segera terealisasi. Kamu bisa bicara sama suami kamu untuk membuat desain sekolahan buat SD juga SMP tapi berbasis Islam ." Jelas Amir panjang lebar, dan membuat Muthia terpana, jujur dalam hatinya, Muthia menyimpan kagum akan singkat dermawan yang Amir miliki di balik wajah tegas dan dinginnya.
"Kamu serius, Mas?" pekik Muthia masih belum percaya, dengan apa yang di dengarnya. Haru juga bahagia, tak sadar air matanya tiba tiba lolos dari kedua matanya yang bening. Sangking terharunya.
"Insyaallah serius, Aku sudah merencanakan ini jauh jauh hari, tapi belum bisa mewujudkannya. Dan Insyaallah dengan kamu membangun yayasan, rencana yang sudah lama terpendam segera terealisasi, semoga. Aamiin."
'Roda waktu kehidupan terus berputar
Melaju ke depan tanpa rasa gentar
Kita pun kian terbawa dan tiada kan pernah bisa menghindar..
Menghadapi serangan problematika kehidupan yang begitu gencar..
Hidup ini kadang begitu susah
__ADS_1
Disaat rencana indah terhentikan oleh suatu masalah...
Dada pun terasa sesak, seakan tercekik rasa resah...
Hati pun merintih di jiwa yang lelah..
Walau perih hidup ini harus dijalani
Tetap berencana, berusaha dan perbaiki diri...
Selebihnya, biarkan Tuhan yang tentukan sisa takdir ini..
Jalani sebaik-baiknya terimalah hasilnya nanti...
Hari pun terasa panjang disaat masalah datang..
Indahnya dunia seakan redup,
bagai bayang-bayang..
Langkah kaki pun begitu terasa melayang...
Dikala semangat hidup seakan mulai menghilang...
Kaulah Penyemangat ku, meskipun aku tidak lagi punya kesempatan, tapi setidaknya raga ini masih bisa mendekat biarpun sejengkal.
Mata ini masih bisa menatap, sekalipun hanya sekedar melihat.
Cukup hatiku saja yang menahan perih, akibat rasa yang tak pernah terbalas.
Namun melihatnya hidup bahagia, sudah membuatku sedikit ikut merasa bahagia, karena dia sudah berada ditangan lelaki yang tepat.'
Amir sibuk dengan pikirannya, tanpa mendengar sedari tadi Rihana memanggil manggil namanya. Pikiran yang sudah berkelana tak lagi mendengar suara siapapun, selain suaranya hatinya sendiri.
__ADS_1