
Hari berlalu tanpa mampu kita tahan seiring dengan terbit dan terbenamnya matahari di ufuk senja.
Hari kemarin akan menjadi kenangan dan juga memberikan kita pengajaran hidup yang harus kita lalui esok
Hari ini tepat empat puluh hari semenjak kematian teguh, berbagai seorang yang beragama dan juga adat tempat ia bernaung maka malam ini diadakan acara pengajian empat puluh harian mengenang kematian teguh
Sebanyak tiga puluh orang anak panti yang diasuh oleh bu Lastri pun ikut dalam pengajian itu dan juga warga komplek tempat Alika tinggal pun iku memenuhi ruang tamu dan juga teras rumah itu
Acara berlangsung dengan khidmat dipimpin oleh ustadz Yusuf ,ia adalah ustadz yang tinggal di komplek itu.
Alika mendekap tubuh putrinya Anaya dengan air mata yang sudah tumpah ruah membasahi pipinya, tak pernah terbayangkan olehnya kalau putri tercintanya akan terlahir tanpa cinta kasih dari papa kandungnya
Membayangkan dirinya dulu yang sempat hidup di jalanan sewaktu kecil saat ibunya yang depresi meninggalkannya begitu saja di dalam pasar yang penuh sesak oleh ramainya orang berbelanja, sedangkan ayahnya dia tak ingat sedikitpun
Yang dia ingat hanya ibunya yang depresi sering berlaku buruk padanya lalu berakhir dengan ditinggalnya dia di pasar
Masih diingatnya dengan jelas saat dirinya tak makan selama dua hari lalu ditemukan oleh seorang pemulung dan diantarkan ke panti asuhan dimana bu Lastri yang mengelolanya, ia diperlakukan dengan sangat baik bahkan punya banyak teman disana
Tapi hati orang siapa yang bisa mengatur nyatanya dia pun membayangkan bisa dipeluk dengan penuh kasih oleh orang tua kandungnya tapi angan hanya tinggal angan
Kini keinginannya hanya satu ingin membahagiakan Anaya Humaira putrinya dengan kasih sayang tak terbatas
Pengajian usai, anak anak panti pun sudah dibawa pulang oleh pak hasim yang biasa di tugaskan membawa anak anak saat ada acara di luar panti.
"ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua," ucap Alika lirih tapi masih mampu didengar oleh bu Lastri, Mala dan Dani yang tengah sibuk membereskan bekas makanan di atas tikar
Alika lalu duduk di tikar tak jauh dari tempat mereka bertiga,
"kenapa Wi....ada apa" Mala mendekati raga Alika begitu juga Dani dan bu Lastri
__ADS_1
"aku ingin pindah dari sini...."
"kenapa Wi.... kenapa harus pindah, apa karena Galang?" Mala mengucap sedikit keras di ucapkan terakhirnya
"kenapa harus pindah.... atau kalau tidak kamu dan Anaya tinggal bareng kita aja Wi, aku tidak keberatan jika kamu tinggal dengan aku dan mas Dani "
"mal gak baik ada wanita lain di dalam rumah tangga kalian," ucap Alika
"kamu itu Wi kayak siapa aja... gak akan terjadi apa apa di rumah ku, suamiku juga gak mungkin macem macem sama kamu " ucap mala sungguh sungguh
"mal...aku percaya sama kamu dan Dani, tapi tetap mal itu gak baik dan gak pantas....aku ingin pergi jauh dari kota ini,aku ingin tenang bersama Anaya tanpa diganggu oleh mas Galang"
"lalu kamu mau pergi kemana... cuma kami keluarga mu,"
"aku sudah mendapatkan tempatnya mal, cuma yang aku pikirkan sekarang tentang rumah ini.... bagaimana dengan rumah ini, rumah ini dibangun kak teguh dengan jerih payahnya selama bertahun tahun.... rasanya aku berat meninggalkan rumah ini apalagi kalau harus menjualnya rasanya mustahil aku lakukan " ucap Alika sendu
Setelah beberapa lama akhirnya mereka bertiga menyetujui untuk alika pergi dari kota itu
###########
"kak maaf aku harus meninggalkan mu sendiri di sini, esok aku akan pergi dari kota ini... dimana pun aku berada aku tak akan pernah lupa untuk selalu mendoakan mu kak, karena ku tau doa ku lah yang lebih kamu butuhkan di sana.... aku sangat mencintaimu kak,aku begitu kehilangan mu kak.... kenapa secepat ini kamu meninggalkan aku, rasanya aku ingin tidur agar apa yang ku lalui kini hanya mimpi... " Alika larut dalam tangis di samping pusara sang suami, sebelah tangannya meremas kuat nisan yang bertuliskan nama teguh disana
hari ini pertama kalinya Alika mendatangi makam teguh setelah melahirkan, karena ia dilarang ke makam karena masih masa nifas lalu disusul dengan haids setelah nifas, setelah benar benar bersih ia baru berani mengunjungi makam sang suami
lama Alika tergugu di sana,ia tumpahkan seluruh duka dan kebahagiaan setelah ada Anaya disisinya.samar ia mendengar langkah kaki yang terdengar dihentak hentakkan,ia tak menghiraukan mungkin seseorang yang ingin berziarah pula ke salah satu makam yang ada di sana pikirnya
Sesaat setelahnya
"mbak.... bangun kamu" teriak seorang wanita di samping Alika, seketika Alika pun menoleh ke sumber suara tersebut
__ADS_1
"Gi....."
Dengan brutal Giany menarik sebelah tangan Alika agar Alika berdiri, sontak Alika pun berdiri karena tarikan kuat dari Giany
Plaaakkk
Alika terhuyung ke belakang saat mendapat tamparan keras dari Giany, kupingnya rasanya berdenging begitu keras
"bodoh kamu mbak menjaga orang yang kamu sayangi aja gak bisa...." murka Giany
"apa apaan kamu Gi...."
"lihat karena kebodohanmu gak bisa ngejaga kak Teguh sekarang dia sudah tidak ada, andai kamu pintar menjaga pola makan dan hidup sehat mungkin kak Teguh sekarang masih hidup "
"kamu yang bodoh Gi.... jodoh, umur dan maut itu sudah ketetapan Allah, kalau memang sudah waktunya meninggal siapapun gak akan bisa mengelak "
"gak usah ceramah mbak.... memang kamu gak becus jaga suami,suami pertama mu poligami dan sekarang kak Teguh meninggal di usia yang masih muda.... kalau tau kamu gak bisa jaga kak Teguh waktu itu aku pasti ngotot buat ngrebut kak Teguh dari kamu...gara gara kamu kak Teguh meninggal, kamu bodoh mbak " maki Giany
"pergi kamu dari sini Gi.... entah setan dari mana yang merasuki mu.... PERGI "
"gak.... yang harusnya pergi itu kamu, aku yang sudah setiap hari kesini ngunjungin kak Teguh, tapi kamu.... bahkan sudah lewat empat puluh hari kematian kak teguh kamu baru datang ke sini, istri macam apa itu "
Pikiran Alika pun melayang mengingat saat ia datang tadi nampak bunga bunga yang bertaburan di atas pusara suaminya seperti bunga yang baru layu kemarin,
Seketika lamunan Alika buyar saat giany berkata keras
"nunggu apa lagi mbak cepat pergi.... kamu gak pantes ada di makam kak Teguh "
"mbak mbak jangan buat keributan di sini....ini makam bukan pasar" seorang lelaki datang menengahi Giany dan alika
__ADS_1