Wanita Kedua

Wanita Kedua
W.K 41 Aswin kecewa


__ADS_3

Muthia terdiam, pikirannya kacau apa lagi hatinya. Wanita yang sudah di anggap baik dan berubah ternyata masih menyimpan dendam dengan segala rencana jahatnya untuk menyingkirkan dirinya dengan begitu licik.


Muthia membenarkan ucapan Amir, dia harus bisa tegas dan berani melawan, tidak lagi ada kata sungkan , karena itu akan membuat dirinya semakin di perlakukan buruk oleh Sandra. Sudah saatnya Muthia bersikap tega dan melindungi dirinya dari semua rencana jahatnya Sandra.


"Aku tidak lagi ingin diam, teh Sandra sudah sangat keterlaluan. Kita akan lihat siapa yang akan bertahan di pernikahan ini, jika caramu seperti ini, aku pun juga akan melindungi pernikahanku dengan caraku, jangan salahkan aku, karena teteh yang mulai duluan." Muthia bicara di dalam hatinya bersama rasa kecewa yang dalam dengan tak ingin lagi diam dengan segala tingkah Sandra yang semakin keterlaluan.


Amir berpamitan untuk kembali ke yayasan, tapi sebelum dia pergi, Amir ingin menghampiri tukang bakso yang jadi mata mata Sandra.


"Baksonya pak! Amir pura pura membeli bakso dan di ikuti oleh Alek di belakangnya.


"Baik pak, mau berapa ribu?" Tukang bakso membalas sedikit gugup. Sepertinya dia menyadari siapa Amir, karena posturnya yang tinggi tegap khas seorang tentara begitu kentara, ditambah dengan wajahnya yang tegas.


"Bapak sejak kapan jualan disini? Setahuku gak pernah ada, setiap saya lewat sini."


Alek ikut menimpali dengan gaya cueknya.


"Seporsinya berapa, kasih saja harga biasanya. Tapi yakin baksonya aman kan?" kembali Amir mengeluarkan suara baritonnya dengan tatapan menusuk di arahkan pada tukang bakso yang langsung kelihatan salah tingkah.


"Iya, saya memang baru jualan beberapa hari disini, karena baru kena PHK dan gak tau harus kerja apa, ya akhirnya jualan bakso ini." sahut tukang bakso dengan suaranya yang berubah gugup.


"Tapi meskipun jualan bakso, bayarannya gede kan pak? apa lagi bos nya perempuan cantik. Benar begitu?" balas Amir penuh dengan penekanan dan semakin membuat tukang bakso gemetaran tak tenang.


"Sudah pak, tenang! Gak usah grogi kayak gitu. Kita bukan penjahat kok, cuma gak ingin ada orang jahat saja.


Jangan gemetaran, nanti kuahnya tumpah kena tangan bapak, sakit loh!" tegas Alek dengan menepuk bahu tukang bakso.


"Maaf, saya tidak tau apa apa, saya cuma disuruh mengawasi saja, tidak ngapain ngapain. Sumpah pak, tolong jangan tangkap saya. Saya cuma lagi butuh uang dan mereka membayar saya dan dikasih modal buat jualan bakso di sini. Demi Alloh, saya cuma diminta buat mengawasi dan memberikan informasi apapun yang ada dirumah seberang sana." Tukang bakso berkata jujur dan dengan wajah pucat sangking takutnya.

__ADS_1


Amir dan Alek saling berpandangan. Amir pun mendekat dan meminta tukang bakso untuk menyampaikan pesannya kepada Sandra.


"Baiklah, saya akan melepaskan bapak, tapi bantu saya untuk menyampaikan pesan kepada orang yang menyuruh bapak." Amir bicara tegas dan dengan menatap lekat pada tukang bakso yang masih ketakutan.


"Baik pak, saya akan sampaikan, nanti setiap habis magrib akan ada orang suruhan Bu Sandra yang kemari dan ikut mengawasi rumah itu. Dia susternya Bu Sandra yang jadi orang kepercayaan nya saat ini." balas tukang bakso jujur tanpa ada yang ia tutupi, dan membuat Amir tersenyum tipis.


