Wanita Kedua

Wanita Kedua
Viana


__ADS_3

Aku melangkahkan kaki memasuki restoran yang berada di kawasan Siantar Hotel. Melayangkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, lalu bergerak menuju meja yang sudah diisi oleh tiga orang pria, dua diantaranya lebih tua dariku Dan seorang lagi tampak seusia denganku.



"Maaf, saya terlambat." Aku berucap sambil menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.



"Tidak masalah, Pak Ryan. Kami juga baru saja sampai di sini." Salah seorang dari ketiga lelaki paruh baya itu menyahut ucapanku. Pria yang mengenakan setelan jas abu-abu itu tersenyum simpatik.



Aku mengangguk dengan sikap tegas yang menjadi ciri khasku. "Baiklah, kalau begitu. Kita bisa memulai pembicaraan kita."



Pria berpakaian kemeja berwarna hitam tertawa kecil. "Anda memang seorang CEO yang disiplin, Pak Ryan. Tidak diragukan lagi, kalau Pratama Company semakin maju ketika sampai di tanganmu."



Aku hanya tersenyum simpul menanggapi basa-basi yang unfaedah itu.  "Terima kasih atas pujianmu, Pak Jhonatan."



Pria yang bernama lengkap Jhonatan Taxco Rathore itu hanya mengangguk-angguk sambil terkekeh.



"Baiklah, mari kita bahas persoalannya." Aku memperbaiki posisi duduk dan merapikan dasi.



Pertemuan ini dilakukan memang untuk membahas masalah kerja sama perusahaan kami. Ditambah lagi investor yang berasal dari kota Jakarta itu juga akan menginvestasikan sama pada proyek pembangunan jalan tol yang akan dilaksanakan pada tahun depan.



Empat puluh menit sudah berlalu dan aku menutup pembicaraan. Entah kenapa, dari dulu hingga sekarang aku tidak begitu menyukai pertemuan yang diadakan di restoran.



Bukan karena apa-apa. Aku yang penggila makanan ini sedikit terganggu dengan aroma makanan yang menguar di seluruh penjuru ruangan restoran. Tentu saja itu mengganggu zona fokusku.



Tapi untung saja pembicaraan kami sudah selesai. Dan aku bisa segera mengunyah sesuatu.



Tanganku melambai ke arah seorang pramusaji yang mengenakan seragam berwarna merah hati.



"Anda ingin memesan apa,  Pak Jhonatan?" Aku bertanya pada Jhonatan setelah pramusaji itu mendekati kami.



Jhonatan tampak berpikir sebentar lalu berucap, "kupikir seporsi lasagna cukup mengganjal perutku untuk saat ini. Bagaimana pun juga aku tetap lebih menyukai masakan istriku. Itu sebabnya aku tidak ingin menbuat perutku menampung banyak makanan. Aku ingin memakan masakan Lolita setelah pertemuan kita ini."



Aku dan dua orang lagi yang bergabung dengannya di meja ini tertawa kecil.



Ucapannya benar. Ah, andai saja aku bisa mengatakan hal serupa. Hanya saja, wanitaku di rumah tidak begitu piawai memegang spatula dan kuali. Itu sebabnya kebutuhan makan kami diatur oleh pembantu. Tapi perkara memgurus taman, jangan tanya bagaimana isteriku. Dia bisa berjam-jam menghabiskan waktu di taman dan mengabaikan aku yang terkadang ingin berbasah-basahan dengannya di kolam renang.



Aku menggelengkan kepala dan kembali fokus dengan ketiga pria di hadapanku.



"Bagaimana dengan anda, Pak Zain?" Aku menoleh pada pria yang tampak seumuran denganku.



Pria yang kusebut Pak Zain itu menggeleng pelan. "Maaf, mungkin aku tidak akan ikut menikmati makan malam bersama kalian. Jika memang pertemuan ini sudah selesai, aku mohon undur diri. Karena ada kesibukan lain yang sedang menantiku."



Jhonatan mengangguk-angguk. "Sangat disayangkan. Kalau memang begitu Anda boleh pergi lebih dulu."



"Katakan pada Mamamu, Zain, kalau aku akan pulang setelah makan malam ini selesai," ucap pria paruh baya berjas abu-abu yang merupakan orang tua dari Zain Ramadani.



Zain hanya mengangguk. Setelah mengucapkan kata permisi dengan nada formal, pria itu berlalu.



"Wanita memang sulit ditebak." Jhonatan membuka pembicaraan setelah kami selesai memesan makanan pada pramusaji yang cekatan menulis pesanan di dalam sebuah buku catatan kecil yang selalu dibawanya.



"Kenapa Anda mengatakan demikian?" Aku bertanya dengan rasa penasaran. Topik pembicaraan bertema Wanita memang cukup menarik minatku. Apalagi kin i aku sedang menghadapi wanita dengan tingkat sensitif paling tinggi.



Jhonatan melonggarkan simpul dasinya sebelum menjawab. "Bila kita memberi kabar tentang kegiatan yang kita lakukan pada mereka, mereka akan menjawab seolah semua itu tidak penting. Tapi apa bila kita tidak memberikan kabar, ugh, mereka akan langsung mencecar kita dan berpegang pada pendapatnya sendiri tanpa mau mendengarkan ucapan kita."



Aku mengangguk membenarkan. Begitu juga dengan Arman Budiman, ayah dari Zain Ramadani.



"Anda benar, Pak Jhonatan. Istriku juga terkadang sering marah tanpa alasan yang jelas. Aku sering merasa bingung memikirkan dan menelaah, kesalahan apa yang sudah kuperbuat sehingga dia bisa marah seperti itu. Tapi aku tidak pernah menemukan kesalahanku." Aku mencoba mengeluarkan cerita kehidupanku. Berbagi masalah untuk mendapatkan solusi tak masalah, kan?



"Wanita memang seperti itu." Pak Arman ikut menimpali.


__ADS_1


"Aku terkadang tidak mengerti dengan sikap wanita." Aku menerawang. Memikirkan sikap Riani belakangan ini.



"Mungkin Anda terlalu sibuk mencari kesalahan dalam diri Anda, Tuan."



Suara seorang wanita membuatku menoleh ke arah meja yang berada di sebelah kiri tempat kami duduk. Terlihat seorang wanita dengan gaun merah cerah, rambut gelombang yang panjang dan hitam sangat serasi dengan wajahnya. Leher jenjangnya yang putih mengundang siapa saja untuk membenamkan wajah di sana untuk menghirup aroma tubuhnya.



"Maaf. Anda sedang berbicara pada saya?" dengan wajah yang kuyakin seperti orang bodoh aku menunjuk diriku sendiri. Pak Arman dan Jhonatan hanya tersenyum melihat interaksiku  dengan wanita yang tidak kami  kenal itu.



"Tentu saja, Tuan. Memangnya aku berbicara dengan siapa lagi? Orang yang terdekat dengan mejaku adalah dirimu." Wanita itu tersenyum sangat manis. Bibir sensualnya membuat perhatianku sedikit beralih ke sana meski hanya sebentar. Karena aku langsung mengalihkan pandangan pada wajah manis yang masih saja tersenyum itu.



Wanita itu lalu beranjak dari kursi yang didudukinya. Tampaknya dia hanya menikmati makan malamnya dengan sendirian. Setelah dia sampai di dekatku, diulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.



"Viana. Anda bisa memanggilku dengan panggilan Ann, atau Ana."


Aku menyambut uluran tangan itu dengan setengah hati. Apa-apaan perempuan ini,rutukku dalam hati. Siapa yang ingin berkenalan dengannya? Ryan Pratama," sahutku mau tak mau.



perempuan bernama Viana itu tersenyum lalu menarik tangannya kembali dan mengulurkannya pada Pak Arman dan Jhonatan.