"Baiklah, kalau begitu nanti kamu temui dia dan kasih Vidio ini pada perempuan itu. Aku percayakan ini sama kamu, lakukan yang terbaik. Tau kan kamu harus apa?" Amir beralih menatap pada Alek yang berdiri tegak dihadapannya.


"Siap, laksanakan!" sahut Alek tegas. Lantas Amir memilih pergi dan kembali menuju ke yayasan.


Pun dengan Alek yang juga kembali berjaga di rumahnya Muthia.


Namun sebelumnya, Alek memberi peringatan pada tukang bakso agar tidak macam macam.


"Jangan macam macam, dan saya akan kembali lagi nanti habis magrib, menemui perempuan itu. Jangan bilang apapun sebelum saya datang."


"Pak ini kebanyakan, kembaliannya!" Tukang bakso meneriaki Alek yang terus memilih berlalu dan hanya menoleh dan melambaikan tangannya.


"Alhamdulillah, ternyata masih ada orang yang berhati baik." gumam tukang bakso terharu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di dalam sana, dirumah minimalis tempat Muthia tinggal. Muthia sedang meratapi nasibnya. Masih belum percaya dengan apa yang dilakukan Sandra padanya.


"Aku akan memberitahu kang Aswin. Karena ini sudah mengarah di perbuatan kriminal. Maafkan aku teh, aku tidak mungkin diam saja dengan sikapmu ini." Muthia memantapkan hatinya untuk membicarakan semuanya kepada Aswin. Bagaimanpun Aswin berhak tau karena dia pemimpin dalam rumah tangga yang mereka jalani.


Muthia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja riasnya. Dan mencari nomor suaminya lalu dengan bismillah menelpon sang suami dengan suara bergetar, mati matian menahan tangis agar tak terdengar suaminya.

__ADS_1


"Hallo Asalamualaikum, Ayah lagi apa? masih sibuk gak?" Muthia mengawali obrolan dengan Aswin, memastikan suaminya tidak sedang sibuk.


"Waalaikumsallm, ada apa sayang, tumben, kenapa?" sahut Aswin lembut sambil menyenderkan tubuhnya di punggung kursi yang ada di kamar hotel tempatnya menginap.


"Ayah masih kerja atau sedang apa?" kembali Muthia ingin memastikan suaminya sedang tidak bekerja, karena tidak mau mengganggu kesibukan Aswin.


"Ayah sudah di hotel, ini lagi istirahat. Ada apa?" sahut Aswin merasa tidak enak perasaan nya, karena tidak biasanya Muthia menelpon dengan nada formal.


"Bunda sudah tau siapa yang ingin berbuat jahat sama bunda. Tadi Mas Amir datang kerumah dengan bukti bukti yang ia kumpulkan." Muthia menggigit bibirnya cemas, takut Aswin akan sangat marah dan berbuat hal diluar batas.


"Oh iya? Alhamdulillah. Siapa katanya?" sahut Aswin antusias dan sangat penasaran.


"Teh Sandra." singkat dan tak lagi mampu meneruskan kata kata, Muthia membekap mulutnya menahan tangis seiring sesak di dadanya.


"Astagfirullah, yang benar sayang?


Oh Alloh, belum juga dia berubah. Apa maunya?" sahut Aswin kecewa di ujung sana.


"Bunda minta, ayah jangan gegabah dan jangan dulu emosi. Kita akan bicarakan ini baik baik dulu. Kita cari solusinya." Muthia berusaha meredam amarah suaminya. Karena Muthia sangat hafal seperti apa kalau Aswin sudah marah. Marahnya orang sabar akan sangat mengerikan.


"Baiklah malam ini juga ayah akan pulang, ini sudah keterlaluan. Kamu baik baik disana, jaga Yusuf dan calon anak kita. Ayah mandi dulu dan siap siap pulang. Asalamualaikum."


Aswin menutup telponnya tanpa menunggu jawaban salam dari Muthia. Emosi dan kecewa sudah terlanjur hadir dalam diri Aswin. Sudah berapa kali Aswin memaafkan kesalahan Sandra. Namun tak juga Sandra belajar dari kesalahan , keserakahan sudah menguasai nafsu dunianya. Dan kali ini Aswin benar benar kecewa dengan apa yang di lakukan Sandra.



__ADS_1


__ADS_2