"Maafkan aku bila aku ikut mencampuri perbincangan kalian. Aku hanya sedikit tidak setuju dengan pendapat kalian tentang wanita. Karena aku juga seorang wanita." Perempuan itu tersenyum kembali.



"Kalau begitu Anda bisa menjelaskan pada kami tentang wanita, Nona Viana. Agar kami bisa lebih mengerti tentang istri kami." Jhonatan yang senang berbicara mengajak perempuan itu duduk di sebelahnya.



"Tolong, panggil saja aku Ana," ucap Ana setelah ia duduk di kursi yang ditarik oleh Jhonatan. "Pendapat kalian tentang kami kaum hawa sangat salah. Karena kalian disibukkan mencari kesalahan dalam diri kalian. Tapi kalian sama sekali tidak mencoba mencari kesalahan dalam hati istri kalian. Apa yang kurang dan mengganjal di dalam hati mereka, mungkin kalian tidak pernah tahu."



Jhonatan dan Arman mengangguk-angguk. Sementara aku hanya diam tapi tetap berusaha menyimak ucapan Ana. Ada bagusnya juga mendengar hal seperti ini.



"Jadi maksud Anda, bahwa kami kurang memperhatikan isi hati istri kami, begitu?" Arman bertanya sambil menyesap anggur putih di cawan yang sedang dipegangnya.



Ana mengangguk dengan antusias. "Tepat sekali, Tuan. Anda orang yang sangat bijak ternyata."



Arman terkekeh senang mendengar pujian Anne padanya. Membuatku tersenyum miring. Sadar umur, Pak'e.




"Baiklah, Tuan dan Nona. Sebaiknya kita sudahi pembicaraan kita. Kita bisa menyambungnya di lain waktu." Aku lalu beranjak dari kursi, begitu juga dengan Arman dan Jhonatan. Kecuali Ana.



"Apa Anda ingin diantarkan, Nona Ana?" Jhonatan bertanya pada Ana yang masih tenang menyesap minumannya.



Ana hanya menggeleng dengan gerakan manis. Tangan kirinya menggenggam erat sebuah benda dan menyembunyikannya di dalam lipatan tangan.



Dahiku berkerut melihat tingkah perempuan ini.



"Terima kasih, Tuan Jhonatan. Tapi aku membawa kendaraan sendiri."



"Baiklah kalau begitu. Kami pergi lebih dulu. Sampai jumpa lagi, Nona Ana. Pertemuan selanjutnya kita akan membahas soal wanita lagi." Arman mengerlingkan matanya pada Ana.



Perempuan itu tertawa dengan manis, menampakkan sederet giginya yang putih.



Aku segera berlalu dari hadapan wanita itu dengan hanya sedikit mengangguk yang dibalas anggukan oleh Anne.



Setelah kami bertiga, para pria eksekutif ini menjauh dan hampir mencapai pintu keluar, telingaku menangkap suara seseorang yang bergerak cepat di belakang kami.



"TUAN Ryan!" panggil seorang perempuan dengan suara sedikit keras. Mengundang pengunjung restoran untuk menoleh ke arahnya.



Mendengar seseorang menyebut namaku, aku segera menoleh dan mendapati Ana yang berjalan tergesa-gesa dengan susah payah karena memakai sepatu high heels..



"Ada apa, Nona Ana?" tanyaku dengan nada datar dan wajah yang menurutku juga pasti datar.



Ana menunjukkan saputangan yang di genggaman tangan kirinya. "Aku berpikir kalau ini mungkin saputangan Anda, Tuan."


__ADS_1


Aku mengalihkan tatapanku pada saputangan putih yang digenggam Ana. Mataku membenarkan ucapan wanita itu. "Anda benar. Ini adalah saputangan milikku."



Ana tersenyum senang. "Hampir saja Anda kehilangannya."



Jhonatan dan Arman yang masih berdiri di sampingku mengangguk membenarkan.



"Kehilangan saputangan ini tidak menjadi masalah buatku, Nona Ana" Aku tersenyum miring. Perempuan ini, modusnya kebangetan.



Ana hanya terkekeh dan menggeleng. "Bagiku saputangan ini sangat disayangkan bila sampai hilang. Karena aku tahu, harga saputangan ini lebih mahal dari jumlah penghasilanku selama sebulan. Tentu untuk orang sepertiku benda semahal ini akan menjadi benda yang sangat berharga."



Aku sedikit melongo mendengar ucapan Ana. Sedetik kemudian aku tersadar dengan tingkahku yang tidak pada tempatnya. "Kalau begitu, terima kasih atas kesediaan Anda mengantar benda ini pada saya."



Ana tersenyum manis sekali. Senyumnya tak hanya membuat aku terpesona, tapi juga menghipnotis kedua pria yang sudah berumur di sampingku ini.



"Anda bisa berterima kasih padanya dengan cara mengajaknya makan siang, Pak Ryan," ucap Jhonatan sambil terkekeh.



Ucapan Jhonatan yang sepertinya tidak menggunakan akal sehat itu membuatku melotot tidak setuju. Hal itu membuat Jhonatan dan Arman tertawa lebar.



"Aku tidak ingin tawaran makan siang darimu, Tuan Ryan. Tapi aku menginginkan satu hal." Ana melangkah mendekatiku.



Mendengar ucapan Ana aku segera menoleh ke arahnya dengan wajah heran. "Apa?" tanyaku dengan nada datar.



Ana ******** senyum dan berucap, "aku ingin meminta kartu namamu."



Aku kembali melotot, tapi kali ini pelototanku mengarah pada Ana. Dasar perempuan muka tembok, pikirku.



Lalu kurasakan bahuku disenggol seseorang.Ternyata itu adalah ulah Arman.



"Berikan saja. Hanya sebuah kartu nama yang dia inginkan." Arman mengeluarkan senyum evilnya.



Kutarik nafas dengan berat. Terasa sedikit ada ganjalan dalam hatiku bila aku harus memberikan kartu namaku pada Ana, wanita yang baru kukenal sejam yang lalu.



Bukan berpikiran buruk, tapi aku takut hal ini mengundang kesalahpahaman. Ada perasaan ingin menolak keinginan Ana.



Tapi karena melihat kedua kolegaku yang kini sedang menatapku dengan mata menggoda, timbul sedikit keraguan untuk menolak keinginan Ana. Aku tidak ingin dikatakan sombong.



Maka dengan gerakan tangan yang sedikit berat, kartu nama yang diinginkan perempuan itu kukeluarkan dari dalam saku lalu berlalu tanpa berbicara apa-apa lagi.



Melihat kelakuanku yang terlihat sangat enggan itu, Jhonatan tertawa keras. "Ternyata seorang Ryan Pratama sedikit enggan berurusan dengan wanita lain."



"Aku hanya tidak ingin menimbulkan masalah." Aku menjawab  dengan singkat.



Setelah itu kami melangkah menuju mobil masing-masing dan saling melambaikan



Dari jauh tepatnya dari dalamtadi mobil aku melihat sosok Ana yang terkekeh dan menatap kartu nama yang ada di dalam genggamannya. Dia mengecup kartu nama itu dengan gembira lalu melangkahkan kaki keluar dari kawasan Siantar Hotel tersebut sambil melambai dengan manja ke arahku.



Jantungku berdetak lebih cepat. Sialan perempuan itu. Kalau bukan karena ucapan Jhonatan tadi, tak sudi aku memberi kartu nama padanya.



Lihat saja kelakuannya. Kalau saja ada Riani, bisa kupastikan kalau saat ini kami sedang berdebat. Mengingat wanitaku itu aku mendesah lirih. Ingon segera bertemu dengannya. Dia pasti sedang kesepian.



Baru saja mobilku keluar dari pelataran parkir Siantar Hotel, sebuah panggilan masuk ke ponselku.



Kutatap layar benda kebutuhan primer itu dan melihat nama kontak yang menghubungiku.



Dia ....



..........


__ADS_1



__ADS_2